
Petjel Taman Dukuh Maknyus
Taman selalu punya pesona tersendiri. Bukan sekadar hamparan bunga warna-warni, tapi juga tempat merehatkan raga dan menenangkan jiwa. Di sanalah kita bisa melonggarkan simpul penat setelah bergelut dengan kesibukan hari-hari kerja.
Berbunga melati di tepi taman,
Harumnya semerbak menyejuk kalbu.
Akhir pekan mari kita manfaatkan,
Rehat sejenak, manfatkan waktu.
Begitulah yang saya lakoni, meski sudah lebih dari lima belas tahun menyandang status purna tugas. Mungkin tak lagi sesibuk seperti masa kantor dulu, namun tanggung jawab moral dalam dunia literasi sebagai penulis dan penerbit tetap saya jalani. Rutinitas tetap mirip: bangun pagi, berkegiatan, menulis, dan tentu, sesekali menyambangi taman.

Minggu pagi, 19 Oktober 2025. Agenda sudah terjadwal: olahraga santai di Taman Dukuh. Pukul 06.45, saya dan istri mulai melangkah perlahan dari rumah di kawasan Bumi Harapan Permai. Usia memang tak lagi muda, jadi langkah demi langkah kami sesuaikan iramanya—melewati Kampung Bojong, Kampung Rambutan, hingga akhirnya tiba di tujuan.

Jakarta Timur masih lengang. Hari Minggu memang hari istimewa: tak ada antar jemput sekolah, tak ada bising jalanan. Sebagian warga memilih rehat di rumah, mungkin olahraga nanti sore. Namun sebagian lagi, seperti kami, memilih menikmati pagi sambil menyapa udara segar di taman kota.

Mentari naik malu-malu,
Disambut kicau burung berseru.
Taman Dukuh tempat nan syahdu,
Ramah keluarga, akrab bersatu.
Taman Dukuh berada di Jl. Penggilingan Baru No.22, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Kramatjati. Sekitar 35 menit berjalan kaki dari rumah. Sesampainya di sana, suasana begitu hidup. Warga berkumpul bersama keluarga: ada yang duduk di bangku batu, ada yang bermain di rerumputan, anak-anak berayun-ayun dengan riang.
Remaja memanfaatkan lapangan untuk bermain basket dan futsal. Kaum lansia, perlahan mengitari jogging track berbatu krikil—terapi untuk syaraf kaki. Saya pun mencoba, meski tetap bersepatu. Sambil mengitari taman, obrolan kecil pun mengalir.

Tujuan utama pagi itu: mencicipi petjel—ya, pakai ejaan lama, bukan “pecel”. Sebuah nostalgia masa kecil. Petjel, makanan sederhana berisi sayuran rebus disiram bumbu kacang, menjadi pelengkap sempurna suasana pagi.
Kami duduk di pelataran taman, menikmati petjel di bawah rindangnya pepohonan. Anak-anak bermain, ibu-ibu lesehan dengan bekal dari rumah, suasana penuh kebersamaan.
Petjel nikmat rasa kampung,
Pedas gurih bikin melambung.
Ditambah Mbok yang murah senyum,
Membuat hati makin bertumbuh agung.

Si Mbok penjual petjel bukan main ramahnya. Setiap pembeli disapa dengan panggilan “sayang”—membuat semua yang hadir tersenyum geli. Suasana terasa hidup, penuh canda. Petjel laris, senyum pun menular. Jelas Rasa Petjel si Mbok Uuuueeenaak Tenan
Pekan ketiga Oktober ini, agenda olahraga lumayan padat: tiga kali main pingpong, dua kali jalan kaki. Hanya Senin dan Kamis libur karena puasa. Olahraga bagi kami, kaum lansia, bukan lagi soal mengejar stamina—melainkan menjaga silaturahmi, menyehatkan batin, dan… ya, biasanya diakhiri makan-makan kecil.
Sebagai penulis, jalan kaki memberi inspirasi. Langkah demi langkah kerap menghadirkan ide. Kemarin menulis tentang Mihrab, sebelumnya tentang Olahraga Perjaka di TMII. Alhamdulillah, hari ini tentang petjel di taman.

Tadinya kami ingin pulang naik Jak Lingko, namun istri mengusulkan berjalan saja sambil “menurunkan isi perut”, katanya. Kami menyempatkan Takziah Makam Almarhum Adik Ipar, Suyanto bin Kliwon, Doa pun kami panjatkan, semoga Allah melapangkan jalannya.
Pukul 09.30 kami tiba kembali di rumah. Hitungan waktu 180 menit—hampir seimbang antara olahraga, makan, dan silaturahmi.
Langkah kecil, kisah besar,
Taman jadi saksi cerita bersinar.
Bersama keluarga dan sahabat sabar,
Hidup terasa makin bermakna benar.

Terima kasih kepada sahabat Baru Mas Shendy beserta keluarga yang telah mengabadikan momen ini lewat jepretan kamera. Dokumentasi kecil, tapi penuh arti. Semoga kita semua tetap semangat, ceria, banyak bersyukur, dan selalu bersabar menjalani hidup dan kehidupan.

- Salam Kuliner
- BHP, 19 Oktober 2025
- TD








adek ke dapul mengambil garam,
Garam dimakan bersama buah mangga ,
Bersama keluarga hidup temtarm,
Itulah tujuan dalam berumah tangga.