Berbagi Jalan

Ramadan, Terbaru, YPTD34 Dilihat

Berbagi Jalan

Berbagi acapkali diasosiasikan dengan makanan, minuman, dan sederet hal-hal material lainnya. Dalam bulan suci Ramadhan seperti saat ini, kita cukup mudah menemui banyak orang dermawan yang membagikan makanan dan minuman dalam bentuk takjil atau acara buka bersama. Kita pun bersyukur, betapa masih banyak orang-orang pemurah di negeri ini.

Ketika dahulu saya masih kuliah dan tidak memiliki cukup uang untuk membeli makan, saya merasa terselamatkan oleh kedermawanan orang-orang pemurah di ibu kota Jawa Tengah, yang sering berbagi dalam acara buka bersama di masjid. Momen tersebut menjadi anak tangga kejiwaan saya hingga kini.

Setiap menjalani Ramadhan, kenangan itu selalu hadir kembali. Saya merasa terselamatkan oleh kesadaran berbagi dari orang-orang yang tak pernah saya kenal. Mereka tidak mengenal saya, dan saya pun tak mengenal mereka. Saya hanya bisa menitipkan doa pada angin malam untuk mereka, agar kebaikan itu dibalas berlipat oleh Dia Yang Maha Bijaksana.

Namun, apakah hanya orang berpunya yang dapat berbagi kepada sesama? Apakah orang-orang papa dan tak berpunya tak kuasa berbagi? Jika kita yang tak berpunya ingin berbagi, apa yang bisa kita bagikan?

Menjalani beberapa kali Ramadhan di ibu kota membuat saya memperhatikan hal-hal khusus yang terjadi di jalanan selama bulan suci ini: meningkatnya semangat ngebut dan saling serobot di jalan raya, terutama menjelang waktu maghrib.

Dalam perjalanan pulang kerja pada Ramadhan tahun lalu, setidaknya tiga hingga lima kali saya melihat orang terjatuh dari sepeda motornya. Kejadian seperti ini hampir tidak pernah saya lihat pada bulan-bulan lainnya.

Kita mungkin berkata: nasib, takdir, atau apes. Namun agaknya—dan semoga saya keliru—hal itu terjadi karena hampir semua orang berpacu dengan waktu agar segera sampai ke rumah dan berbuka bersama keluarga. Bukankah maghrib menjadi saat yang paling dinanti selama bulan suci ini?

Keinginan itu membuat banyak orang ingin mendahulukan dirinya saat berkendara di jalan raya. Tak peduli bagaimana dengan orang lain yang juga memiliki tujuan yang sama.

Maka berbagi yang bisa kita jalankan dalam konteks bulan suci ini, khususnya bagi mereka yang berkendara menjelang waktu berbuka, adalah berbagi jalan.

Tak perlu memaksa menyerobot jalan orang lain. Alangkah anehnya jika kita kehilangan kesabaran pada detik-detik terakhir menjelang berbuka, padahal seharian kita telah belajar menahan diri sepenuh hati.

Bukankah salah satu tujuan dari madrasah ruhaniah bernama puasa adalah agar kita memiliki semangat berbagi kepada sesama makhluk? Agar kita memiliki kesadaran akan kehadiran orang lain dalam hidup kita.

Sungguh ironis jika kita tekun berlapar dan berdahaga dalam puasa, namun tak mau berbagi sekadar untuk memberi jalan kepada orang lain—padahal jalan itu pun bukan kita yang membangunnya dengan tangan kita sendiri (meskipun mungkin kita turut menyumbang lewat pajak kepada negara).

Seorang cendekiawan tanah air pernah berujar, salah satu ciri orang beriman adalah mereka tertib di jalan raya.

Seorang teman pernah bercerita bahwa di sebuah negara muslim di Timur Tengah, tingkat kecelakaan lalu lintas pada bulan suci—terutama menjelang waktu berbuka—justru meningkat. Hal ini membuat kita bertanya: adakah korelasi antara puasa dan pengendalian diri dalam kehidupan bersama?

Adakah bekas nilai-nilai puasa dalam keseharian kita? Adakah spirit berbagi di jalan raya?

Seorang teman lainnya yang baru pulang dari Tokyo bercerita tentang ketertiban orang-orang di sana saat dilanda kemacetan. Tidak ada saling serobot jalan sebagaimana yang sering kita saksikan di sini.

Sependek yang saya tahu, banyak orang Jepang yang tidak “beragama”, setidaknya demikian informasi yang saya dapat dari interaksi dengan mereka. Shinto bukan keyakinan yang diwajibkan. Hanya sebagian yang meyakininya. Bagi banyak orang di sana, “agama” mereka adalah kerja.

Maka saya pun bertanya pada diri sendiri: mengapa “agama bumi” mampu memicu umatnya untuk memiliki kesadaran berbagi sedemikian tinggi, sementara lingkungan sekitar saya justru berbicara hal lain dalam konteks berbagi di jalan raya?

Apakah ada ketidaktepatan dalam memaknai ajaran suci ini? Ataukah kita terlalu meremehkan hal-hal kecil yang sebenarnya berdampak besar bagi kenyamanan hidup bersama?

Dan mengapa puasa yang dijalani secara kolosal di negeri ini belum mampu sepenuhnya menerbitkan kesadaran berbagi?

Saya tak juga menemukan jawabannya.

Namun saya teringat kata-kata seorang teman Jepang yang pernah berkata, Indonesia seharusnya dapat lebih baik dan lebih maju dari Jepang.

Ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh.

Saya sempat bingung. Ketika saya tanyakan alasannya, ia menjawab, “Karena kalian orang Indonesia memiliki Tuhan, sedangkan kami tidak.”

Saya terdiam. Saya merasa sangat tertohok oleh pernyataan itu.

Dengan lirih saya teringat judul sebuah fiksi karya Leo Tolstoy: “Tuhan tahu, tetapi Dia menunggu.”

Mungkin Dia menunggu kesadaran berbagi itu lahir dari setiap diri kita. Sebab Dia telah memberikan sarana untuk menumbuhkan kesadaran tersebut.

Maka sejauh mana puasa kali ini mampu menerbitkan kesadaran berbagi di antara kita?

Rachman – Wellmina

Tinggalkan Balasan