4. MENUMBUHKAN EMPATI DIRI

Terbaru448 Dilihat

Di era teknologi semuanya berbasis IT. Bahkan untuk pesan makan siang menggunakan teknologi IT. Hal yang tidak pernah terjadi  di abad XIX. Seperti mimpi di siang hari. Sungguh tidak terelakkan lagi, ketika kini semuanya berbasis IT.

“Assalamualaikum”, tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah belakang.

“Waalaikum salam”, spontan aku menjawab salam itu sementara mata masih menatap lekat di layar laptop mengerjakan tugas rutin sehari-hari sebagai seorang guru. Tidak biasanya ada yang salam dari arah belakang. Aneh.

Seorang yang tidak asing lewat dari arah belakang. Oh, ternyata ibu pimpinan sedang berjalan dari arah pintu belakang menuju pintu depan. Tumben, lewat disebelahku. Tidak biasanya, batinku. Untung tadi aku menjawabnya. Kalau tidak, bisa dicurigai macam-macam.

Sudah menjadi kebiasaanku, jika aku datang masuk dari pintu samping menuju tempat dudukku di ruang guru. Langkah pertama menuju ruang guru aku selalu memberi salam. Yang menjawab salamku bisa dihitung dengan jari. Banyak yang cuek seolah-olah tidak mendengar ada yang memberi salam. Masa sih, sebagai muslim mendengar salam tidak menjawab.

Sebagai seorang muslim wajib hukumnya menjawab ketika ada yang memberi salam. Tahu nggak sih, hukumnya orang yang menjawab salam? Wajib . api itulah tradisi yang terjadi selama ini. Ada yang share di HP, dicuekin. Padahal info penting tentang kedinasan.

Mengubah perilaku cuek menjadi perilaku yang memiliki empati, menjadi salah satu tujuan Ibu pimpinan. Bagaimana guru mendidik siswa-siswinya menjadi pribadi yang berkarakter bagus jika gurunya berkarakter cuek? Tidak perduli dan tidak memiliki empati.

Teringat kembali memori masa silam, ketika aku menjadi bahan omongan sebagai guru cuek. Oh, ternyata ini maksudnya. Cuek artinya tidak peduli dan tidak memiliki empati. Banyak yang mengatakan bahwa aku orangnya cuek. Kupikir, aku senang dibilang cuek. Itu artinya aku bukan orang yang ambisi dengan jabatan. Tidak main keroyokan dan tidak suka mengambil jatah orang. Apalagi sampai merebut.

Saling sikut, saling menjatuhkan. Aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa kata-kata yang kesannya memberi sanjungan ternyata menjatuhkan. Cuek, diartikan sebagai orang yang tidak memiliki empati, tidak peduli. Padahal arti empati dan cuek kan jelas berbeda.

“ Kamu tuh dikenal cuek “, kata bu Pipin padaku. “ Kamu tuh ndak ambisi seperti orang-orang itu”

“ Oh ya?”, aku menimpali dengan penuh antusias. Sedikit ada rasa bangga aku dibilang tidak ambisi. Tidak pernah terpikir bahwa tidak punya ambisi bisa dibelokkan menjadi tidak peduli.

“ Ketika pertama kali kesini, kesanku ke kamu , cuek. Dan memang, setelah mengenalmu, kamu memang cuek dan tidak seperti mereka yang penuh ambisi”, kata Bu Pipin

 

Oalah, kalau dibilang cuek saja mungkin aku merasa bangga. Karena memang aku tidak suka main keroyokan tentang jabatan. Apalagi sampai menjatuhkan demi sebuah jabatan. Menurutku, jabatan itu amanah yang harus dipegang dan dijunjung tinggi. Jabatan itu hanya diberikan kepada orang yang menjadi pilihan. Orang – orang terpilih memegang amanah. Tapi mengapa jabatan itu dipegang sampai bertahun-tahun lamanya. Bahkan ketika sudah pensiun pun mereka masih ingin memegang amanah itu. Mereka senang dengan jabatan itu. Ada apanya sih? Bukankah kalau diberi amanah menjadi bendahara, bukan uang mereka. Lalu apa yang mereka cari?

 

Budaya saling sapa memang harus ditumbuhkan disini. Budaya rukun dan guyub harus dimunculkan. Memang yunior harus  hormat terhadap senior namun bukan berarti senior bisa seenaknya sendiri. Menjawab salam, wajib hukumnya bagi seorang muslim. Jangan karena merasa senior terus tidak mau menjawab salam dari yunior

 

Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” ( QS Al Isra:24 )

 

Demikianlah dikatakan bahwa orang yang menyombongkan diri adalah orang yang berbuat kerusakan di muka bumi. Tentu orang-orang ini adalah orang-orang yang merugi.Seperti yang dikatakan dalam firman berikut:

 

Atau siapakah yang dapat memberimu rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya? Bahkan mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran).

 

Bagaimana mau mendidik siswa memiliki karakter yang baik, jika gurunya tidak berkenan menjawab salam ketika mendengar salam? Menjawab salam menunjukkan kepedulian manusia terhadap sesamanya. Menjawab salam, mendoakan sesama manusia untuk selalu selamat dan sejahtera.

Salah satu cara menumbuhkan budaya memberi salam adalah dengan membiasakan menjawab salam. Seorang guru harus memiliki empati terhadap hal ini. Menumbuhkan budaya empati dimulai dari diri kita. Jika guru ingin siswa-siswinya memiliki empati terhadap sesama, gurunya harus memiliki empati. Dimulai dari pembiasaan menjawab salam, hingga akhirnya memberi salam. Jangan pernah berharap siswa kita memiliki karakter yang baik, jika gurunya memiliki karakter yang tidak baik. Dimulai dari hal yang kecil, menjawab salam.

Rupanya, Ibu pimpinan ingin mengetahui, seperti apa karakter yang ada di sini. Berjalan melewati pintu belakang, memberi salam. Jika menjawab salam, berarti orangnya memiliki empati. Mudah sekali kan, bagaimana mengetahui karakter seseorang, memiliki empati atau tidak. Memiliki kepedulian terhadap situasi sekitarnya atau tidak.

Memang harus dimulai dari rasa peduli. Bagaimana kita mau menumbuhkan kepedulian pada siswa jika kita sendiri tidak memiliki rasa peduli. Bagaimana kita menumbuhkan sikap santun kepada siswa jika kita sendiri tidak santun kepada teman sejawat. Tidak menjawab salam yang diucapkan menunjukkan bahwa dirinya tidak santun kepada teman sejawat. Meskipun hanya lewat wa.

Lalu bagaimana cara menumbuhkan santun di dalam diri siswa? Diawali dari diri kita, berusaha untuk santun kepada teman sejawat. Jangan suka merendahkan teman sejawat, dan mengatakan bahwa teman kita tidak mampu. Jangan suka memberi julukan yang kurang bagus, misalnya dengan mengatakan bahwa si A tidak mampu mengemban amanah. Bocor halus. Kurang amanah dan sebagainya. Belum tentu juga kita dapat mengemban amanah yang dipercayakan kepada kita.

Berilah contoh pada siswa melalui teladan yang kita berikan. Untuk menumbuhkan rasa empati dan peduli, jawablah salam yang diberikan siswa meski hanya melalui wa. Berilah ucapan terima kasih jika siswa berperilaku yang positif. Misalnya siswa mengambilkan buku yang jatuh, ucapkanlah terima kasih. Siswa mengingatkan ada soal yang tidak memiliki jawaban, ucapkanlah terima kasih. Siswa berusaha menjawab soal yang kita berikan, ucapkanlah terima kasih.

 

Menumbuhkan empati siswa bisa dimulai dari gurunya. Guru menumbuhkan empati diri sendiri. Menjawab pesan yang masuk di wa, juga menunjukkan karakter yang baik. Siapapun yang wa kepada kita, apakah dari teman sejawat, siswa atau bahkan dari pimpinan. Jangan pernah membedakan , wa akan dijawab jika yang kirim adalah pimpinan. Namun tidak dijawab jika yang wa lebih yunior dari kita.  Toh tidak selamanya jabatan itu melekat. Ada saatnya kita menjadi imam, ada saatnya kita menjadi makmum.

“ Bu Sri, saya belum terima kasih “, celetuk bu Hom sambil tersenyum

“Oke. Dimana etikanya, ya? “, candaku sambil senyum lepas.” Kutunggu ucapan terima kasihnya, ya”

Bu Hom tertawa dan berkata,” Terima kasih Bu Sriiiii”

Aku tertawa terbahak melihat gaya lucu Bu Hom ketika mengucapkan terima kasih.

Hal yang sepele sih, namun dari hal-hal yang kecil akan menjadi pembiasaan untuk sesuatu yang besar.

Apa yang kita lakukan setelah memberi sesuatu pada balita yang baru belajar bicara? Tentu kita yang mengucapkan terima kasih. Lalu diikutinya. Dengan mengambil contoh kecil ini, kita dapat mengambil banyak pelajaran. Siswa akan melakukan pembiasaan dengan melihat guru yang menjadi teladan. Siswa melihat, mengamati dan kemudian mengikuti. Guru memberi teladan dan melakukan. Jika hal ini terjadi secara terus menerus, bukan tidak mungkin membangun karakter siswa kearah yang lebih baik sangat mudah dilakukan. Jangankan empati, peduli, sopan santun atau karakter apapun yang ingin dibangun oleh guru. Mulailah dari pembiasaan guru.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan