Duka Lara Seorang Wanita Pengidap HIV/AIDS di Karawang

Edukasi745 Dilihat

“Wah, mungkin jantung saya sudah copot kalau saya lemah jantung,” kata Cici (bukan nama sebenarnya), mengenang ketika dia dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS.  Cici, 21 tahun, warga sebuah desa di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Namanya termasuk sebagai salah satu dari tiga wanita penghibur asal Jabar yang dipulangkan dari Kepulauan Riau, seperti dari Batam dan Tanjungpinang, ke kampung asalnya, seperti yang terbaca di berita-berita media cetak dan siaran televisi swasta nasional.

Begitu Cici sampai di kampung halamannya pada Oktober 1993 orang-orang pun menghindarinya. Tak sedikit pula yang mencibir dan melihatnya seperti makhluk asing. Keadaannya kian menyedihkan karena petugas dari berbagai instansi, mulai dari tingkat desa sampai provinsi pun mendatanginya dan wartawan silih berganti datang ke desa itu.

Makanya, ketika “Mutiara” bertandang ke rumahnya pekan lalu (minggu ketiga Mei 1994-pen.), dia pun sedikit marah. “Saya mau tau siapa, sih, yang membikin ini,” katanya seraya memperlihatkan berita yang dimuat sebuah harian terkemuka Ibu Kota. Waktu pemberitaan sedang ramai-ramainya ia sendiri masih di Tanjungpinang, ia kecewa terhadap berita-berita itu.

“Tahu sendirilah apa yang saya kerjakan di sana,” katanya sambil mengedip-ngedipkan matanya yang mulai memerah.

Memang, dalam berita tentang dia disebutkan bahwa rumahnya di desa itu dibangun berkat kiriman uangnya dari Riau dengan menyebut pekerjaannya. Di gang itu memang cuma rumahnya yang berlantai semen dan memiliki televisi hitam putih 14 inci dan sebuah radio serta satu compo yang semuanya dihidupkan dengan aki.

Anak Meninggal

Kesedihannya kian memuncak karena ketika sampai di kampungnya ia tidak lagi bisa berjumpa dengan anaknya karena anaknya meninggal ketika ia masih di Tanjungpinang. Dan, orang-orang sekampung pun memilih untuk tidak berdekatan dengannya. Tapi, belakangan berkat penyuluhan yang dilakukan oleh aparat desa mereka telah dapat menerima A. Mereka tidak lagi takut-takut menonton televisi di rumahnya, atau memakan dan meminum suguhannya.

Tetangganya pun dengan ramah akan menunjukkan rumahnya kalau mereka ditanya. “Masuk aja, Pak,” kata seorang ibu di depan rumahnya ketika “Mutiara” bertandang ke sana. Ketika itu Cici sedang tidak di rumah, lalu disusul oleh kakeknya.

“Oo, mau ke rumah Cici,” kata seorang lelaki yang sedang duduk berselonjor sambil mendengarkan dongeng dari radio di depan rumahnya di mulut gang menuju rumah A.

“Dalam berbagai kesempatan kami selalu menyelipkan masalah HIV,” kata Sukarsana, sekretaris Desa Mekarpohaci, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang, Jabar, kepada “Mutiara”. Berkat penyuluhan itu masyarakat tahu betul seluk-beluk HIV/AIDS sehingga mereka tidak lagi memusuhi Cici. Inilah yang menghibur Am.

“Saya ‘kan sehat-sehat saja,” ujarnya. Dalam hal ini ada perbedaan persepsi yang serius. Bagi orang awam, sakit berarti jatuh sakit (semacam demam) dan dirawat di rumah sakit. Sedangkan orang yang tertular virus HIV atau mengisap AIDS tidak harus tergeletak di tempat tidur atau diopname di rumah sakit.

Diawasi

Kabarnya, berbagai pihak terus-menerus mengamati tindak-tanduk Cici. “Ah, nggak ada, saya bebas ke mana-mana,” kata wanita yang hanya sempat mengecap bangku kelas 2 SD ini. Sekitar 5 km dari rumahnya memang ada lokalisasi pelacuran. Kalau memang penyakit itu ada, ia mengatakan sudah nasib, dan ia berjanji akan menjaga diri agar tidak tertular kepada orang lain. Kalau penduduk sudah mengetahui seluk-beluk HIV/AIDS tentulah tidak perlu mengucilkan atau memusuhi Cici, karena semuanya terpulang kepada orang lain.

Padahal, salah satu alasan mengapa ia mau diajak oleh seorang wanita dari Cibodas, Cikampung, Kab Karawang, ke Tanjungpinang adalah mencari uang untuk menghidupi anaknya. Ketika itu suaminya meninggalkannya dan ia mengaku sangat bingung. Ia tinggal bersama ibunya, juga seorang janda, kakek dan neneknya (neneknya buta). Karena tawaran wanita itu menggiurkan, yang menyebutkan ia akan dipekerjakan di restoran dengan upah Rp 400.000/bulan, ia pun mengaku sangat tertarik.

Cici pun berangkat bersama sembilan rekaannya, semuanya dari Kab Karawang, ke Tanjungpinang dengan KM Lawit dari Tanjung Priok.

“Malam pertama menerima tamu saya nangis habis-habisan,” katanya sambil mengenang pengalaman pertamanya. Rupanya, di sana mereka dijadikan pekerja seks komersial (PSK), bukan bekerja sebagai pelayan di restoran seperti yang dijanjikan wanita dari Cibodas itu.

Ia tidak bisa menolak lelaki yang disodorkan kepada karena sebelum berangkat wanita tadi, yang kemudian menjadi germonya di Tanjungpinang, memberikan uang Rp 50.000 kepada ibunya sebagai biaya perawatan anaknya yang ketika itu berumur 18 bulan. Itu berupa pinjaman yang bunganya akan berbunga pula.

Mereka ditempatkan di sebuah lokalisasi yang dihuni ratusan PSK di Batu 16. Beberapa bulan kemudian mereka dipindahkan ke Batu 24. Cici ditempatkan di rumah nomor 17 bersama 12 PSK lain.

“Kami tidak bisa ke mana-mana, semuanya diawasi dan kompleks itu dijaga ketat,” ujar Cici menggambarkan kehidupannya di rantau itu. Agaknya, di rumah itu ia menjadi primadonanya. Setiap malam ia selalu dipesan dan dibawa ke hotel untuk bermalam dengan laki-laki hidung belang, yang umumnya warga negara Singapura.

Masa Kelabu

Salah seorang dari langganannya itu kemudian menaruh hati kepadanya. Pria China warga negara Singapura itu pun memacarinya dan menebusnya dari germo dengan imbalan Rp 1 juta. Cici kemudian diboyong lelaki lajang berumur 60 tahun itu ke rumah nomor 14 di Batu 16.

Di sinilah berawal masa kelabu baginya pada bulan September 1993. Suatu hari petugas kesehatan, mantri, (mereka memanggilnya “Pak Dokter”) yang biasa bertugas di lokalisasi itu mengumpulkan penghuni rumah 14. “Di rumah ini ada yang sakit,” tanya “Pak Dokter”, seperti ditirukan Cici. Memang, beberapa minggu sebelumnya darah mereka diambil untuk diperiksa.

Semuanya diam dan saling berpandangan. Tiba-tiba beberapa orang buka suara dan menuding Cici yang sakit. “Dia, Pak, dia ‘kan yang sering ke hotel,” kata mereka. Tampaknya, mereka sudah mengetahui sakit yang dimaksudkan petugas kesehatan tadi karena berkaitan dengan pemeriksaan darah dan kaitannya tentu saja dengan lelaki asing.

Memang, rata-rata tamu Cici berasal dari Singapura, dan pernah juga lelaki bule. Menurut pengakuan Cici ia selalu meminta teman kencannya memakai kondom, walaupun ada juga yang menolak. Menghadapi hal ini Cici tidak bisa berbuat banyak dan terpaksa mengikuti selera teman kencannya. “Vonis” Pak Dokter pun jatuh kepada Cici dan ia kemudian disekap di pos keamanan lokalisasi itu.

“Ah, ‘Pak Dokter’ itu dendam kepada saya,” kata Cici. Rupanya, Cici selalu menolak ajakan petugas kesehatan itu untuk bermalam dengannya. Ia bukannya tidak mau duit, tapi menurut pengakuannya ia menghargai jabatan “Pak Dokter” karena ia sendiri hanya seorang PSK. Lagi pula, masih menurut Cici, petugas kesehatan itu sudah beristri dua.

Dipulangkan

Dua minggu lamanya ia disekap di positu sebelum diantar ke kapal KM Lawit dengan tujuan Tanjung Priok oleh seorang hansip yang biasa menjaga lokalisasi itu.

“Suami saya, sih, tidak percaya,” kata Cici tentang pemeriksaan di Tanjungpinang itu yang menyebutkan bahwa ia sudah terinfeksi HIV. Suami yang dimaksudkan Cici adalah lelaki yang menebusnya itu yang katanya sudah menikahinya di rumahnya Lebaran yang lalu. “Ah, cuma sebagai gendak saja,” kata seorang staf desa tentang perkawinan yang disebut Cici.

Ketika dipulangkan Cici menerima uang Rp 500.000 dari germonya dan Rp 300.000 dari pacarnya. Uang yang dari germonya ini merupakan pinjaman yang harus dikembalikannya jika ia kelak beroperasi kembali di Tanjungpinang.

“Kalau dihitung-hitung penghasilan saya sudah cukup besar,” katanya. Cuma, semua uang dipegang oleh germo dan setiap bulan mereka hanya ditunjukkan catatan tentang pendapatan dan pengeluaran. Untuk makan mereka dikenakan biaya Rp 50.000 dan kamar Rp 300.000 per bulan. Belum lagi potongan untuk pembelian baju dan kosmetika. Tarif Cici ketika itu sekitar Rp 120.000/malam.

“Saya hanya percaya kalau darah saya diperiksa di Cipto (maksudnya RSCM Jakarta-Red.),” katanya berulang-ulang kepada “Mutiara”. Darahnya sendiri diambil di Puskesmas Tempuran beberapa hari setelah ia tiba di rumahnya Oktober 1993. Kabarnya, di Puskesmas itu pun ia menolak ketika hendak diambil darahnya karena ia hanya mau diperiksa di Cipto.

Tapi, karena petugas yang mengambil darahnya itu bahwa ia juga dari Cipto barulah Cici mau memberikan darahnya untuk diperiksa. Kalau saja petugas yang akan mengambil darahnya itu sedikit lebih arif dan bijaksana tentulah keinginan Cici dipenuhi agar ia mau menerima hasilnya kelak.

Cuma, sampai sekarang ia tidak menerima hasil pemeriksaan itu. Menurut staf desa pemberitahuan tentang hasil pemeriksaan itu memang tidak diberikan kepadanya, tapi cukup ke kantor desa saja.  Menurut pengakuannya ia tidak pernah lagi diperiksa setelah darahnya diambil di Puskesmas Tempuran. Selain itu ia sangat yakin bahwa ia sehat sehingga tidak perlu berobat.

Kini, Cici tinggal bersama kakek dan neneknya. “Tiap bulan suami saya ngirim Rp 300.000,” kata Cici tentang biaya hidupnya. Uang itu dikirimkan melalui bank dan diambil di Karawang. Jika hubungannya putus dengan suaminya itu barulah ia memulai hidup baru. “Ya, cari suami lagi,” katanya dengan nada yakin (M/Syaiful W. Harahap – Dimuat di Tabloid “Mutiara” Edisi No 709, Minggu IV, Mei 1994). *

Tinggalkan Balasan