Kasih Ibu

Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah
Thamrin Dahlan – YPTD

Peribahasa Melayu “Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah” menggambarkan betapa luas dan tulus kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Sejak mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkan, hingga mendoakan, seorang ibu tidak pernah menghitung pengorbanannya. Sebaliknya, kasih seorang anak sering kali terbatas oleh waktu, kesibukan, dan keadaan. Peribahasa ini mengingatkan agar anak senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya selama hayat masih dikandung badan.

Kasih ibu laksana hamparan sawah yang menghijau, kemudian menguning saat musim panen. Benih yang ditanam dengan penuh kesabaran, dipelihara di bawah terik matahari dan guyuran hujan, akhirnya menghasilkan bulir-bulir padi yang menghidupi banyak orang. Begitulah seorang ibu. Ia menanam benih kasih sayang, kejujuran, akhlak, dan doa dalam diri anak-anaknya tanpa pernah mengharapkan balasan yang sepadan.

Allah SWT berfirman, “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14). Ayat ini menegaskan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan perintah Allah yang kedudukannya sangat mulia setelah kewajiban bersyukur kepada-Nya.

Rasulullah SAW juga menempatkan ibu pada kedudukan yang sangat istimewa. Ketika seorang sahabat bertanya, “Siapakah yang paling berhak memperoleh perlakuan baik dariku?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Sahabat itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Untuk ketiga kalinya beliau menjawab, “Ibumu,” kemudian barulah, “Ayahmu.” Hadis ini menunjukkan betapa besar penghormatan Islam kepada pengorbanan seorang ibu.
Dalam kehidupan bermasyarakat, peribahasa ini menjadi pengingat agar keberhasilan seseorang tidak membuatnya melupakan orang tua. Jabatan, harta, dan kemasyhuran tidak akan pernah mampu membalas setetes air susu ibu dan setiap tetes keringat yang dicurahkannya. Anak yang berbakti akan selalu meluangkan waktu, memberikan perhatian, menjaga tutur kata, serta mendoakan kedua orang tuanya dengan penuh kasih.

Hamparan padi yang menguning menjelang panen mengajarkan filosofi kehidupan. Semakin berisi, padi semakin merunduk. Demikian pula seorang anak. Semakin tinggi ilmu, kedudukan, dan keberhasilannya, semakin rendah hati ia di hadapan kedua orang tuanya. Kerendahan hati itulah buah dari pendidikan yang ditanamkan oleh kasih sayang seorang ibu sejak masa kecil.

Semoga peribahasa “Kasih Ibu Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah” menjadi renungan bagi kita semua untuk senantiasa menghormati, menyayangi, dan membahagiakan kedua orang tua, terutama ibu, selagi mereka masih bersama kita. Jangan menunggu penyesalan datang ketika kesempatan telah berlalu. Sebab doa seorang ibu adalah cahaya kehidupan, dan ridhanya menjadi salah satu jalan menuju ridha Allah SWT.

 

  • Salam Literasi.
  • Salam Persaudaraan.
  • Salam Keberkahan.
  • BHP, 10 Juli 2026
  • Thamrin Dahlan

Tinggalkan Balasan