Sahabat Sejati, Susah Senang
Tetap Setia

Ada pertemuan yang dirancang manusia, tetapi ada pula pertemuan yang sepenuhnya menjadi rahasia Allah SWT. Jumat, 10 Juli 2026, menjadi hari yang sarat makna ketika Restoran Seafood Panembahan 45, Kali Malang, Bekasi, menjadi tempat bertemunya kembali sahabat-sahabat lama. Wajah yang dahulu dipenuhi semangat remaja kini dihiasi rambut memutih, namun senyum persahabatan tetap memancarkan kehangatan yang sama.
Peribahasa Melayu, “Sahabat Sejati, Susah Senang Tetap Setia,” menemukan makna yang sesungguhnya pada perjumpaan itu. Puluhan tahun dipisahkan oleh pekerjaan, keluarga, dan perjalanan hidup, namun tali persaudaraan tidak pernah putus. Waktu hanya mengubah usia, bukan kasih sayang yang telah tumbuh sejak masa sekolah.
Sugiri, Maudi, Thamrin Dahlan, Mas’ud Dohim, dan Ulik kembali duduk semeja sebagai Alumni SMA Negeri 2 Jambi Angkatan 1972. Mereka bukan sekadar teman sekolah, melainkan saudara seperjalanan hidup yang pernah berbagi mimpi, harapan, dan kenangan indah di bumi Jambi. Tawa yang mengalir siang itu seolah menghapus jarak puluhan tahun yang pernah memisahkan.
Jamuan penuh kehangatan dari Sedulur Mas’ud Dohim menjadi ungkapan kasih yang tidak dapat dinilai dengan materi. Aneka hidangan seafood tersaji menggugah selera, namun yang paling nikmat sesungguhnya adalah percakapan penuh kenangan. Setiap cerita membawa mereka kembali ke masa kecil di Bajubang dan Tempino, ketika orang tua mereka mengabdikan diri di Pertamina pada dekade 1960-an.
Takdir Allah sungguh indah. Anak-anak yang dahulu berlari di tanah yang sama kini dipertemukan kembali di Jakarta pada usia senja. Pertemuan itu bukan sekadar nostalgia, melainkan pengingat bahwa persaudaraan sejati tidak mengenal batas ruang dan waktu. Selama hati tetap saling mendoakan, persahabatan akan selalu menemukan jalannya.
Di sela suasana penuh keakraban itu, lahirlah harapan baru. Insya Allah, perjalanan hidup Mas’ud Dohim akan diabadikan dalam sebuah buku autobiografi yang diterbitkan oleh Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan. Sebuah karya yang bukan hanya merekam riwayat hidup seseorang, tetapi juga menjadi warisan bagi anak cucu agar memahami nilai perjuangan, kerja keras, dan arti sebuah persahabatan.
Pertemuan sederhana ini menjadi bukti bahwa usia tidak pernah mengurangi indahnya persahabatan. Justru ketika rambut mulai memutih dan langkah tidak lagi secepat dahulu, sahabat menjadi tempat berbagi rasa syukur, mengenang perjalanan hidup, dan saling menguatkan. Mereka memahami bahwa kebersamaan adalah nikmat yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.
Mungkin suatu hari nanti meja makan itu akan kosong dan suara tawa itu hanya tinggal kenangan. Namun foto-foto yang diabadikan, cerita yang dituliskan, dan buku yang diterbitkan akan menjadi saksi bahwa pernah ada sekelompok sahabat yang memelihara persaudaraan dengan setia hingga usia senja. Itulah jejak kehidupan yang pantas diwariskan kepada generasi berikutnya.
Peribahasa “Sahabat Sejati, Susah Senang Tetap Setia” mengajarkan bahwa kekayaan terbesar manusia bukanlah harta benda, melainkan sahabat yang tetap menggenggam tangan ketika waktu terus berjalan. Semoga silaturahmi ini senantiasa diberkahi Allah SWT, usia dipanjangkan dalam kesehatan, dan rencana menerbitkan autobiografi Mas’ud Dohim berjalan lancar hingga memperoleh validasi ISBN sebagai warisan literasi yang akan terus hidup sepanjang masa.
- Salam Literasi. Salam Persahabatan. Salam YPTD.
- BHP 12 Juli 2026
- Thamrin Dahlan










