Bismillaahirrahmaanirrahiim
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Qonaah adalah sikap merasa cukup dan menerima apa yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan ikhlas.
Sikap ini membuat seseorang bersyukur atas rezeki yang dimiliki, tidak tamak, tidak iri hati, dan terhindar dari sifat serakah.

Meskipun begitu, qonaah tidak berarti berhenti berusaha; ia harus diiringi dengan ikhtiar terbaik, namun tetap bertawakal dan menerima hasilnya.
Qonaah: Seni Merasa Cukup dalam Hidup
Qonaah merupakan sikap merasa cukup dan menerima apa yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan ikhlas. Sikap ini membuat seseorang bersyukur atas rezeki yang dimiliki, tidak tamak, tidak iri hati, dan terhindar dari sifat serakah. Meskipun begitu, qonaah tidak berarti berhenti berusaha; ia harus diiringi dengan ikhtiar terbaik, namun tetap bertawakal dan menerima hasilnya.
Qonaah berasal dari kata qani’a yang berarti rela atau merasa cukup. Dalam Islam, qonaah adalah akhlak mulia yang menumbuhkan ketenangan batin karena seseorang tidak bergantung pada dunia secara berlebihan. Ia meyakini bahwa segala rezeki telah diatur Allah SWT secara adil dan sempurna. Orang yang qonaah tidak diombang-ambingkan oleh keinginan duniawi, sebab hatinya telah tenang dalam menerima ketentuan Ilahi.
Namun, qonaah bukanlah pasrah tanpa daya. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal. Seorang petani yang qonaah tetap menanam dengan sungguh-sungguh, namun ia tidak bersedih jika hasil panennya sedikit. Ia yakin, Allah menilai bukan dari banyaknya hasil, tetapi dari niat dan kejujuran usahanya. Itulah makna sejati qonaah — berusaha maksimal sambil menerima hasil dengan lapang dada.

Air jernih mengalir perlahan,
Menyejukkan ladang dan sawah.
Rezeki cukup tanda rahmat Tuhan,
Hati lapang jauhkan resah.
Dalam pergaulan sehari-hari, qonaah tampak dari sikap sederhana namun bermartabat. Seorang pegawai tetap bersyukur dengan gaji pas-pasan tanpa iri kepada rekannya yang mendapat bonus besar. Ia berkata dalam hati,
“Alhamdulillah, rezekiku cukup untuk keluargaku.”
Dengan cara seperti ini, hidupnya damai, tidak tersiksa oleh perbandingan sosial yang sering menjerat banyak orang di zaman modern ini.
Qonaah juga menumbuhkan kejujuran dan ketenangan hati. Pedagang yang qonaah tidak menipu timbangan untuk meraih untung lebih. Ia percaya, rezeki halal lebih berkah daripada hasil curang yang melimpah. Begitu pula siswa yang qonaah belajar dengan tekun tanpa menyontek, yakin bahwa nilai terbaik adalah hasil dari usaha sendiri.
Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:
Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.
(QS. At-Talaq [65]: 2–3)
Ayat ini menegaskan bahwa ketakwaan dan qonaah berjalan beriringan. Ketika hati berserah kepada Allah, pintu rezeki terbuka dengan cara yang tak terduga. Rasulullah SAW bersabda:
Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qonaah terhadap apa yang diberikan kepadanya
(HR. Muslim)
Kebahagiaan sejati bukan diukur dari harta, tetapi dari hati yang merasa cukup. Orang qonaah hidup sederhana namun penuh syukur, sementara yang tamak selalu merasa kekurangan meski bergelimang harta. Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan materialistis, qonaah menjadi tameng spiritual agar manusia tidak terseret arus keserakahan.
Ia menumbuhkan rasa syukur, memperkuat hubungan sosial, dan menjaga keseimbangan jiwa. Dengan qonaah, seseorang mampu berkata penuh tenang:
“Aku cukup dengan apa yang Allah beri, karena di situlah letak kebahagiaan sejati.”
Pagi cerah burung bernyanyi,
Menyapa insan penuh makna.
Syukur di hati tenanglah diri,
Qonaah kunci hidup bahagia.
Dikutip dari beberapa sumber
Wallahu a’lam bish-shawab
Hanya Allah SWT paling mengetahui kebenaran”
Semoga bermanfaat
Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad
- Kamis, 16 Jumadil Awal 1447 Hijriah
- BHP, 8 November 2025
- TD







