Parcel An Nissa

Cerpen, Ramadhan, YPTD554 Dilihat

Parcel An Nisa

Cerpen Thamrin Dahlan

” Pa,  mana hadiah lebaran untuk kita ”

An Nissa bertanya kepada ayahnya yang baru  saja pulang dari kantor.  Setelah terkejut sejenak mendengar curahan hati  anaknya, Adrial mengusap kepala Annisa.

” wah, lebaran kan masih seminggu lagi Nissa, nanti juga ada yang mengantar parcel kerumah kita”

Keluarga Adrial tinggal di pemukiman padat.  Pemukiman itu bersebelahan dengan perumahan elit yang hanya berbatas tembok.  Namun tembok tinggi dan kuat itu jebol juga di  gerus banjir. Pagar jebol itu menjadi jalan penghubung antara perumahan padat dengan cluster mewah.

An Nissa tadi pagi dan juga beberapa hari lalu menyaksikan di rumah mewah itu ada mobil bak berhenti.  Sopir menurunkan beberapa parcel.  Ini hadiah lebaran kiriman untuk tuan rumah yang bekerja sebagai seorang pejabat penting di salah satu kementerian.

Mungkin sudah puluhan parcel berbentuk kemasan indah dan besar di antar kerumah pejabat.  Ada hadiah lebaran minuman dan makanan kaleng.  Ada juga parcel yang dibungkus cantik berisikan piring dan peralatan makan lainnya.  Ada pula parcel berisikan buah impor yang sangat besar dililit pita warna warni.

An Nissa putri Adrial satu satunya berusia 7 tahun.  Mereka sudah 3 tahun bermukim di kediaman padat di ujung ibukota. Hafidzhoh ibu An Nissa tertunduk dan terharu menyaksikan kesabaran suaminya ketika menjawab pertanyaan tentang parcel.  Istri penghapal Al Qur’an ini tahu benar posisi suaminya di kantor. Adrial seorang pegawai kecil dengan gaji pas pasan.  Siapa pula yang mau  mengrim parcel kerumah mereka.

Tak lama bedug di kampong berdentum. Keluarga kecil ini bersegera membatalkan puasa.  Ada hidangan sederhana di meja.  Kolak dan sirop disediakan Hafidzoh sebagai menu buka puasa hari  itu.   Betapa bahagia dan nikmatnya mencicipi juada setelah seharian menahan lapar.  Tahun ini An Nissa sudah kuat puasa setelah setahun lalu belajar menahan lapar dan haus setengah hari.

Mereka menunaikan ibadah shalat maghrib berjamaah.  Rumah kecil ukuran 36 itu menjadi besar ketika dengan hati lapang sajadah di gelar di ruang depan.   Kursi dan meja sementara digeser sedikit.  Adrial menjadi imam, terdengar suaranya serak ketika membaca ayat suci di rakaat ke dua. Kedua suami istri ini agak terganggu mendengar pertanyaan An Nissa tadi sore.

Bagaimana menjelaskan bahwa parcel itu bukan milik orang miskin seperti keluarga mereka. Hafizdhoh terdiam disaat sahur.  Pikirannya masih berputar sekitar parcel. An Nissa belum mereka bangunkan, nanti 30 menit menjelang imsak, anak semata wayang itu di ingatkan untuk sahur.

Keluarga muda ini sedang menghitung hitung keuangan keluarga menghadapi lebaran.  Gaji Adrial bulan ini ditambah hadiah lebaran nanti mudah mudahan bisa menutupi kebutuhan hari raya.  Hanya saja anggaran untuk membeli parcel belum mereka masukkan.  Dari mana uang untuk membeli hadiah lebaran berbentuk bingkisan bisa didapatkan.

“bang, pinjam uang  ke abangmu”

Sang istri memberikan saran kepada suami.

” Iya dek, nanti aku mampir ke abang Sahid, semoga beliau bisa membantu membelikan bingkisan lebaran untuk An Nisa”

Tiga hari menjelang lebaran Annisa bertanya lagi, mengapa tidak ada mobil atau motor yang mengantar parcel kerumahnya.

“Insha Allah, besok ada kiriman parcel , anakku”

Adrial memeluk anaknya ketika akan berangkat ke kantor.

“ya pa Nissa tunggu didepan rumah ya”

Hafidzoh terharu melihat betapa sayang sang suami kepada anak.  Ibu rumah tangga ini  masih ragu dari mana suami akan mendapat uang untuk membeli parcel.

Pukul 15.00 Adrial meninggalkan kantor. Dia pusing dari mana mendapatkan uang sebesar 200.000 rupiah untuk membeli parcel.  Adrizal melangkah lemah sepulang dari kantor. Di dompetnya hanya ada uang 60.00 rupiah.  Bagaimana mencari kekurangan untuk membeli parcel lebaran sebagaimana dijanjikan untuk putri semata wayang. Hadiah lebaran dari kantor  yang diterima minggu lalu sudah diserahkan semua ke istri untuk kebutuhan menyambut Hari Raya.  Dana itupun sudah dialokasikan guna menuaikan zakat fitrah dan zakat penghasilan keluarga.

Namun Adrial yakin Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki akan menjadikan  kemudahan ketika hamba hamba yang bertaqwa dalam kesulitan   Tadi malam bersama istri ketika menunaikan ibadah tahajud, suami istri ini khusyu berdoa. Mereka tidak meminta yang macam maam, hanya saja memohon redha Allah SWT untuk yang terbaik bagi keluarga sakinah mawaddah warrahmah.

Walaupun terbesit dalam pikiran mereka tentang keinginan An Nisa mendapat hadiah lebaran berupa parcel seperti yang diterima di rumah tetanga namun permohonan doa itu tak mampu diucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.  Suami istri ini  sangat yakin  Allah Maha Mengetahui segala permasalahan hamba Nya.

Dalam perjalanan pulang pria pegawai kecil pada suatu kantor swasta ini mampir di beberapa toko penjual parcel lebaran.  Dia berharap ada harga discount sesuai dengan uang yang dimiliki. Namun apa daya seluruh parcel itu di label dengan harga diatas 300.000 rupiah. Terlintas dalam pikiran apakah akan menjual jam tangan atau handphone untuk menutupi kekurangan uang pembeli parcel sesuai permintaan An Nissa.

Terbayang di angan angan Adrizal, betapa senangnya An Nissa ketika ada mobil mengantar parcel ke rumah.  Mobil itu mengantarkan banyak sekali parcel kiriman dari beberapa rekanan, kiriman dari beberapa pejabat dan kiriman dari siapa saja yang terkait dengan perkerjaan.

Khayalan itu seiring dengan yang disaksikan oleh putrinya ketika menyaksikan tetangga sebelah mendapat kiriman hadiah lebaran.  Ada rasa terhormat, ada rasa bangga disana, namun apakah hadiah itu murni pemberian ikhlas ataukah terkait dengan jabatan ?

Tiba tiba Adrizal terbangun dari khayalan. Pria santun ini merasakan ada tangan yang menepuk pundaknya dari arah belakang. Terkejut dan langsung menoleh siapakah gerangan yang menyapa dengan begitu akrab ?.  Sesaat Adrial terkesima, siapa orang ini rasanya pernah melihatnya, tapi dimana.  Memory Adrizal berputar keras untuk mengingat ngingat siapa pemuda parlente yang berdiri di hadapannya.

Pemuda itu tersenyum membiarkan Adrizal mengira ngira dan menerka siapa dia.

” Abang lupa sama saya ? ” Masih ingat persahabatan kita  di pesantren ?”

Seketika kenangan meluncur ke sepuluh tahun lalu, siapa anak muda ini, dimana kami pernah bertemu.  Adrial  mengernyitkan dahi berpikir keras  sambil mengurai perjalanan hidup ketika mondok di pesantren Haji Dahlan.

” Saya Muchlis bang, masa Abang lupa” ,…..

” Masya Allah  dikau Muchlis ? maaf saya tidak bisa mengenal mu dinda. banyak sekali terjadi perubahan pada dirimu.”

“Ya bang selepas pesantren saya di kirim Ayah ke Yaman, melanjutkan pengajaran agama islam disana selama 5 tahun.”

Sepuluh tahun tak bersua kedua sahabat karib mengulang cerita lama.  Adrial sesungguhnya adalah mentor Muchlis.  Anak dari keluarga kaya raya super bandel.  Muchlis ketika itu  menolak di pondokkan oleh keluarga di pesantern Haji Dahlan Bin Affan.

Beberapa kali Muchlis mencoba melarikan diri.  Untunglah Ulama Pondok menugaskan Adrial sebagai senior untuk mendampingi Muchlis.  Inilah sepenggal kehidupan perjalanan mencoba mengubah pola hidup hedoisme dari kota metropolitan  menjadi pola hidup santri sungguh satu perjuangan.

Tanpa lelah Adrial melalui  pendekatan kasih sayang dan kelembutan diiringi doa orang tua dan ulama berupaya mengubah kehidupan “brantakan’” Muchlis kepada kehidupan seorang anak yang soleh dan taat beribadah. Alhamdulillah atas seizin Allah SWT, akhirnya Muchlis menemukan keindahan hidup di lingkungan pesantren.  Ada rasa damai disini, tidak ada lagi kegelisahan.

“Abang mau kemana dan tinggal dimana, sudah memiliki anak berapa ?’

beruntun Muchlis bertanya kepada kakanda yang telah menyelamatkan dirinya dari kerusakan moral.

“Dinda Muchlis, Abang dalam perjalanan pulang, ingin mampir membelikan An Nisa sesuatu sebagai hadiah lebaran”

Muchlis paham.  Perjalanan hidupnya mengajarkan bagaimana membalas kebaikan dengan kemuliaan.  Dia tahu senior ini sangat santun dan mempunyai harga diri.  Dia tidak akan pernah merendahkan diri dengan minta minta karena pekerjaan itu dilarang agama.

Justru dalam kehidupan sederhana keluarga Adrizal  selalu berbagi kepada sesama sesuai dengan kemampuan keuangan keluarga. Masih terngiang pesan Haji Dahlan ketika Adrial dan Hafizdhoh mohon restu membina keluarga.

“Keluarga kalian jangan sekali kali merendahkan diri  meminta kepada makhluk, mintalah langsung kepada Allah SWT. Dalam kondisi apapun memberi sedekah, dan infaq tidak dilarang malahan dianjurkan.”

‘”Ayo Bang saya antar pulang, saya ingin berkunjung kerumah abang.  Sudah lama sekali kita kehilangan kontak.  Alhamduilillah Allah mempertemukan kita di bulan suci ramadhan.”

Muchlis membeli beberapa parcel hadiah untuk An Nissa.  Pemuda ini sekarang melanjutkan perusahaan Ayahanda di Jakarta.  Bekal ilmu agama telah menjadikan perusahaan keluarga semakin maju. Usaha yang bergerak di bidang wisata dan perhotelan itu  berdasarkan tuntunan syariah. Kejujuran, transparansi dan berusaha di bidang halalan thoyiban serta taat mengeluarkan zakat mall.

Menjelang bedug maghrib mereka tiba di pinggiran Ibukota.  Dari jauh sudah tampak An Nissa menunggu kepulangan Ayah didepan rumah .  Si Mungil cantik rambut ikal  yakin sang Ayah tersayang pasti membawa parcel lebaran sesuai dengan janji tadi pagi.

Ibu An Nissa berdebar apakah suanim berhasil membawa oleh oleh sembari sibuk menyiapkan takjil buka puasa.  Kehidupan keluarga sederhana ini memang menyejukkan karena ada rasya syukur atas segala nikmat Allah nan di limpahkan.  Kesederhanaan adalah kesempurnaan ketika dalam kondisi apapun semuanya dirasakan begitu nikmat.

An Nissa terkejut, kenapa ada mobil mewah yang berhenti di depan rumah.  Siapakah gerangan.  Belum habis keterkejutana si putri semata wayang tiba tiba dia melihat beberapa bungkusan besar parcel diturunkan dari mobil,……..

Betapa gembiranya An Nissa, keinginan memilik parcel seeprti tetangga kaya kini telah terwujud. Muchlis berkenalan dengan keluarga kecil nan santun. Kini pengusaha sukses itu merasakan kembali suasana kesederhanaan di pesantren dulu. Begitu damai keluarga ini.

Setelah ifthor kemudian shalat maghrib berjamaah. Pengusaha muda bersahaja mohon izin undur diri. An Nissa mencium tangan tamu istimewa pembawa berkah nan hadir tiada terduga.

“Ini hadiah untuk An Nissa, jangan sampai batal ya puasanya”

An Nissa mengangguk seolah tak percaya ketika sebuah amplop tebal diterima.  Rasa haru menggema didalam rumah kecil di pinggiran kota. Seolah malaikat turut menyaksikan kedamaian dan kebahagiaan perjumpaan 2 sahabat lama.

“Abang Adrial bila berkesempatan mampir di kantor, ada pekerjaan yang membutuhkan keahliaan kakanda”

Muchlis menyerahkan kartu nama sembari berpelukan hangat. Bukan balas budi namun inilah rasa syukur tak terhingga  atas seizin Allah SWT  diselamatkan dari kehidupan duniawi metropolitan nan tiada arah

The end

  • Salam Literasi
  • BHP, 17 Ramadhan 1442 Hijriah
  • YPTD

Tinggalkan Balasan

8 komentar