Hati Istri Pejabat
Tung Widut
Jonathan mengangkat suaranya dengan nada yang meledak-ledak, “Untuk apa kamu berjualan? Apakah uang yang sudah kuberikan masih kurang? Kalau kamu mau, aku akan membelikanmu rumah, oke?”
Yohana hanya terdiam, tertegun menyaksikan amarah suaminya yang tiba‑tiba meledak. Ia tidak mampu menjawab apa‑apa, hanya menghela napas panjang lalu duduk dengan tenang di hadapan pria itu. Ini adalah pertama kalinya Jonathan marah sehebat ini. Selama ini suaminya selalu memenuhi semua kebutuhan keluarga, mulai dari makan sehari‑hari, jajanan anak, biaya kontrak rumah, pakaian untuk dirinya dan anak, bahkan masih tersisa sedikit uang yang bisa mereka tabung.
Yohana terus merenung dalam diam, pikirannya berputar kacau membayangkan keinginannya untuk berdiri mandiri sebagai perempuan. Pernikahannya dengan Jonathan hanyalah pernikahan siri, sementara Jonathan sudah memiliki istri sah dan anak dari pernikahan resminya. Meski begitu, Yohana merasa belum punya kekuatan untuk menolak kehendak Jonathan; pria itu menjadi sosok yang paling berpengaruh dan menguasai arah hidupnya saat ini.
Ingatan Yohana lalu melayang ke masa lalu yang pahit. Lima tahun sebelumnya, ia menikah dengan Hartono, suami pertamanya. Hartono bersifat sewenang‑wenang dan kerap melakukan kekerasan, hingga rumah tangga mereka hancur sepenuhnya. Bahkan orang tua Hartono pun berpihak kepada putra mereka, meskipun Hartono tidak pernah mau bekerja untuk menafkahi keluarga. Puncak penderitaan itu tiba saat Yohana sudah hamil tua dan terlalu lelah untuk bekerja, sehingga ia terpaksa mengundurkan diri dari pekerjaannya. Tak lama kemudian, ia diusir dari rumah tanpa tempat berlindung, berjalan tanpa arah di jalanan sampai tubuhnya benar‑benar kelelahan.
Suatu siang, Yohana berhenti dan duduk di teras sebuah toko untuk beristirahat. Belum sempat ia mengatur napas, perutnya yang hamil tua tiba‑tiba terasa sangat sakit. Saat itu Jonathan baru saja memarkirkan sepeda motornya di dekat sana, hendak berbelanja di Indomaret yang terletak di sebelah teras tempat Yohana duduk. Jonathan sempat bertanya apa yang terjadi, namun Yohana hanya mampu menggeleng lemah tanpa suara. Awalnya Jonathan masuk ke Indomaret seperti rencananya, tetapi setelah keluar ia terkejut melihat kondisi Yohana yang semakin parah. Ia segera berteriak meminta bantuan kepada orang‑orang di sekitar, menyadari Yohana mengeluarkan darah dan membutuhkan pertolongan segera.
Dipandu rasa iba yang mendalam, Jonathan membawa Yohana ke rumah sakit dengan cepat. Tak lama setelah tiba di sana, Yohana melahirkan. Momen pertolongan itulah yang menjadi awal hubungan mereka, yang kemudian membawa Yohana ke dalam kehidupan rumit yang ia jalani sekarang.
Yohana baru menyadari bahwa selama masa kritis itu, Jonathan‑lah orang yang mengantarnya ke rumah sakit, sehingga banyak orang mengira Jonathan adalah suaminya. Jonathan sibuk melengkapi segala keperluan bayi, menutupi kekurangan perlengkapan yang tidak sempat disiapkan Yohana yang hanya membawa barang seadanya. Sebagai staf penjualan di perusahaan cukup besar, Jonathan hanya sempat menjenguk Yohana pada siang hari karena rutenya searah dengan lokasi rumah sakit.
Tiga hari setelah dirawat, Yohana akhirnya memberanikan diri membuka pembicaraan.
“Maaf mbak, siapa nama Anda?” tanya Jonathan.
“Saya Yohana, Pak. Saya minta maaf sudah merepotkan Bapak. Saya ingin berterima kasih atas bantuan Bapak,” jawab Yohana sambil meneteskan air mata. Ia melepaskan kalung yang ia pakai. “Ini barang berharga milik saya, hanya ini yang saya miliki. Sisanya akan saya usahakan nanti.”
Yohana kemudian menceritakan seluruh kisah hidupnya: bagaimana ia diusir oleh suami dan mertua, pergi tanpa membawa harta apa pun. Jonathan menghela napas panjang setelah mendengar ceritanya. Sejak pertemuan itu, Jonathan membantu Yohana mencari kamar kos. Seiring waktu, kunjungan‑kunjungan ke kos membuat Jonathan semakin terkesan pada Yohana. Keduanya kemudian menikah secara siri, pernikahan yang harus dijaga kerahasiaannya, dan keduanya terjebak dalam kehidupan rumit yang nyata.
Jonathan duduk di kursi kayu dekat meja makan, menatap wajah Yohana yang tampak tenang namun matanya sudah berkaca‑kaca setelah menyajikan hidangan kesukaannya.
“Mas, saya mau bicara,” ucap Yohana dengan suara pelan. “Sebelumnya saya minta maaf. Seandainya Mas Jo tidak menolong saya waktu itu, mungkin saya sudah menjadi gelandangan yang hidup tanpa tujuan, bahkan mungkin tidak bisa bersama Sadewa, atau bahkan sudah tiada. Sampai kapan pun saya tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Mas.”
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Tapi Mas, suatu saat nanti Mas harus kembali ke keluarga sah Anda. Tahun depan anak‑anak Anda sudah mulai kuliah, sementara Sadewa juga sudah semakin besar. Saya ingin berdiri mandiri.”
Jonathan langsung menegakkan badan, suaranya meninggi karena terkejut dan terluka. “Apa? Kamu mau pergi? Atau kamu mau menikah dengan pria lain yang seusiamu, karena aku sudah mulai tua?”
“Mas, jangan salah paham dulu,” potong Yohana dengan tergesa‑gesa, air mata mulai jatuh di pipinya. “Jangan bicara dengan nada seperti ini. Jika tetangga sampai mendengarnya, ini sangat berbahaya untuk Mas. Orang‑orang yang belum tahu hubungan kita bisa terbongkar semuanya. Mas diam sebentar, dengarkan saya sampai selesai bicara.”
Jonathan terdiam, jidatnya mengkerut rapat, wajahnya menegang dan tangannya mengepal kuat di atas paha. Yohana mendorong cangkir kopi ke arahnya dengan lembut.
“Minumlah kopi ini selagi hangat. Kalau Mas sudah siap, saya akan melanjutkan pembicaraan saya. Tapi kalau belum…”
“Kalau belum, kamu akan meninggalkanku begitu saja?” tanya Jonathan dengan suara berat, tatapannya menatap lurus ke arah Yohana.
“Kalau Mas masih marah, saya akan menunda pembicaraan ini. Saya tidak ingin memaksa orang yang telah berjasa besar kepada saya,” jawab Yohana lembut, matanya sudah mulai berkaca‑kaca.
“Oke,” jawab Jonathan singkat sambil mengangguk pelan, menandakan ia bersedia mendengarkan.
“Suatu saat nanti Mas pasti harus kembali kepada keluarga sah Mas. Selama ini Mas tidak jujur kepada istrimu, itu berarti Mas masih sangat menyayangi keluarga tersebut, dan kebahagiaan mereka tetap menjadi tanggung jawab utama Mas. Saya ingin memperjelas, keputusan ini bukan karena saya jatuh cinta pada pria lain, tapi karena saya menyadari hubungan kita selama ini berada di jalur yang salah. Saya ingin memperbaiki diri dan hidup mandiri,” ujar Yohana dengan suara bergetar.
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan janjinya. “Sadewa sudah bisa saya bawa bekerja dari rumah. Nanti setelah usaha saya stabil dan saya memiliki cukup tabungan, saya akan memutuskan hubungan ini dan hidup sendiri, tanpa bergantung pada pria mana pun. Saya berjanji.”
Mendengar penjelasan tulus Yohana, Jonathan hanya terdiam dalam waktu lama. Rasa marah dan ketakutannya perlahan‑lahan mereda, ego yang selama ini ia pertahankan mulai terkikis. Ia menyadari perlahan bahwa keputusan Yohana memang masuk akal dan merupakan pilihan yang paling adil bagi semua pihak.
Beberapa hari kemudian, seorang pemuda mengenakan seragam abu‑putih mendatangi lapak nasi kuning milik Yohana yang terletak tidak jauh dari kos tempatnya tinggal.
“Kamu wanita bernama Yohana?” tanya pemuda itu dengan nada mengancam.
“Iya, Mas,” jawab Yohana tenang, jantungnya berdegup kencang namun ia sudah memprediksi bahwa hari seperti ini pasti akan tiba.
Tanpa peringatan, pemuda itu berteriak keras dan mulai mengobrak‑abrik dagangan Yohana. “Aku anak Jonathan! Aku tidak terima, kamu perempuan pelakor!” teriaknya menggelegar di sepanjang jalan.
Pak RT yang rumahnya berada tepat di seberang lapak segera keluar untuk melerai keributan. Awalnya pemuda itu enggan berhenti, terus melontarkan hinaan dan mengangkat tangan hendak memukul Yohana yang hanya terpaku diam, untungnya seorang pembeli segera menahan lengan pemuda itu sebelum pukulan mengenai Yohana. Dagangan nasi kuning Yohana hancur berantakan.
Keduanya kemudian diantar ke rumah Ketua RT untuk menyelesaikan perselisihan secara tertib.
“Maafkan saya. Tuduhan yang disampaikan memang benar, dan saya berjanji akan pergi dari sini serta mengakhiri hubungan dengan Pak Jonathan,” ujar Yohana dengan suara tenang namun berat.
“Kamu bohong! Mulut wanita pelakor mana bisa dipercaya!” sahut pemuda itu dengan nada meremehkan.
“Tenang, Mas, tolong tenanglah,” bujuk pak RT. “Saya menjamin bahwa selama hampir dua tahun tinggal di lingkungan ini saya benar‑benar berniat untuk bertanggung jawab atas keputusan saya. Jika Mas tidak percaya, silakan ambil ponsel saya sebagai jaminan, bisa disimpan oleh Pak RT maupun Mas sendiri.”
Kesepakatan akhirnya tercapai pada hari itu juga. Yohana berjanji untuk segera pindah dan tidak menghubungi Jonathan lagi.
“Mbak Yo, nanti mau tinggal di mana?” tanya Pak RT setelah pemuda itu pergi.
“Saya punya sedikit tabungan, Pak. Saya akan mencari kamar kos di tempat yang jauh dari sini,” jawab Yohana sambil menata

p puing‑puing dagangannya yang sudah tak dapat dipergunakan kembali.







