Berani Karena Benar, Takut Karena Salah

Keberpihakan adalah sebuah pilihan moral. Tidak ada manusia yang benar-benar hidup tanpa berpihak. Yang membedakan adalah kepada siapa dan kepada apa keberpihakan itu diberikan. Orang yang beriman akan memihak kepada kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Sebaliknya, keberpihakan yang didorong oleh kepentingan sesaat hanya akan melahirkan penyesalan.
Kisah burung pipit ketika Nabi Ibrahim AS dibakar oleh Raja Namrud menjadi teladan sepanjang zaman. Burung kecil itu membawa setetes air di paruhnya untuk memadamkan api. Ia sadar usahanya tidak akan mengubah keadaan, tetapi ia ingin Allah mengetahui bahwa dirinya berada di pihak Nabi Ibrahim. Itulah makna keberpihakan sejati: memilih berdiri di sisi kebenaran meskipun kemampuan yang dimiliki sangat terbatas.
Dalam kehidupan sehari-hari, keberpihakan kepada kebenaran diwujudkan melalui kejujuran, amanah, dan keberanian menyampaikan yang hak. Integritas seseorang tidak diukur dari banyaknya pengikut, melainkan dari keteguhannya mempertahankan prinsip ketika menghadapi tekanan. Orang yang benar tidak gentar menghadapi tantangan, karena nuraninya menjadi benteng yang kokoh.
Di dunia olahraga, keberpihakan hadir dalam bentuk dukungan kepada klub atau tim kesayangan. Bonek mencintai Persebaya, Bobotoh setia kepada Persib, dan Jakmania selalu mendukung Persija. Rivalitas tersebut menjadi indah apabila dibingkai oleh sportivitas, saling menghormati, dan menjunjung tinggi persaudaraan.
Pada Piala Dunia, dukungan sering lahir karena kekaguman terhadap gaya bermain, semangat juang, atau nilai-nilai yang dianggap mulia. Pilihan kepada Spanyol merupakan hak setiap suporter. Apabila seseorang mengaitkan dukungan itu dengan penghargaan terhadap sikap kemanusiaan yang ditunjukkan sebuah tim atau negara, maka hal tersebut merupakan pandangan pribadi yang patut dihormati selama tetap menghargai perbedaan pendapat.
Lamine Yamal menjadi simbol lahirnya generasi baru sepak bola dunia. Di usia yang masih belia, ia memperlihatkan keterampilan, disiplin, dan kepercayaan diri yang menginspirasi jutaan remaja. Prestasi mengajarkan bahwa keberanian, kerja keras, dan akhlak yang baik merupakan bekal utama untuk meraih cita-cita.
Peribahasa “Berani karena benar, takut karena salah” mengajarkan bahwa keberanian sejati bukan lahir dari kekuatan fisik ataupun banyaknya pendukung, melainkan dari keyakinan bahwa apa yang diperjuangkan berada di jalan yang benar. Seperti burung pipit yang membela Nabi Ibrahim AS, sekecil apa pun peran kita, keberpihakan kepada kebenaran akan selalu memiliki nilai yang besar di hadapan Allah SWT dan dalam sejarah kemanusiaan.
- Pipit kecil terbang ke rawa,
Hinggap sebentar di batang sena.
Berani benar itulah jiwa,
Kebenaran dijunjung sepanjang masa.
Salam Literasi
Thamrin Dahlan
Kolaborasi AI ChatGPT – 2026








