Fir’aun dikenal sebagai raja yang kejam dan sering berbuat keji. Itu dulu, jamannya telah lama berlalu. Kini kekejian Fir’aun muncul lagi pada bangsa Yahudi. Bangsa keturunan Israel ini layaknya bukan manusia. Hal itu nampak pada aksi bom brutalnya. Memborbardir Palestina sejak 7 Oktober 2023. Kekejiannya hari ini kian menggila. Baginya, nyawa anak manusia sekan tak ada artinya.
Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, serangan udara di Jalur Gaza kembali menewaskan puluhan warga Palestina. Peristiwa keji yang terjadi sejak Minggu, 30 Juni 2025 itu telah menewaskan sedikitnya 68 orang. Sebanyak 47 korban jiwa Gaza City dan wilayah utara Gaza, termasuk 5 orang yang tewas saat menggapai pusat distribusi bantuan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF).
Hingga awal Juli 2025, sedikitnya 56.647 warga Palestina meninggal dunia akibat genosida Israel di Jalur Gaza. Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, dokter Marwan al-Sultan, juga tewas dalam serangan udara Israel. Dalam insiden itu, istri
dan beberapa anaknya juga tewas. Rabu (2-7-2025).
Genosida Atas Kaum Muslim
Genosida yang terjadi di Gaza dan Palestina. Dunia melihat ini sebagai adalah masalah kemanusiaan. Namun umat Islam seharusnya tak memandang demikian. Aksi brutal dan pengusiran dari tanah kelahiran itu lebih sebagai pembersihan warga muslim di Palestina. Kaum Zionis itu berbuat keji dengan membunuh warga sipil dan anak-anak. Sikap pengecut bangsa itu membuat mereka tak lagi menjadikan kamp-kamp militer sebagai sasaran. Mereka lebih suka membunuhi anak-anak, perempuan, orang tua, nakes , jurnalis, dan para relawan.
Aneka kutukan atau kecaman dunia tak digubris. Meski semuanya penjuru dunia menghujat, kaum Zion itu tetap geming. Mereka bahkan rela mendapat predikat teroris dan penjahat perang.
Zionis Yahudi tak sendirian dalam aksinya. Di belakang mereka ada AS yang siap membela dan melindungi aksi kejinya. Hal itu nampak dalam pemungutan suara yang digelar pada Rabu (4-6-2025), AS memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB. Berupa seruan damai di Jalur Gaza dan dibukanya akses bantuan kemanusiaan di wilayah bangsa korban genosida yang terisolir tersebut.
Penguasa negeri muslim bahkan terus bergandengan tangan dengan kaum penjajah itu. Seakan hilang rasa malu saat mereka menjaga jarak dan perbatasan. Untuk siapa sikap ini mereka? Semua demi menjamin kepentingannya bersama AS.
Nasionalisme lebih mereka kedepankan. Paham nasionalisme telah menggantikan posisi ikatan akidah Islam di antara penguasa muslim. Sementara Palestina kian tak berdaya. Mereka berjuang sendirian, rakyatnya mati karena bom dan kelaparan. Terisolasi, tanpa bantuan tentara militer dari negeri-negeri Islam. Predikat umat islam sebagai umat terbaik tercerabut kuat akibat sekat nasionalisme.
Persoalan Umat Islam Dunia
Persoalan Palestina sesungguhnya merupakan persoalan seluruh kaum muslimin sedunia. Melalaikan Palestina sama halnya melalaikan tugas dalam menjaga kesucian Al-Aqsa. Rasulullah bersabda, “Perumpamaan kaum muslim dalam urusan kasih sayang dan tolong-menolong bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, menjalarlah penderitaan itu ke seluruh badan hingga tidak dapat tidur dan (merasa) panas.” (HR Bukhari Muslim)
Berharap solusi yang lahir dari PBB sebagai solusi atas Palestina, hanya menunda masalah. Hal itu karena negara Kapitalis yang mendominasi haluan PBB menghendaki keberhasilan Israel. Karenanya masalah Palestina harus terselesaikan di tangan kaum muslim sendiri. Harus!
Kaum muslim harus bersatu dalam satu kepemimpinan yang akan menggerakkan tentara militer untuk menyerukan jihad. Hanya dengan jalan ini Palestina bisa kembali ke pangkuan kekuasaan Islam. Aktivitas ini hanya bisa dilakukan oleh seorang khalifah dalam institusi negara Khilafah. Bukan dengan resolusi PBB, bukan pula bersandar para penguasa dari nation state. Mereka hanya mampu mengecam, berdiplomasi sambil basa basi.
Umat harus memahami persoalan Palestina bukan sekadar urusan kemanusiaan dan krisis kelaparan. Lebih dari itu, ini adalah urusan kaum muslim dan terpecah belahnya umat di bawah bendera nation state yang dibuat oleh penjajah Barat.
Palestina memerlukan pengiriman bala militer untuk mengusir penjajah Israel. Karena bangsa tanpa perikemanusiaan tersebut hanya bisa ditundukkan dengan bahasa perang melalui jihad fi sabilillah. Dibutuhkan Institusi ideologis untuk urusan ini, yaitu negara khilafah.
B e r s a m b u n g











