Dari Penjual Kelapa Parut .Mampu Menyekolahkan Anak Keluar Negeri

keterangan foto: mendampingi putra pertama kami ,di wisuda di California -Amerika Serikat /dokumentasi pribadi
“Bukan Ijazah yang mengantarkan orang kepada kesuksesan,melainkan sikap mental”,walaupun sesungguhnya hal ini adalah sebuah fakta,tapi bisa jadi banyak yang merasa tersinggung. Karena sudah bersusah payah menuntut ilmu selama bertahun tahun,demi mendapatkan ijazah sarjana, ee malah ada yang terasa kurang menghargainya
Pernyataan bahwa bukan ijzah melainkan sikap mental yang menentukan sukses seseorang didasarkan pada pemahaman bahwa keberhasilan dalam kehidupan tidak semata-mata tergantung pada pencapaian akademik seseorang, seperti gelar atau ijazah. Sikap mental mencakup berbagai aspek seperti etos kerja, optimisme, ketahanan mental, ketekunan, kreativitas, serta kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari kegagalan. Dengan memiliki sikap mental yang positif, seseorang mampu memanfaatkan potensinya secara optimal dan membangun kepercayaan diri, serta mengatasi rintangan dan hambatan yang muncul dalam perjalanan hidup.
Sikap mental yang kuat juga memungkinkan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan, termasuk dalam bidang karir, bisnis, hubungan, dan kehidupan pribadi. Dalam dunia kerja, misalnya, seseorang yang memiliki sikap mental yang positif cenderung lebih produktif dan kreatif, serta mampu bekerja dengan baik dalam menjadikan impiannya menjadi kenyataan
Bukan berarti ijazah tidak penting sama sekali. Ijazah dapat membantu membuka pintu kesempatan, terutama dalam bidang yang membutuhkan kualifikasi tertentu seperti kedokteran, hukum, atau teknik. Ijazah juga dapat menunjukkan kemampuan seseorang dalam mempelajari dan menguasai materi yang diajarkan di kelas, serta menguji disiplin dan komitmen seseorang dalam menyelesaikan studinya.
Namun demikian, kesimpulannya, memiliki sikap mental yang kuat dan positif adalah faktor penting dalam menentukan keberhasilan seseorang. Dengan memiliki sikap mental yang baik, seseorang dapat memanfaatkan potensinya secara optimal, membangun hubungan yang positif dengan orang lain, dan mengatasi rintangan dan hambatan yang muncul dalam perjalanan hidupnya.
Kami Menjadi Saksi Hidup
Kami berdua,pernah menjalani hidup dalam kemelaratan ,bersama putra kami yang waktu itu masih satu orang. Kami tinggal di Pasar Kumuh yang bernama Tanah Kongsi di Padang.Kedai yang sekaligus menjadi tempat tinggal kami tiga beranak. Setiap jam 03.00 subuh ,kami sudah bangun. Isteri saya harus buru buru ke stasiun kereta api,dengan membawa putra kami yang belum genap berusia 4 tahun. Hal ini mengingat kalau seorang wanita,disaat subuh berjalan seorang diri ,akan dianggap bukan wanita baik baik. Demi menjaga marwah diri sebagai seorang isteri, maka putera kami ikut mendampingi.
Sementara saya membuka kedai dan mempersiapkan kelapa untuk diparut. Biasanya jam 04.00 subuh sudah mulai datang Pembeli. Karena umumnya yang beli kelapa parut adalah orang yang jualan cendol atau masakan. Untuk satu butir kelapa,saya dapat upah pada waktu itu 5 rupiah . Ditambah keuntungan dari kelapa yang dibeli oleh isteri saya di stasiun kereta api di Pariaman.
Di Pariaman,isteri saya membeli kelapa yang masih lengkap dengan kulitnya, Kemudian dengan Kereta api di Pariaman,dibawa dengan menumpang kereta api menuju ke stasiun Kereta Api Pulau Air di Padang. Dari sini,naik beca dengan membawa putera kami dan kelapa yang berhasil dibelinya.
Where there is a will,there is a way
Dimana ada kemauan ,pasti disana akan ada jalan. Hal inilah yang kami jadikan pegangan dalam mengarungi ombak dan badai kehidupan Kami bersyukur kepada Tuhan,setelah tujuh tahun hidup di titik nadir, jalan untuk mengubah nasib ada di depan kami.
Dari Penjual kelapa,saya berhasil menjadi Pengusaha .Dan putera kami yang dulu ikut merasakan penderitaan ,hidup di pasar yang sarat dengan kecoa, tikus dan lipan,kelak melanjutkan studi ke California State University. Kami melambungkan rasa syukur kepada Tuhan, dalam usia yang belum genap 21 tahun,putra kami Irmansyah Effendi, dinyatakan Lulus sebagai Master of Computer Science dengan predicate Magna cumlaude
Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada Tuhan dan mau bekerja tanpa putus asa. Untuk ini dibutuhkan sikap mental yang kokoh dan tidak mudah goyah. Kami tidak pernah meratapi nasib,karena meratapi nasib tidak akan mengubah apapun. Kami menyakini, bahwa nasib ada ditangan kita masing masing, My destiny is in my hands and your destiny is in your hands.
Sungguh Mahabesarlah Tuhan.












Selamat siang sahabat Penulis di YPTD
Terima kasih sudah menyempatkan untuk singgah
Salam hangat dari jauh