Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

Terbaru12 Dilihat

Karena Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga

Peribahasa Melayu “Setitik Rusak Susu Sebelanga” mengajarkan bahwa satu kesalahan kecil dapat merusak seluruh kebaikan yang telah dibangun dengan susah payah. Setetes nila mampu mengubah susu yang putih menjadi tidak layak dikonsumsi. Begitulah kehidupan; kejujuran, amanah, dan nama baik yang dipupuk bertahun-tahun dapat tercemar oleh satu perbuatan yang menyimpang dari nilai-nilai kebenaran.

Dalam kehidupan pribadi, menjaga integritas jauh lebih mudah daripada memperbaiki kepercayaan yang telah hilang. Sekali seseorang berdusta, berkhianat, atau menyalahgunakan amanah, masyarakat akan sulit melupakan perbuatan tersebut. Oleh sebab itu, setiap langkah hendaknya dipenuhi kehati-hatian agar tidak meninggalkan noda pada kehormatan diri, keluarga, maupun lembaga yang diamanahkan kepada kita.

Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27). Ayat ini menegaskan bahwa amanah merupakan pondasi kehidupan. Sekali amanah dikhianati, kepercayaan yang telah dibangun akan mudah runtuh.

Angin puting beliung datang hanya dalam waktu singkat, tetapi mampu merobohkan rumah, menumbangkan pohon, dan merusak sawah yang telah dirawat berbulan-bulan. Demikian pula satu kesalahan yang dilakukan karena kelalaian, kesombongan, atau hawa nafsu dapat menghancurkan hasil kerja keras selama bertahun-tahun. Karena itu, setiap keputusan harus dipertimbangkan dengan akal sehat, hati nurani, dan tuntunan agama.

Dalam dunia keluarga, pendidikan, pemerintahan, maupun dunia usaha, nama baik adalah harta yang tidak ternilai. Seorang ayah menjadi teladan bagi anak-anaknya, seorang guru menjadi panutan bagi murid-muridnya, seorang pemimpin menjadi contoh bagi masyarakatnya. Jangan biarkan satu tindakan yang keliru menghapus jejak panjang pengabdian yang telah dibangun dengan penuh keikhlasan.

Bagi pegiat literasi, peribahasa ini merupakan nasihat agar senantiasa menjaga kejujuran dalam menulis. Tulisan hendaknya berlandaskan fakta, etika, dan tanggung jawab moral. Sekali seorang penulis menyebarkan informasi yang tidak benar atau mengabaikan amanah ilmiah, kepercayaan pembaca dapat memudar. Reputasi yang dibangun bertahun-tahun dapat tercoreng oleh satu kesalahan yang sebenarnya dapat dihindari.

Semoga kita semua senantiasa memohon perlindungan Allah SWT agar dijauhkan dari perbuatan yang merusak amanah, nama baik, dan persaudaraan. Jadikan peribahasa “Setitik Rusak Susu Sebelanga” sebagai pengingat untuk selalu menjaga lisan, tulisan, dan perbuatan. Sebab membangun membutuhkan kesabaran yang panjang, sedangkan merusak sering kali hanya memerlukan satu kesalahan. Semoga Allah SWT membimbing langkah kita di jalan yang lurus.

 

  • Salam Persaudaraan.
  • Salam Keberkahan.
  • BHP 10 Juli 2026
  • Thamrin Dahlan & ChatGPT

Tinggalkan Balasan