
Masyarakat Melayu sejak dahulu mengenal petuah tentang adab makan yang selaras dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Walaupun redaksi “makan sebelum lapar” bukan hadis, inti ajaran Islam adalah tidak berlebihan dalam makan, makan ketika tubuh memang membutuhkan, serta berhenti sebelum kenyang. Petuah ini mengajarkan bahwa makan bukan sekadar memenuhi selera, melainkan menjaga amanah kesehatan yang Allah SWT titipkan kepada setiap manusia.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada wadah yang lebih buruk dipenuhi manusia selain perutnya. Cukuplah beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Apabila harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk udara. Tuntunan ini merupakan pedoman hidup sehat yang telah diajarkan lebih dari empat belas abad lalu, dan kini semakin diperkuat oleh ilmu kedokteran modern.
Peribahasa “Berhenti sebelum kenyang” mengandung makna pengendalian diri. Orang yang mampu mengendalikan nafsu makan biasanya juga lebih mampu mengendalikan hawa nafsu dalam berbagai urusan kehidupan. Kesederhanaan ketika makan melahirkan rasa syukur, menjaga kesehatan, dan menghindarkan tubuh dari berbagai penyakit akibat pola makan yang berlebihan.
Rumah makan sederhana yang menyajikan makanan bergizi dengan porsi secukupnya menjadi simbol bahwa kenikmatan tidak selalu diukur dari kemewahan hidangan. Yang utama adalah makanan yang halal, baik, bergizi, diperoleh dengan rezeki yang halal, kemudian dinikmati bersama keluarga dengan penuh rasa syukur. Dalam suasana seperti itulah keberkahan sering hadir di meja makan.
Bagi keluarga, adab makan merupakan pendidikan karakter yang dimulai sejak dini. Anak-anak diajarkan membaca basmalah, makan dengan tangan kanan, tidak berlebihan mengambil makanan, serta menghabiskan hidangan tanpa menyisakan secara sia-sia. Nilai-nilai sederhana ini akan membentuk pribadi yang disiplin, hemat, menghargai nikmat Allah, dan peduli kepada sesama yang masih kekurangan makanan.
Dalam kehidupan modern, ketika makanan cepat saji dan gaya hidup konsumtif semakin mudah dijumpai, pesan Rasulullah ﷺ menjadi semakin relevan. Menjaga pola makan bukan hanya untuk memperoleh tubuh yang sehat, tetapi juga agar ibadah menjadi lebih khusyuk, pikiran lebih jernih, dan usia yang Allah anugerahkan dapat dimanfaatkan untuk berkarya serta berbuat kebajikan.
Semoga peribahasa “Berhenti Sebelum Kenyang” menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kesehatan adalah investasi terbesar dalam kehidupan. Makanlah ketika tubuh memerlukannya, jangan berlebihan, dan akhirilah sebelum kenyang. Dengan menjaga adab makan sesuai sunah Rasulullah ﷺ, kita tidak hanya memperoleh kesehatan jasmani, tetapi juga keberkahan hidup, ketenangan hati, serta kekuatan untuk terus beribadah dan mengabdi kepada sesama.
- Salam Literasi.
- Menuju Buku 100 Peribahasa Melayu
- Kolaborasi Thamrin Dahlan & ChatGPT.
- BHO Juli 2026










