Thamrin Dahlan YPTD
Ganti Dolar
“Ueenak zaman ku toh.” Kalimat sederhana itu sering terlontar dari rakyat kecil. Bukan untuk mengagungkan masa lalu, melainkan pengakuan jujur berdasarkan pengalaman hidup. Ukurannya pun sederhana: kebutuhan sandang, pangan, dan papan terpenuhi, biaya pendidikan terjangkau, serta negara terasa aman dan tenteram.
Bukan bermaksud membanding-bandingkan antar-presiden. Tolok ukurnya hanyalah kesejahteraan lahir dan batin rakyat. Ketika kebutuhan pokok tersedia, harga-harga bersahabat, dan lapangan kerja terbuka, mahasiswa pun tidak perlu sering turun ke jalan menyuarakan keresahan.
Di bidang ekonomi, dolar Amerika memang masih sangat perkasa. Namun banyak negara mulai berupaya mengurangi ketergantungan terhadapnya. Kawasan Eropa memiliki euro sebagai mata uang bersama. China mendorong penggunaan yuan dalam transaksi perdagangan internasional. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kehadiran QRIS memudahkan transaksi domestik, sedangkan Danantara diharapkan memperkuat pengelolaan investasi nasional. Soal arah kebijakan moneter, masyarakat tentu menaruh perhatian pada langkah-langkah yang ditempuh oleh para pengambil kebijakan.
Ada pula yang mengenang masa ketika peserta pemilu hanya tiga kekuatan politik: Golkar, PDI, dan PPP. Sebagian orang merindukan suasana yang mereka anggap lebih sederhana, sementara yang lain menilai setiap zaman memiliki tantangan dan kelebihannya sendiri. Sejarah memang selalu menghadirkan ruang untuk berbagai sudut pandang.
Untunglah rakyat masih memiliki hiburan yang mampu menyatukan semua kalangan: sepak bola. Ketika peluit pertandingan dibunyikan, sejenak perbedaan pilihan politik, naik-turunnya harga, maupun hiruk-pikuk kebijakan pemerintah terlupakan. Di stadion dan di depan layar televisi, yang terdengar hanyalah sorak-sorai mendukung tim kesayangan.
Salam sehat, salam literasi, dan salamsalaman.
Salamun Salamun
BHP 29 Juni 2026
TD










