Tak Ada Rotan, Akar Pun Jadi

Senang sekali, Bapak Thamrin Dahlan. Peribahasa ini sangat kaya makna. Ia mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya. Dalam dunia literasi, inilah semangat yang membuat seorang penulis terus melahirkan karya meski dengan sarana yang sederhana.
Serial 4 – 100 Peribahasa Melayu
Tak Ada Rotan, Akar Pun Jadi
Makna Peribahasa
Peribahasa “Tak Ada Rotan, Akar Pun Jadi” mengandung makna bahwa apabila sesuatu yang terbaik belum tersedia, maka gunakanlah apa yang ada. Yang terpenting bukanlah kesempurnaan alat, melainkan kesungguhan hati, kreativitas, dan kemauan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
Peribahasa ini mengajarkan sikap adaptif, tidak mudah menyerah, serta pandai memanfaatkan segala potensi yang dimiliki. Orang bijaksana tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti, tetapi sebagai tantangan untuk menemukan jalan keluar.
Narasi Inspiratif
Seorang penulis pemula sering berkata, “Saya belum bisa menulis karena belum memiliki komputer yang bagus.” Padahal, di sudut rumahnya tersedia buku tulis dan sebatang pena. Kalimat itu sebenarnya lebih menunjukkan keraguan daripada kekurangan sarana. Banyak penulis besar justru memulai karya-karyanya dengan alat yang sangat sederhana.
Di Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD), semangat menerbitkan buku tidak pernah bergantung pada kemewahan fasilitas. Yang menjadi modal utama adalah niat baik, ketekunan, disiplin, dan keberanian memulai. Dari naskah sederhana lahirlah ratusan buku yang kini menjadi bagian dari khazanah literasi Indonesia.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT juga menjadi contoh nyata makna peribahasa ini. Ketika seorang penulis mengalami kebuntuan mencari diksi, menyusun kerangka, atau memperbaiki tata bahasa, AI dapat menjadi “akar” yang membantu menggantikan “rotan” yang belum dimiliki. Namun, gagasan, pengalaman hidup, dan nilai kemanusiaan tetap berasal dari penulis itu sendiri. AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti jiwa sebuah karya.
Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian. Seorang guru mengajar dengan papan tulis sederhana tetapi mampu melahirkan murid-murid hebat. Seorang petani dengan peralatan seadanya tetap menghasilkan panen karena bekerja dengan tekun. Kesuksesan lebih banyak ditentukan oleh semangat daripada kelengkapan fasilitas.
Sesungguhnya Allah SWT telah menganugerahkan kepada setiap manusia akal, hati, dan kemampuan untuk berikhtiar. Keterbatasan bukanlah penghalang bagi orang yang bersungguh-sungguh. Justru dari keterbatasan lahir kreativitas, inovasi, dan rasa syukur atas nikmat yang dimiliki.
Maka, jangan menunggu semua serba sempurna untuk memulai. Menulislah hari ini dengan apa yang ada. Berbuatlah sesuai kemampuan. Sebab perjalanan panjang selalu dimulai dari satu langkah kecil. Tak ada rotan, akar pun jadi; tak ada alasan, semangatlah yang menjadi kekuatan.
Hikmah Literasi
Literasi mengajarkan bahwa karya besar tidak selalu lahir dari fasilitas besar. Banyak buku yang mengubah dunia ditulis dalam kesederhanaan. Yang membedakan hanyalah kemauan untuk memulai dan ketekunan untuk menyelesaikannya.
Bagi seorang penulis, jangan menunggu inspirasi sempurna. Tulislah satu paragraf hari ini, satu halaman besok, dan satu buku pada waktunya. Sedikit demi sedikit, ikhtiar akan berbuah karya yang bermanfaat bagi banyak orang.
Pantun Melayu
Rotan patah di tepi rawa,
Akar menjalar kuat mencengkam.
Jangan menyerah karena tiada,
Ikhtiar tulus membawa berkah alam.
Penutup
Tak Ada Rotan, Akar Pun Jadi bukanlah ajakan untuk puas dengan keterbatasan, melainkan dorongan agar tidak berhenti berkarya ketika keadaan belum ideal. Orang yang terus bergerak akan menemukan jalan. Orang yang terus belajar akan menemukan ilmu. Orang yang terus menulis akan meninggalkan jejak peradaban.
Salam Literasi.
“Keterbatasan bukan penghalang berkarya. Niat yang tulus, ikhtiar yang sungguh-sungguh, dan semangat berbagi ilmu akan menjadikan setiap langkah bernilai ibadah.”










