YPTD 1 Tahun, Quo Vadiz?

Terbaru313 Dilihat

Bulan Agustus setara dengan bulan diproklamirkan kemerdekaan Republik Iindoneia. Bedanya, proklamasi kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tahun 1945, sedang Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) diresmikan tahun 2020. Tahun 2020 adalah tahun yang berat, akibat terjadinya pandemi virus Corona atau lebih dikenal sebagai Covid-19. Guna mencegah meluasnya penularan Cdovid-19, diterapkan PSBB yang menyeet perekonomian Indonesia dan negara-negara lain ke jurang resesi. Kenapa pak Thamrin Dahlan tetap yakin ide “gila”nya untuk menerbitkan buku secara gratis dapat dijalankan? Sudah kepalang basah, ide dan persiapan matang sudah dijalaninya, tinggal peluncuran program ini yang harus diketok. Meski masih ada pandemi, visi mulia untuk memberikan mahkota kepada penulis harus tetap dilaksanakan. Maka dengan mengundang beberapa orang penulis, pak Thamrin Dahlan nekad meluncurkan YPTD di sebuah rumah makan. Undangan disebarkan terbatas, guna mematuhi protokol kesehatan. Ternyata ide pak Thamrin Dahlan disambut dengan penuh antusias oleh banyak penulis dan komunitas.

Idenya sungguh menarik dan fenomenal. Setiap penulis yang sudah memilki naskah tulisan untuk dapat dibukukan, akan diterbitkan secara gratis. Bahkan nomor ISBN dan cover buku serta pencetakannya sudah disiapkan semua oleh YPTD. Ini benar-enar nyata dan bukan candaan semata? Pak Thamrin Dahlan bukan badut, dia seorang yang serius dan tidak main-main-main.Ketika saya menghubungi beliau, pak Thamrin Dahlan hanya meminta saya mengirimkan naskah tulisan minimum 150 halaman. Setelah saya kirimkan melalui surat elektronik, pak Thamrin kemudian minta saya melengkapi dengan judul, kata pengantar, daftar isi dan sinopsis Setelah saya lengkapi semua, pak Thamrin Dahlan minta saya menyiapkan cover buku. Tanya beliau, mau desain sendiri atau didesainkan? Bila mau didesainkan, kirimkan sinopsis pada pak Ajinajallah. Saya sungguh kagum pada kinerja pak Ajinajallah yang cepat dan desain covernya sangat berkualitas. Segera desain cover buku hasil karya pak Ajinajallah saya kirimkan ke YPTD, dan langsung pak Thamrin Dahlan menguruskan no. ISBN. Dan tidak ada satu bulan saya sudah menerima satu buku hasil terbitan YPTD. Ini bukan sulap bukan sihir. Benar-benar satu buku dengan cover buku berkualitas berhasil saya terima dalam waktu sedemikian cepat dan tanpa biaya sesenpun.

Padahal dulu, saat saya menulis buku-buku komputer pada tahun 1980-1990an pada sebuah penerbit mayor, saya harus bolak balik untuk melakukan serangkaian revisi. Bedanya, kalau dulu prosesanya lama, kalau dengan YPTD prosesnya cepat. YPTD hanya mencetak 4 buku, dua buku dihibahkan ke Perpustakaan Nasional, sebuah buku dikirimkan ke saya dansatu buku disimpan YPTD sebagai arsip. Lalu bila saya mau memasarkan buku ini bagaimana? Pak Thamrin memberikan solusi, diberikan referensi percetakan rekanannya yang siap mencetak berapapun jumlah buku yang saya tentukan, atau saya boleh mencari percetakan sendiri. Solusi lainnya, boleh buka PO (Pre Order) agar tahu jumlah peminat buku atau berani mencetak sejumlah buku sesuai keyakinan berapa buku yang mampu terjual. Buku bisa dipasarkan melalui situs tokobuku YPTD atau silakan memasarkan sendiri. Karena saya sudah memiliki sejumlah tulisan yang dapat dibukukan, akhirnya dalam satu bulan saya berhasil menerbitkan dua buku berkat jasa baik YPTD.

Dalam rangka satu tahun YPTD, saya sempat merenung, apakah visi YPTD untuk menerbitkan buku secara gratis ini sudah tepat? Mau dibawa kemana YPTD? Quo vadiz YPTD? Dari pengalaman saya, sebuah buku akan disebut berbobot bila banyak dibaca orang. Baik buku dibagikan secara gratis, dibeli maupun dibaca di perpustakaan. Extreemnya, bila seorang dosen belum pernah membaca buku terbitan YPTD, apakah dosen ini akan mereferensikan mahasiswa atau mahasiswinya untuk membaca buku terbitan YPTD? Ya kalau buku yang dihibahkan di Perpustakaan Nasional sempat dibaca orang. Bila tidak, usaha muli YPTD akan sia-sia. Karena buku-buku terbitan YPTD hanya akan memenuhi atau menumpuk di Perpustakaan Nasional tanpa manfaat.

Saya coba berandai-andai, agar pada tahun kedua usianya, YPTD mengubah visinya dari kuantitas ke kualitas. Caranya setiap naskah buku harus dikurasi dan disunting. Bila perlu YPTD tidak menerbitkan buku yang setelah dikurasi tidak layak diterbitkan. Lalu YPTD mencetak lebih banyak, tidak hanya 4 buku, melainkan 50 buku. Buku yang benar-benar berkualitas pasti akan dicetak ulang karena laku dipasaran. Ini hukum pasar. Bila keterbacaan meningkat tentu buku yang diterbitkan akan lebih bermanfaat. Semoga YPTD bisa melahirkan Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis dan Hamka baru, makin berkualitas sebuah buku, akan makin sering dicetak ulang.

Nama YPTD juga akan makin berkibar sebagai penerbit berkelas. Dan penulis juga akan ikut bangga bila bukunya dicetak oleh YPTD. Jangan sering ada olol-olok, mau yerbitkan buku ke YPTD saja, sunguh menyakitkan.

Satu tahun sudah berlalu

Buku ditangan sudah pasti

Sungguh bangga bila buku bermutu

Cita-cita mulia YPTD bernilai

Tangerang Selatan, 14 Agustus 2021

@sutiono

 

 

Tinggalkan Balasan