Komunikasi Berdasarkan Fiqh Islam

Terbaru14 Dilihat
 

KOMISI Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI menyayangkan perdebatan antara Permadi Arya alias Abu Janda dengan narasumber lain disertai caci maki dan penggunaan kata-kata kotor pada televisi nasional.

Berita diatas menggambarkan bagaimana kualitas komunikasi terjadi ruang publik.  Tetap berprasangka baik namun peristiwa di debat televisi seperti diberitakan viral di media sosia membuat kita semakin trenyuh.

Bisa jadi bersebab hal tersebut Para Pakar Komunikasi ber -silaturahmi ke Pak Jusuf Kalla. Selain itu bisa jadi komunikasi Istana dan Publik tampaknya kurang lancar. Hal ini menyebabkan  beberapa Program Pemerintah tidak sampai atau disampaikan kurang informatf ke masyarakat sehingga terjadi kesalah pahaman.

JAKARTA – Sejumlah komunikolog merapat ke kediaman Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan, Sabtu (14/3/2026) sore. Kedatangan mereka untuk bersilaturahmi dengan JK. Pantauan di lapangan, sejumlah pakar komunikasi yang merapat ada Effendi Gazali , Suko Widodo, Emrus Sihombing, hingga Lely Arrianie. Mereka datang satu per satu sejak pukul 16.00 WIB.

Semoga tulisan tenytang Pola Komunikasi Islam bisa mengingatkan kita lagi.  Bagaimana etika berkomnikasi terbaik nan  santun dan saling menghormati didasari Akhlakul Karimah.

Akhlakul karimah adalah tingkah laku mulia (terpuji) yang tertanam dalam jiwa manusia, ditentukan berdasarkan ajaran Allah SWT dan rasul-Nya, mencakup hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan. Ini mencerminkan budi pekerti luhur (moral/etika) yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti kejujuran, kesabaran, serta sopan santun

Komunikasi Berdasarkan Fiqh Islam:

Menjaga Lisan, Merawat Persaudaraan

Dr. H.M. Tata Taufik ini.

Di negara-negara muslim, pondasi epitemologi dan etis pelaksanaan praktik media masih berakar pada ideologi dan filosofi Barat. Praktik dan prosesnya berdasarkan pada niali jual dan mekanisme pasar .

Meskipun menurut Islam, komunikasi hendaknya dalam rangka mewujudkan keadilan, kejujuran, kesederhanan, keberanian, kedamaian, etos kerja, amanah,kritis (prinsip tawashau bilhaq dan taqashau bis as-sabr), amar ma’ruf  dan nahi munkar . Dengan demikian, media masa Islam harus mewujudkan transfer of  knowledge untuk terciptanya kebijaksanaan dan kesejahteraan masyarakat.

Sumber Figh Islam

Dalam Islam Komunikasi adalah tabligh, yang merupakan konsep dakwah sebagi aktifitas penyampaian pesan0pesan Allah SWT. dan Rasullullah SAW. yang disampaikan dengan hikmah (bijaksana dan filosofis), mauizhah hasanah  (nasihat yang baik), mujadalah ahsan (diskusi yang baik), ya’muruna bil ma’ruf wayanhawna’anil mungkar (mengajak kepada kebajikan dan melarang berbuat kemunkaran). qula li an-nasi husna ( berbicara kepada manusia dengan cara yang baik), qaulan sadidian (berbicara dengan tegas).

Komunikasi dalam perspektif fiqh Islam bukan sekadar menyampaikan pesan, melainkan bagian dari ibadah yang mencerminkan akhlak seorang Muslim. Setiap kata yang terucap akan dipertanggungjawabkan, sehingga prinsip utama komunikasi adalah berlandaskan akhlak mulia, kejujuran (ṣiddiq), serta kemaslahatan.

Islam mengajarkan agar lisan dijaga dari fitnah, ghibah, dan perkataan sia-sia. Sebaliknya, setiap ucapan hendaknya menjadi jembatan kebaikan yang mempererat ukhuwah, menjaga kehormatan sesama, serta menghadirkan ketenangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qaulan sadida).”
(QS. Al-Ahzab: 70)

Ayat ini menegaskan bahwa kejujuran dalam berbicara adalah fondasi utama komunikasi. Kebenaran bukan hanya pada isi, tetapi juga pada niat dan cara penyampaiannya.

Prinsip Komunikasi Qur’ani

Al-Qur’an memberikan pedoman yang sangat indah tentang bagaimana seharusnya manusia berkomunikasi:

1. Qaulan Sadida (Perkataan Benar dan Jujur)
Ucapan harus didasarkan pada fakta, bebas dari dusta dan hoaks. Kejujuran adalah cahaya yang menerangi hati dan pikiran.

2. Qaulan Baligha (Perkataan Efektif dan Tepat Sasaran)
Bahasa yang digunakan hendaknya jelas, ringkas, dan mudah dipahami. Tidak bertele-tele, namun tetap menyentuh makna.

3. Qaulan Layyina (Perkataan Lemah Lembut)
Bahkan kepada pihak yang berbeda, Islam mengajarkan kelembutan. Allah memerintahkan Nabi Musa berbicara lembut kepada Fir’aun (QS. Thaha: 44).

4. Qaulan Ma’rufa (Perkataan Baik dan Pantas)
Ucapan harus sesuai norma, sopan, dan tidak menyakiti hati orang lain.

5. Qaulan Karima (Perkataan Mulia)
Terutama kepada orang tua, Allah berfirman:

“Maka janganlah engkau mengatakan ‘ah’ kepada keduanya dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
(QS. Al-Isra: 23)

6. Qaulan Maysura (Perkataan yang Menyenangkan dan Mudah Diterima)
Bahasa yang ringan, menenangkan, serta tidak memojokkan akan lebih mudah diterima dan membawa kedamaian.

Adab Komunikasi dalam Sunnah

Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat jelas dalam menjaga lisan. Beliau bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi kompas moral: tidak semua yang benar harus diucapkan, tetapi semua yang diucapkan harus benar dan baik.

Islam juga melarang keras ghibah dan fitnah:

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain…”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Selain itu, prinsip tabayyun menjadi benteng dari penyebaran informasi yang salah:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Komunikasi di Era Modern

Di era media sosial, adab komunikasi semakin relevan. Tulisan, komentar, dan unggahan adalah cerminan diri. Seorang Muslim dituntut menjaga martabatnya, tidak menyebar kebencian, serta menghindari kemudaratan digital.

Komunikasi bukan lagi hanya lisan, tetapi juga jejak digital yang abadi. Maka berhati-hatilah, sebab jari-jemari pun akan dimintai pertanggungjawaban.

Penutup: Menjaga Lisan, Menjaga Iman

Lisan adalah cermin iman. Ia bisa menjadi jalan menuju surga atau sebaliknya. Maka bijaklah dalam berkata, atau memilih diam ketika kata tak membawa manfaat.

Menulis

Pergi ke ladang memetik kapas,
Singgah sebentar di tepi telaga.
Lisan dijaga penuh ikhlas,
Agar selamat dunia akhirat kita.

Angin Ramadan berhembus tenang,
Membawa pesan penuh hikmah.
Berkata baik sepanjang zaman,
Itulah jalan menuju berkah.

Semoga di penghujung Ramadan ini, kita semakin mampu menjaga lisan, menata kata, dan menjadikan komunikasi sebagai ladang amal shalih.

Salam Literasi.

  • Ramadan 1447 H – Hari ke-28
    BHP, 18 Maret 2026
    Thamrin Dahlan YPTD

 

Tinggalkan Balasan