Kisah Omjay Bertahan dan Aktif di PGRI

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

BUKU24 Dilihat

“Ketika Guru Harus Bersuarakan Hati: Kisah Omjay Bertahan di PGRI demi Nasib Guru Indonesia”

Pagi itu, matahari belum sepenuhnya meninggi. Namun, pesan-pesan di ponsel Omjay sudah berdatangan sejak subuh.

Ada guru yang mengeluh soal kesejahteraan, ada yang bertanya tentang kebijakan baru pemerintah, dan ada pula yang sekadar curhat tentang nasibnya sebagai guru honorer yang belum juga diangkat menjadi ASN.

Bagi sebagian orang, pesan seperti itu mungkin terasa melelahkan. Namun bagi Omjay—nama yang akrab untuk Dr. Wijaya Kusumah, Guru Blogger Indonesia—pesan-pesan itu justru menjadi pengingat mengapa ia masih bertahan aktif di organisasi guru.

Di tengah kesibukannya sebagai guru, penulis, dan narasumber literasi, Omjay sering mendapat pertanyaan sederhana dari teman-temannya.

“Kenapa masih repot-repot mengurus organisasi guru?”

Pertanyaan itu wajar. Mengurus organisasi tidak selalu mendatangkan keuntungan materi. Bahkan sering kali justru menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Namun bagi Omjay, jawabannya selalu sama: karena guru membutuhkan suara.

Ketika Guru Tak Punya Tempat Mengadu

Tidak semua guru berani menyampaikan keluhan secara terbuka. Banyak yang memilih diam karena takut dianggap melawan kebijakan. Ada juga yang merasa suaranya tidak akan didengar.

Di sinilah organisasi guru memainkan peran penting. Salah satunya adalah Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI.

Melalui PGRI, para guru memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, berdiskusi, bahkan mengkritisi kebijakan pendidikan yang dirasa belum berpihak pada guru maupun siswa.

Omjay memahami betul hal itu. Sejak lama ia percaya bahwa pendidikan yang baik tidak hanya lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari keberanian para guru untuk menyuarakan kebenaran.

“Kalau bukan guru yang berbicara, siapa lagi yang akan memperjuangkan nasib guru?” kata Omjay suatu ketika dalam sebuah diskusi pendidikan.

Mengkritisi Bukan Berarti Melawan

Banyak orang salah paham ketika mendengar kata “kritik”. Kritik sering dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah.

Padahal bagi Omjay, kritik adalah bentuk kepedulian.

Ia percaya bahwa kebijakan pendidikan yang baik lahir dari dialog antara pemerintah, sekolah, dan guru. Tanpa masukan dari para guru di lapangan, kebijakan sering kali tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi di kelas.

Sebagai seorang guru yang setiap hari berhadapan langsung dengan siswa, Omjay merasakan sendiri bagaimana kebijakan pendidikan berdampak pada proses belajar mengajar.

Mulai dari perubahan kurikulum, sistem penilaian, hingga beban administrasi guru.

Semua itu membutuhkan evaluasi yang jujur dan terbuka.

Di berbagai forum, Omjay sering menyampaikan pandangannya dengan bahasa yang santun namun tegas. Ia tidak ingin sekadar mengkritik, tetapi juga menawarkan solusi.

Baginya, guru bukan hanya pelaksana kebijakan, tetapi juga mitra dalam membangun pendidikan.

Perjuangan yang Tak Selalu Terlihat

Mengurus organisasi guru bukan pekerjaan yang mudah. Banyak rapat yang harus dihadiri, banyak aspirasi yang harus diserap, dan banyak persoalan yang harus dicari jalan keluarnya.

Namun perjuangan itu sering tidak terlihat oleh publik.

Yang terlihat hanya hasil akhirnya: sebuah rekomendasi, sebuah usulan kebijakan, atau sebuah program peningkatan kualitas guru.

Omjay menyadari bahwa perjuangan semacam ini membutuhkan kesabaran. Perubahan tidak terjadi dalam semalam.

Namun ia percaya bahwa setiap suara yang disampaikan dengan niat baik akan menemukan jalannya.

Dari Ruang Kelas ke Ruang Perjuangan

Bagi Omjay, menjadi guru adalah panggilan jiwa. Ia mencintai pekerjaannya di kelas, bertemu dengan siswa-siswa yang penuh semangat belajar.

Namun di luar kelas, ia juga merasa memiliki tanggung jawab yang lebih luas: memperjuangkan profesi guru agar dihargai dengan layak.

Karena ia tahu, banyak guru yang bekerja dengan penuh dedikasi meski kesejahteraannya belum memadai.

Banyak guru yang tetap mengajar dengan hati, meskipun fasilitas terbatas.

Banyak guru yang tetap tersenyum di depan murid-muridnya, meskipun menyimpan banyak kelelahan.

Melihat kenyataan itu, Omjay merasa tidak bisa hanya diam.

Bertahan Demi Guru Indonesia

Di tengah berbagai kesibukan dan tantangan, Omjay tetap memilih bertahan di PGRI. Bukan karena jabatan, bukan karena popularitas.

Melainkan karena keyakinan bahwa organisasi guru harus tetap kuat agar suara guru tetap terdengar.

Baginya, memperjuangkan pendidikan adalah maraton panjang, bukan lomba lari cepat.

Butuh ketekunan, kesabaran, dan keberanian untuk terus berjalan.

Omjay percaya bahwa masa depan pendidikan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh gedung sekolah yang megah atau teknologi yang canggih.

Masa depan itu juga ditentukan oleh guru-guru yang berani bersuara demi kebaikan pendidikan.

Penutup: Suara Guru Adalah Suara Masa Depan

Suatu malam, setelah menyelesaikan tulisan di blognya, Omjay menutup laptop dan merenung sejenak.

Ia teringat pada ribuan guru di berbagai pelosok Indonesia—yang mengajar di desa terpencil, di sekolah sederhana, bahkan di ruang kelas yang jauh dari kata ideal.

Namun mereka tetap mengajar dengan penuh cinta.

Bagi Omjay, mereka semua layak diperjuangkan.

Itulah sebabnya ia memilih tetap aktif di PGRI.

Karena selama masih ada guru yang membutuhkan suara, perjuangan itu tidak boleh berhenti.

Dan Omjay percaya, ketika guru bersatu memperjuangkan pendidikan, masa depan bangsa akan menjadi lebih terang.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tinggalkan Balasan