Lebih Baik Menangis Menahan Rindu untuk Sementara Waktu

Terbaru848 Dilihat

Lebih Baik Menangis Menahan Rindu untuk Sementara Waktu

“Wahai anak muda, jika engkau tidak sanggup menahan lelahnya belajar, engkau harus menanggung pahitnya kebodohan.”

Kulangkahkan kaki dengan pasti di iringi sang mentari satukan tekad demi sang pelangi, dengan balutan kasih sayang yang murni serta sebuah cita mulia untuk bisa berikan mahkota terindah untuk ayah bundaku kelak. Inilah keinginanku cita-citaku selepas aku lulus dari sekolah dasar aku bercita-cita untuk masuk ke sebuah pesantren. Ayah bunda tak pernah memaksaku, mereka selalu memberikan kebebasan terhadapku dalam menentukan dimana aku harus sekolah. Mereka hanya memberikan gambaran bagaimana jika sekolah di negeri dan sekolah di pesantren. Semua ada kekurangan dan kelebihannya. Bundaku mengatakan bahwa jika belajar di pesantren maka kita akan dapat ilmu dunia dan juga ilmu akhirat. Aku snagat tertarik dengan pesantren.

Pendaftaran di laksanakan sebelum ada pengumuman kelulusan bagi kelas enam Sekolah Dasar. Aku ikuti seleksi masuk pesantren jauh-jauh sebelumnya sebelum pendaftaran sekolah negeri di buka pendaftaran pesantren sudah mulai di buka. Bismilahirrahmanirahiim, dengan tekad semangat untuk cita-citaku akupun ikuti seleksi tersebut. Alhamdulilah akupun lolos seleksi dan di terima di sekolah berbasis pesantren di kotaku.

“ Bund terimakasih atas doanya, aku di terima di sekolah itu”, kataku pada bunda.

“Iya nak sama-sama, alhamdulilah haapanmu bisa masuk di sekolah itu terkabul, mulai besok kau akan jauh dari bunda, dan akan belajar mengurusi semua kebutuhanmu sendiri”, jawab bunda sambil kulihat mata bunda berkaca-kaca.

Tiba saatnya hari dimana aku berangkat pergi ke asrama, segala persiapan sudah rapikan dengan baik. Apa saja keperluanku di asrama aku persiapkan bersama bunda, dia selalu sabar dan berikan bekal nasihat tanpa henti. Aku tau bunda masih belum tega melepasku, namun mengingat keinginanku yang begitu kuat maka bunda pun mengiklaskan kepergianku tuk mencari ilmu.

Bersyukur sekali aku memiliki bunda yang selalu sabar dan pengertian terhadapku. Aku yang tomboi manja  kini kan belajar untuk melepas semua hal yang selama ini aku rasakan. Sebelumnya apapun kebutuhanku selalu bunda yang siapkan. Kini mulai saat ini aku harus bertanggung jawab semua atas diriku. Aku harus bisa mengurus diriku sendiri.

Hari pertama aku sampai di asrama dengan di antar Ayah Bunda dan juga adikku. Barang-barang bawaan bunda antar sampai ke kamar asramaku yang disana sudah tertera namaku. Satu dipan lemari kecil tertulis siap dikamar itu. Ada sepuluh dipan dengan model atas bawah tertata rapi disana. Akupun dengan di bantu bunda membereskan barang-barang bawaanku dengan memasukkan ke dalam lemari kecil dan juga aku rapikan tempat tidurku.

Waktu berjalan begitu cepat hingga jam menunjukkan pukul 16.00 WIB dan tiba saatya ayah bunda untuk kembali pulang. Hatiku terasa berat untuk melepas mereka. Senja itu aku berlinang air mata, satu sisi aku bahagia bisa masuk sekolah ini namun di sisi lain aku berat untuk jauh bersama keluargaku. Peluk hangat ayah bunda, kecup mesra mereka, lambaian tangan mereka menjadi saksi untukku meraih mimpi. Ayah Bunda iklaskan semua mohon doa restu kalian. Biarlah sementara aku menangis karena rindu dari pada kelak aku menangis tak tau bagaimana aku harus berbakti ada kalian.

Hari-hari terasa lama aku kangen dengan ayah bunda dan adikku di rumah. Ingin aku menangis dan memeluk bundaku. Aku yang terbiasa melakukan apapun dibantu oleh bundaku kini aku harus melakukannya sendiri. Di sini aku juga harus bisa bergantian dengan teman lain dalam menggunakan kamar mandi, setlika dan juga mesin cuci. Aku tak bisa melakukn hal-hal sesuai keinginanku. Semuanya terbatas dan diatur dengan baik. Saat makan pun aku harus menggunakan peralatan sendiri dan membersihkannya sendiri.

“Bund, aku kangen,” kataku dalam hati. Berharap hari segera berlalu dan jadwal kunjungan orang tua segera tiba. Aku ingin curahkan semuanya ke Ayah Bunda.

Tiba-tiba temanku datang menyapa dan membuyarkan lamunanku bertemu dangan Ayah Bunda.

“Hei, Naf. Kok sendiri disini? Sudah itu sekarang gilirankmu mandi! Sapa Aida teman yang aku kenal pertama saat datang ke asrama ini.

“I iiya, aah mengagetkan saja, Da.”  Aku melihatnya sudah ada tepat didepanku.

“Jangn melamun ga baik lhu, entar ditemeni setan,” katanya menasehatiku.

“Iya, Da. Aku hanya kangen sama Bunda, aku ingin pulang dan bertemu mereka.

“Heiii, sabar donk, Naf,” nasehatnya lagi. Memang Aidalah satu-satunya teman baruku yang selalu mengerti aku. Aku bisa curahkan apapun yang aku rasakan dan kata-katanya selalu membuatku nyaman dan tenang. Bersyukur aku bisa mengenalnya.

Tak terasa hari berganti minggu dan bulan banyak tantangan yang aku hadapi saat awal-awal di asrama. Tujuh belas anak yang tergabung dalam satu kamar membuat aku harus pandai-pandai untuk bisa menjaga diri dan sikap. Banyak hal yang tak aku sukai dari teman-temanku. Aku harus bisa memahami sikap keenam belas temanku yang lain. Walau tak jarang terkadang hatiku berontak. Dengan nasehat dari temanku dan juga musrifah yang mengampu di kamarku akupun bisa lalui semua dan menjadi lebih baik untuk bisa memahami pribadi orang lain.

#KarenaMenulisAkuAda

#Day11KMAAYPTDChallenge

Gunungkidul, 31 Agustus 2021

Tinggalkan Balasan