
Siang yang tak bersahabat. Terik mentari membuat udara di ruang guru itu terasa panas. Gerakan baling-baling dari kipas angin yang terpasang pada plafon, tak memadai untuk menetralkan suhu di siang itu. Panasnya udara terasa menambah galau dalam benak.
Kegalauan yang datang bersama informasi dari pimpinan sekolah tadi pagi, bahwa aku harus ikut seleksi. Seleksi buat guru pengajar Bilingual. Pemilihan ini merupakan bagian dari proyek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengembangkan RSBI, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, kala itu.
Tak ringan bagiku untuk mengikuti seleksi ini. Bukanlah materi seleksinya yang kurasakan berat, namun efek dari keterlibatanku dalam proyek ini. Sebab bila ternyata berhasil tersaring, bakal berlanjut dengan kegiatan diklat. Workshop, istilah kerennya. Pelatihan yang tak biasa, sebab perlu waktu tiga pekan. Itu artinya, harus kutinggalkan ragilku. Bocah yang usianya baru genap dua tahun itu. Padahal sebelumnya bocah mungil itu tak pernah berpisah denganku meski hanya beberapa hari.
Sebuah dilema yang tak mudah untuk kupecahkan. Aku merasa berada pada pilihan yang sulit. Hati rasanya ingin menolak perintah ini. Toh pengembangan diri termasuk mubah, buka wajib. Namun, alasan apa yang pantas kukemukakan kepada pimpinan? Alasan repot, karena anak masih kecil? Sungguh ini merupakan alasan yang tak layak dengan tuntutan dedikasiku. Lagi pula, faktor usiaku merupakan realita yang kontradiktif dengan penolakanku. Dengan usia 37 tahun, aku termasuk guru Biologi termuda di sekolah ini. Sementara dalam seleksi ini, memang diprioritaskan guru muda, setidaknya 40 tahun. Lengkap sudah, ketakberdayaanku untuk menghindar dari tugas ini. Sungguh, sebuah dilema!
***
Senja telah berlalu. Mentari mulai tenang di peraduannya. Kututup jendela kamar yang mengalirkan semilir angin. Malam itu kubuka masalahku di hadapan suami. Aku ingin tahu, bagaimana pandangannya tentang tugas yang kudapat dari sekolah. Terbersit harapan agar suami tak mengizinkan aku. Setidaknya ini bakal bisa aku jadikan alasan untuk mundur. Alasan kesehatan suami, yang berat untuk merawat anak-anak dalam kondisi yang belum seberapa sehat. Ya, suami belum sembuh total dari Limfoma, kanker getah bening. Penyakit yang kami terima vonisnya dua tahun sebelumnya. Tepatnya bulan Mei 2005.
“Jadi…. gimana, Abi?”
“Apanya yang gimana?” Suami balik bertanya.
“Undangan tes ini lho!”
“Ya udah ikuti saja … Toh ini baru seleksi,” sahutnya dalam santai. “Masyaallah… suamiku! Dengan santainya dia memandang masalah yang rumit ini,” pikirku.
“Lha nanti kalau aku lolos, gimana? Kalau kutinggal diklat, Faqih gimana, siapa yang yang momong?”
“Ya aku-lah! Aku kan ayahnya,” sahutnya seakan tanpa beban. .
Sosok suamiku memang orangnya ringan tangan. Dia terbiasa untuk hendle beberapa tugasku, di sela-sela waktu senggangnya. Memasak atau membersihkan rumah biasa dia lakukan untuk meringankan tugasku. Suami lebih suka membantu tugas-tugas itu ketimbang menyuruh orang lain. Pendampingku itu tak suka mengambil pembantu. Dia menyadari bahwa kerjaku sebagai guru juga buat menyokong tanggung jawabnya berkait nafkah bagi keluarga.
“Lagian, Umi pasti gak lolos,” lanjutnya.
“Abi yakin?”
“Iya. Pasalnya, Umi gak bisa komputer. Apalagi internet. Sudah …, ikuti saja! Kalau Umi menolak, malah tak tepat. Itu namanya tak loyal pada tugas lembaga.” Ayah dari anak-anakku itu terus memberikan motivasi.
“Berarti, Umi fix ikut tes, ya? Abi ridha, kan?”
“Ikuti saja! Paling yang bakal lolos Pak Eksan, bukan Umi.”
Lega rasanya di hati. Plong! Satu sisi, aku tak menolak tugas dari sekolah. Sisi yang lain, aku memiliki peluang yang besar untuk gagal dalam seleksi. Sebuah kegagalan yang begitu kuinginkan.
“Iya, deh kalo gitu. Umi ngikut Abi!”
Bulat sudah. Aku ikut seleksi dengan asumsi tak lolos. Lebih yakin lagi, karena keikutsertaan ini sudah dapat restu dari suami.
Bersambung






