GARUDA, RINDU, DAN PERSATUAN
Lima bulan lamanya rakyat Indonesia tidak menyaksikan laga PSSI. Kerinduan itu akhirnya pecah ketika Garuda kembali bertanding. Sebuah momen yang bukan sekadar olahraga, melainkan hiburan kolektif yang merasuk ke seluruh lapisan masyarakat. Garuda Di Dada Ku
Menonton pertandingan—baik secara langsung di stadion maupun melalui layar televisi—menjadi agenda penting yang seolah tak boleh terlewatkan. Ada getaran emosi yang sama, dari kota hingga pelosok desa. Sepak bola telah menjelma menjadi bahasa universal rakyat Indonesia.
Pergi ke sawah menanam padi
Padi menguning tanda berisi
Garuda terbang tinggi sekali
Persatuan tumbuh di dada negeri
Tulisan ini tidak hendak membahas skor atau hasil dua laga terakhir. Lebih dari itu, ada sisi humaniora yang menarik untuk dicatat: perubahan sikap suporter di Stadion Gelora Bung Karno.
Usai pertandingan, mereka tetap setia berdiri, menyanyikan lagu “Tanah Airku” karya Ibu Sud. Di sanalah rasa haru menyeruak—hening yang penuh makna, cinta yang tulus kepada negeri.
Tanah Airku, tidak kulupakan,
Kan terkenang, selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh,
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanahku yang kucintai
Engkau, kuhargai
Walaupun banyak negeri kujalani,
Yang mahsyur permai dikata orang,
Tetapi kampung dan rumahku,
Di sanalah ku merasa senang
Tanahku tak kulupakan,
Engkau kubanggakan.

Inikah bentuk kecintaan terhadap sepak bola? Ya. Lebih dari sekadar permainan, sepak bola adalah denyut nadi rakyat. Di seluruh penjuru nusantara, selalu ada lapangan bola—sederhana atau megah. Hampir tak ada lelaki Indonesia yang tidak pernah menendang si kulit bundar, walau hanya sekali dalam hidupnya.
Burung nuri hinggap di dahan
Terbang jauh ke seberang sana
Sepak bola bukan sekadar hiburan
Ia pemersatu bangsa Indonesia
Sepak bola menjadi “nyawa ketiga” rakyat Indonesia. Di sanalah persatuan nasional menemukan panggungnya. Ketika Garuda bertanding melawan bangsa lain, sekat-sekat klub lenyap seketika. Tak ada lagi Persib, Persebaya, atau Persija—semuanya melebur dalam satu semangat: Indonesia. Garuda Di Dada Ku

Secara pribadi, awak adalah penggemar sepak bola sejati. Di usia senja, cinta itu tak pernah pudar—hanya berubah peran, dari pemain menjadi penonton setia. Rasa bahagia membuncah ketika Garuda menang. Dan sebaliknya, kesedihan pun terasa dalam ketika hasil tak berpihak.
Harapan pun terus dipanjatkan. Piala Dunia 2026 memang belum menjadi milik kita. Namun mimpi tak boleh padam. Siapa tahu, pada Piala Dunia FIFA 2030 nanti, Merah Putih berkibar di panggung dunia. Anak-anak pribumi tak kalah dalam keterampilan. Kini, dengan perpaduan pemain lokal dan naturalisasi, asa itu semakin nyata. Garuda Di Dada Ku
Salam literasi
TD, 31 Maret 2026













