Wujud Syukur Pernikahan

Terbaru11 Dilihat

Wujud Syukur 35 Tahun Pernikahan

Catatan Thamrin Dahlan

Rasa syukur membuncah setiap kali tanggal 7 Oktober kembali hadir. Hari bersejarah itu mengingatkan kami pada awal perjalanan rumah tangga, ketika pada tahun 1983 di Tempino, Jambi, saya dan Enida Busri mengikat janji suci dalam pernikahan. Tiga puluh lima tahun berlalu, dan tak ada yang lebih layak selain sujud syukur atas karunia Allah SWT—nikmat kesehatan, umur panjang, serta kebersamaan yang terus terjaga.

Allah SWT telah menegaskan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7).
Ayat ini menjadi pengingat bahwa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan sikap hidup yang harus terus dirawat.


Syukur memiliki banyak wajah. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa bersyukur dapat diwujudkan melalui empat hal: dengan hati, dengan lisan, dengan perbuatan, serta dengan menjaga nikmat itu sendiri. Maka, setiap nikmat yang Allah berikan—dari kesehatan hingga rezeki—harus dipelihara sebagai amanah.

Dalam keluarga kami, wujud syukur tidak berhenti pada doa, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata: berbagi kepada sesama. Sejak awal pernikahan, kami berkomitmen untuk menjadikan sedekah sebagai bagian dari kehidupan. Di rumah, tersedia kotak amal sederhana—siap digunakan kapan pun ada saudara dhuafa yang datang mengetuk pintu.

Memberi, bagi kami, bukan sekadar kewajiban, melainkan kebahagiaan. Memberi tanpa menyakiti, sesuai kemampuan, dan dilandasi keikhlasan.


Ahad, 7 Oktober 2018 menjadi momentum istimewa. Sebagai wujud syukur atas perjalanan 35 tahun pernikahan, kami berbagi dengan dhuafa dan komunitas. Pesan Ustaz Lutfhi Rahman dalam acara Wasilah Subuh kembali terngiang—mengutip teladan Rasulullah SAW saat hijrah ke Madinah: tebarkan salam, beri makan, jaga silaturahim, dan hidupkan shalat malam.

Empat pesan sederhana, namun menjadi fondasi kehidupan yang penuh berkah.


Perjalanan kami pun penuh warna. Berawal sebagai perwira muda—saya Letnan Dua Polisi dan istri anggota Polwan—kami dipertemukan kembali oleh takdir di Rumah Sakit Polri Jakarta. Jodoh memang rahasia Allah SWT. Kami berasal dari desa yang sama, Tempino, menempuh pendidikan di kota yang sama, Palembang, namun akhirnya dipersatukan dalam waktu yang tepat oleh kehendak-Nya.

Kenangan pernikahan pun terasa unik—dengan busana nasional dan berbagai pakaian adat: Minang, Jawa, dan Jambi. Sebuah simbol keberagaman yang menyatu dalam cinta dan komitmen.


Alhamdulillah, setelah memasuki masa pensiun tahun 2010, nikmat Allah terus mengalir. Saya masih diberi kesempatan mengajar, berolahraga, serta menekuni dunia literasi hingga menerbitkan belasan buku. Istri pun tetap aktif mengajar dan mengabdi di bidang pendidikan kesehatan.

Kami juga diberi anugerah keluarga yang lengkap: empat anak—tiga putra dan satu putri—serta cucu-cucu yang menjadi penyejuk hati. Semua anak telah menyelesaikan pendidikan dan menapaki jalan hidup masing-masing.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman)
Ayat ini seakan terus bergema dalam setiap fase kehidupan.


Perjalanan spiritual ke Tanah Suci menjadi bagian penting dalam kisah kami. Saya berkesempatan menunaikan ibadah haji sebagai petugas kesehatan tahun 1994, kembali berhaji tahun 1998, dan akhirnya berhaji bersama istri pada tahun 2003. Setiap perjalanan itu bukan sekadar ibadah, melainkan penguat cinta dan ketundukan kepada Allah SWT.


Sebagai penutup rasa syukur, keluarga besar berkumpul dalam suasana hangat di Restoran Karimata, kawasan Taman Mini Indonesia Indah. Silaturahim terjalin, doa-doa dipanjatkan, dan kebersamaan menjadi nikmat yang tak ternilai.

Ucapan selamat dan doa dari sahabat, baik secara langsung maupun melalui media sosial, menambah kebahagiaan. Semoga Allah SWT mengijabah semua doa—menjadikan keluarga kami dan kita semua sebagai keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.


Syukur adalah perjalanan tanpa akhir.

Selama napas masih berhembus, selama itu pula kita belajar bersyukur—dengan hati yang ikhlas, lisan yang lembut, dan perbuatan yang memberi manfaat.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.


BHP, 8 Oktober 2018
Salam Literasi
Thamrin Dahlan

Tinggalkan Balasan

News Feed