Tiga Tahu dan Tiga Kaki
Thamrin Dahlan YPTD
Perusuh, semua orang tampaknya sudah tahu siapa oknum anak buah yang membawa pistol namun langkahnya lambat. Mereka terlihat seolah bekerja, tetapi diam-diam menjadi penghambat kebijakan pimpinan.

Sindiran yang muncul di Disway terasa mengena. Awak pun tergelak kecil sambil tersenyum.
“Kena juga,”
pikir awak.
Sebab sindiran yang baik memang tidak perlu menyebut nama, cukup membuat yang merasa menjadi gelisah sendiri.
Awak meyakini bahwa Bapak Presiden tentu lebih tahu siapa saja anak buah yang bergerak dengan “tiga kaki”.
- Ke Sumedang membeli tahu,
Dimakan hangat bersama cabai.
Kalau bawahan banyak akal baru,
Pimpinan bijak pasti mengetahui.
Satu kaki melangkah mengikuti perintah pimpinan, satu kaki lagi tertahan oleh kepentingan pribadi, dan kaki ketiga digunakan untuk mengakali keadaan.
Akibatnya, pekerjaan berjalan lambat, program tersendat, dan rakyat menunggu hasil yang tak kunjung datang.
Mereka inilah penghambat terselubung yang sering kali lebih berbahaya daripada lawan yang terang-terangan.
Ketika pejabat yang nakal dalam program MBG digerebek dan diproses, publik memperoleh pesan bahwa jabatan adalah amanah, bukan kesempatan mencari keuntungan pribadi.
Siapa pun yang tidak tahu diri dan menyalahgunakan kepercayaan memang harus ditertibkan. Negara memerlukan aparatur yang bekerja dengan dua kaki yang kokoh: integritas dan profesionalitas. Jika muncul kaki ketiga berupa kepentingan tersembunyi, maka arah perjalanan menjadi pincang.
- Ke Sumedang membeli tahu,
Dimakan hangat bersama cabai.
Kalau bawahan banyak akal baru,
Pimpinan bijak pasti mengetahui.
Komentar ini kebetulan memuat tiga “tahu”.
Pertama, tahu bahwa rakyat sekarang semakin cerdas membaca situasi.
Kedua, tahu bahwa pimpinan tidak mungkin selamanya dibungkam oleh laporan yang manis di atas kertas.
Ketiga, tahu bahwa pada akhirnya kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.
Sedangkan Tahu Sumedang, tentu berbeda urusan. Ia terasa paling nikmat ketika masih hangat, ditemani cabai rawit yang pedas menggigit. Makan tahu hangat jauh lebih menyenangkan daripada menjadi orang yang sok tahu.
Awak percaya Abah lebih memahami filosofi menghadapi anak buah nakal. Kadang tidak perlu marah-marah, cukup memberi ruang agar mereka menunjukkan sendiri watak aslinya. Ketika topeng jatuh, publik akan melihat siapa yang sungguh bekerja dan siapa yang sekadar berpura-pura sibuk.
Di situlah ujian kepemimpinan dan ujian kesetiaan berlangsung.
Salam Literasi.
Pak Mario Semarang Hadiiir Disway.id
BHP 6 Juni 2026
Thamrin Dahlan






