Sebatang Singkong

Terbaru586 Dilihat

Sebatang Singkong (4)

Suharto. MTsN 5 Jakarta

Penyintas GBS

Ada seorang santri bernama Ali, dia mempunyai kecintaan kepada gurunya melebehi santri yang lain, dia rajin dan gemar berbagi kepada siapa saja, ketika dia pergi ke kebun dia melihat pohon-pohon singkongnya sudah saatnya dipanen. Dia cabut pohon singkong tersebut dan didapati singkongnya besar-besar.

“Alhamdulillah, besar sekali singkongnya,” kata hatinya.

Dia pun teringat gurunya.

“Aku kasih guruku saja singkongnya besar dan bagus,” kata hatinya lagi.

Berangkatlah si Ali ke rumah gurunya dengan membawa singkong. Di tengah perjalanan berpapasan dengan Hasan.

“Ali mau kemana kamu bawa singkong?” Tanya Hasan.

“Mau ke rumah pak guru,” jawab Ali.

Alipun terus berjalan meninggalkan Hasan.

Tidak berapa lama Ali sampai ke rumah gurunya.

“Assalamualaikum,” ucap Ali.

“Waalaikumussalam,” jawab guru.

“Ada apa Ali kamu datang ke rumahku? Tanya guru.

“Tadi saya ke kebon singkong ketika saya cabut singkongnya besar dan bagus lalu saya ingat pak guru jadi saya ke sini saja,” jawab Ali.

“Ibu ada si Ali tolong ambilkan air,” pinta guru kepada istri.

Istri guru membawakan air untuk Ali.

“Ibu itu ada singkong hasil panen Ali, tolong bawa ke dalam,” pinta guru.

Setelah lama mengobrol Alipun berpamitan pulang.

“Nanti dulu Ali tunggu sebentar,” pinta guru.

“Tolong berikan sesuatu untuk Ali,” kata guru.

“Bapak kita tidak punya apa-apa, kecuali seekor kambing,” jawab istri.

“Bawa ke sini berikan ke si Ali agar dia pelihara di rumahnya,” kata guru.

“Ali ini kambing buat kamu, semoga berkembang biak dengan baik,” kata guru kepada Ali.

“Terima kasih pak guru,” jawab Ali .

Alipun bergegas pulang membawa seekor kambing pemberian gurunya. Ketika di pertengahan jalan berpapasan lagi dengan Hasan.

“Ali tunggu dulu, dari mana kambing ini?” Tanya Hasan penuh penasaran.

“Dikasih pak guru,” jawab Ali.

“Ooooooh…. begiiiiiitu….” Kata Hasan sambil berpikir.

Ali terus meninggalkan Hasan sementara Hasan masih terdiam berdiri sambil melihat Ali dan kambingnya. Terlintas dalam pikirannya.

“Si Ali bawa singkong saja dapat kambing, jika aku bawa yang lebih dari singkong, maka aku pasti dapat lebih dari kambing,” kata Hasan dalam hatinya. Hasan berbelok arah menuju pasar lalu membeli buah durian yang paling bagus.

Berangkatlah Hasan menuju rumah guru.

“Assalamualaikum,” sapa Hasan.

“Waalaikumussalam,” jawab guru.

“Eeeeh Hasan, silahkan duduk. Ada apa ni datang ke rumah bapak,” Sapa guru.

“Ini pak guru, tadi saya pergi ke pasar lihat durian besar dan wangi, saya ingat pak guru jadi saya beli untuk pak guru,” jawab Hasan.

“Oh, terima kasih Hasan,” timpal guru.

Setelah ngobrol sedikit banyak Hasan ingin pamitan dan sudah tidak sabaran mendapatkan hadiah dari gurunya.

“pasti guru memberikan yang besar, singkong saja dibalas seekor kambing apalagi durian pasti dibalas yang lebih besar mungkin sapi atau kerbau,” kata hatinya menghayal.

“Pak guru saya mau pamitan,” kata Hasan.

“Nanti dulu, duduk dulu ya….” Pinta guru.

“Ibu Hasan mau pulang,” panggil guru kepada istri.

Istri guru sudah paham, maka dia langsung ambilkan singkong untuk oleh-oleh Hasan. Sementara Hasan sudah tidak sabaran dalam hatinya.

“sapi…kerbau….sapi…kerbau… Sapi…kerkoooooong….” Kata hati dan sekita itu diam bagai sapi ompong melongo dan mulut terbuka.

“Ini pak kita hanya punya singkong ini,” kata istri.

“Hasan ini buat kamu silahkan dibawa pulang,” ucap guru sambil memberikan singkong.

“Iya pak guru,” jawab Hasan dengan nada rendah dan merunduk kemudian dia pergi meninggalkan gurunya.

Hatinya kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dia bayangkan sebelumnya.

Kisah di atas tentang menanamkan sifat memberi tanpa mengharap imbalan, bisa kita jadikan pelajaran dalam berselancar mengarungi samudera kehidupan ini.

Ikhlas merupakan amalan hati yang tidak mengharapkan imbalan sesuatu, kecuali hanya mengharapkan ridho Allah SWT. Ikhlas itu mudah diucapkan, tetapi sulit untuk melakukannya perlu perjuangan keras untuk menaklukkan gempuran bisikan-bisikan negatif dari dalam diri yang selalu mengganggu.

Contoh, ketika kita ingin memberikan sesuatu di mana sesuatu itu sangat berharga atau sesuatu yang kita sayangi, rasanya berat sekali untuk melepaskannya. Itulah belenggu yang harus kita taklukkan. Rasa takut memberi itu harus kita taklukkan, jika kita tidak mampu menaklukkan, maka kitalah yang ditaklukkannya.

Mungkin kita pernah melihat salah satu film karya Dedi Mizwar judul” Kiamat Sudah Dekat” yang saya dapat tangkap dari film itu bagaimana seorang pemuda berusaha untuk memenuhi persyaratan meminang putri pak haji dengan satu syarat ikhlas. Pemuda sudah berusaha untuk mencarinya, tetapi tidak pernah ketemu, namun pada akhirnya diapun pasrah dengan tulus melepaskan kekasihnya. Justru saat kepasrahan itulah sebenarnya dia menemukan ikhlas yang sebenarnya hingga diterima menjadi menantu pak Haji. Ikhlas itu ada dalam hati bukan dikata atau menempel pada plang musholla atau masjid.

Ketika ikhlas itu hilang, maka yang hadir kecewa. Kecewa itu hadir ketika kita mengharap kepada makhluk lebih besar daripada mengharap kepada Tuhan.

Tanamkan pada diri untuk selalu belajar ikhlas dalam melakukan segala hal, maka hidup kita penuh dengan ketenangan.

Firman Tuhan.

“Katakanlah (Muhammad): ”Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).” (Q.S.al-An‘am: 162–163)

Demikian, ikhlas akan menghanntarkan kepuasan hati dan kebahagian, tanpanya sulit untuk mencapainya. Maka itu tanamkan nilai-nilai keikhlasan pada setiap pekerjaan tanpa harus menunggu pujian yang datang. Bekerja saja yang menjadi tanggung jawab kita, kelak orang lain akan menilai apa yang kita perbuat. Ikhlas bukan pada kata atau perbuatan, tetapi ada pada hati. Maka jangan tertipu oleh kata dan perbuatan seseorang  karena kebanyakan tertipu oleh kata dan perbuatan.

Tinggalkan Balasan

1 komentar