Cikar Transportasi Lawas yang Menghiasi Pagi Blitar
Tung Widut
Pagi ini, matahari terbit dengan sangat cerah. Sejak pukul 06.00, hangatnya sinar sudah terasa menyapa, sementara jalanan mulai ramai oleh hiruk-pikuk kendaraan. Namun, pemandangan yang paling mencolok adalah deretan ibu-ibu yang setia mengantar anak-anak mereka bersekolah.
Di tengah kesibukan pagi itu, ada sesuatu yang berbeda dan menjadi pusat perhatian para anak-anak. Sebuah alat transportasi zaman dahulu hadir di tengah mereka, memancarkan pesona sejarah yang jarang terlihat lagi. Di Blitar dan sekitarnya, alat itu dikenal dengan nama Cikar.
Sontak, wajah-wajah polos anak-anak itu berubah menjadi penuh keheranan. Mereka saling berbisik dan berbincang dengan ibunya sambil menunjuk ke arah cikar. Rasa kagum bercampur senyum lebar terpancar di wajah mereka, memandang kendaraan unik itu hingga perlahan menghilang di kejauhan.
Bagi yang belum tahu, cikar semacam gerobak besar yang ditarik oleh dua ekor sapi. Sebelum era truk dan mobil pick up hadir. Cikar salah satu transportasi utama yang sangat berguna. Alat ini menjadi andalan untuk mengangkut berbagai kebutuhan, mulai dari bahan makanan, pasir, hasil panen, kelapa, hingga kayu. Cikar perlahan mulai menghilang dari peredaran sekitar tahun 1980-an. Oleh karena itu, bagi mereka yang tumbuh dewasa di era 80-an, mempunyai kenangan manis yang tak terlupakan.
Salah satu kenangan paling seru dari keberadaan cikar terutama bagi anak-anak adalah tradisi “gandol”. Ketika cikar kosong melewati jalan desa yang belum beraspal, anak-anak suka berlarian dan naik ke atasnya. Orang yang mengemudikan atau menghalau sapi disebut “bajingan”( bahasa Jawa) .
Ada dua tipe “bajingan” yang sering ditemui:
– Bagi yang sabar, mereka akan menghentikan cikar dan membiarkan anak-anak naik sampai ke rumah pemilik cikar atau turun jarak tertentu.
– Namun, ada juga yang lebih tegas atau arogan. Mereka melarang anak-anak naik karena khawatir akan terjadi kecelakaan. Tak jarang, pecut (alat untuk menghalau sapi) disabetkan ke arah anak-anak. Meski demikian, anak-anak sering kali justru tertawa geli dan tetap berusaha naik meski sang pengemudi sedang marah.
Kini, di tahun 2026, cikar kembali menjadi pemandangan yang sangat menarik dan memikat hati anak-anak. Keberadaannya yang langka membuatnya terasa begitu istimewa. Semoga ke depannya, cikar tidak hanya menjadi kenangan, tetapi juga dilindungi dan dilestarikan sebagai salah satu warisan budaya berharga.













