Setelah melewati pintu “Double Gate” di Istiglaliyyat Street kami melangkah masuk ke kawasan dalam tembok yang disebut sebagai Icheriseher atau Kota Tua Baku.
Sebuah dunia yang lain. Dunia yang berasal dari ratusan tahun yang lalu. Jalan-jalan yang sempit, rumah dan bangunan tua. Yang sama antara kota tua dengan bangunan di Istiqlaliyyat Street adalah warnanya yang coklat muda alias krem. Seakan-akan semua bangunan di kota Baku memiliki warna yang seragam.
Kami berjalan santai sepanjang tembok kota tua. Tujuan pertama adalah Sirvansyah Saray atau Istana Sirvansah. Untuk menuju ke sana tinggal, mengikuti petunjuk wisata yang banyak bertebaran di seantero kota tua.
Yang pertama menyambut adalah sepasang patung maskot sejenis kuda atau keledai yang bernama Inje dan Jasur. Ternyata ini sepasang patung hewan yang dicat dengan warna yang sangat cantik dan menarik ini adalah maskot untuk Islamic Solidarity Games ke IV yang diadakan di Baku pada Mei 2017 lalu.
Kami berjalan terus dan akhirnya sampai di Sirvansha Palace yang merupakan peninggalan dinasti Sirvanshah yang berkuasa di Azerbaijan dan dibangun pada abad ke 15. Sebuah masjid, mausoleum dan juga hamam ada di kompleks istana yang masih menyisakan sisa-sia kejayaan dari masa lampau.
Sehabis mengagumi keindahan istana, kami terus berjalan di jalan-jalan sempit di Kota Tua. Ternyata ada sebuah patung dada dengan ukuran raksasa. Pada prasasti ditulis nama Aliaga Wahid (1894-1965), yang merupakan seorang penyair Azerbaijan yang cukup terkenal. Ternyata Wahid merupakan nama julukannya yang berarti unik sementara nama aslinya asalah Aliaga Mamadoglu Iskandarov.
Perjalanan di Kota Tua juga sangat menyenangkan dimana kami sempat mampir ke sebuah masjid Tua yang ternyata dulunya merupakan tempat ibadah penganut Zoroaster. Tidak jauh dari masjid ini ada banyak penjual suvenir khas Azerbaijan seperti peci yang indah dan banyak hiasan dengan harga 5 Manat. Selain itu juga ada guci, teko dan pernak-pernik khas bagaikan dari negeri 1001 malam atau Irak dan Persia.
Namun yang menarik adalah banyak juga karpet yang dijual dengan beragam corak gambar dan hiasan. Ada yang bergambar peta Azerbaijan. Tetapi ada juga yang bergambar wajah Lenin. Ternyata era Soviet belum begitu saja bisa dilupakan di Republik di Kaukasus ini.
Perjalanan di Kota Tua diakhiri dengan mampir ke Maiden Tower yang merupakan salah satu peninggalan yang sangat bersejarah di Kota Tua Baku. Menara ini sendiri memiliki banyak legenda dan misteri tentang asal-usulnya, walau pun dipercaya bahwa menara yang sekarang merupakan bangunan yang didirikan pada sekitar abad ke 12, namun bangunan asli diduga merupakan kuil api kaum Zoroaster yang berasal dari masa-masa sebelumnya.
Hari sudah menjelang senja ketika kami mengakhiri kunjungan di Icheriseher, sempat mampir di sebuah kafe dan menikmati minuman hangat. Lalu kembali ke stasiun Metro lewat sebuah pintu yang tidak jauh dari Maiden Tower ini.
Baku, November 2017









