
Menunggu TPG yang Tak Kunjung Datang: Luka Sunyi Guru Menjelang Lebaran
Pagi itu, seorang guru kembali melakukan hal yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya dengan hati yang penuh harap. Jarinya pelan menekan layar, berharap ada kabar baik yang muncul di sana.
Namun layar itu hanya menampilkan angka yang sama.
Tidak berubah.
Tidak bertambah.
Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang dijanjikan cair setiap bulan belum juga masuk ke rekeningnya.
Ia terdiam beberapa saat. Menarik napas panjang. Lalu menutup aplikasi itu dengan perlahan, seolah mencoba menyembunyikan rasa kecewa yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Sebentar lagi ia harus berangkat ke sekolah.
Anak-anak sudah menunggu di kelas.
Tidak ada yang tahu bahwa pagi itu seorang guru sedang menyembunyikan kesedihan kecil yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Beberapa waktu lalu, kabar tentang perubahan sistem pembayaran TPG sempat membuat para guru begitu bahagia. Pemerintah berencana menyalurkan tunjangan itu setiap bulan.
Bagi banyak orang, mungkin itu terdengar biasa saja.
Namun bagi guru, kabar itu seperti angin segar setelah penantian panjang. Selama ini TPG biasanya dibayarkan tiga bulan sekali. Akibatnya, banyak guru harus menunggu lama untuk mengatur kebutuhan rumah tangga mereka.
Ketika kabar pembayaran bulanan itu muncul, harapan pun ikut tumbuh.
Guru bisa mengatur keuangan keluarga dengan lebih tenang.
Tidak perlu lagi menunggu berbulan-bulan.
Tidak perlu lagi cemas menjelang akhir bulan.
Namun harapan itu perlahan berubah menjadi kegelisahan.
Memasuki Maret 2026, masih banyak guru yang bertanya-tanya.
Status mereka sudah valid.
Data di dapodik sudah sinkron.
SKTP sudah terbit dan berwarna hijau.
Namun TPG Januari belum juga cair.
Di ruang guru, percakapan yang sama kembali terdengar hampir setiap hari.
“Sudah cair belum?”
Pertanyaan sederhana itu kini terasa seperti luka kecil yang terus berulang.
Ada yang menggeleng pelan.
Ada yang tersenyum pahit.
Ada pula yang hanya memilih diam.
Karena mereka tahu, pertanyaan itu tidak selalu punya jawaban.
Seorang guru mungkin tidak pernah mengeluh di depan murid-muridnya. Ia tetap mengajar dengan penuh kesabaran.
Tetap menjelaskan pelajaran dengan suara yang tenang.
Tetap tersenyum ketika murid-muridnya bertanya.
Namun di balik semua itu, ada kehidupan yang juga harus ia jalani.
Ada keluarga yang menunggu di rumah.
Ada anak-anak yang harus sekolah.
Ada kebutuhan sehari-hari yang tidak pernah berhenti datang.
Menjelang Lebaran, kebutuhan itu terasa semakin nyata.
Banyak guru yang sebenarnya berharap TPG bisa cair sebelum hari raya.
Bukan untuk membeli kemewahan.
Bukan untuk berbelanja berlebihan.
Sebagian besar hanya ingin melakukan hal-hal sederhana.
Membelikan baju baru untuk anaknya.
Membayar utang kecil di warung dekat rumah.
Mengirim sedikit uang untuk orang tua di kampung.
Hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin tampak sepele, tetapi bagi seorang guru memiliki arti yang sangat besar.
Yang membuat hati semakin berat adalah ketika kabar lain mulai terdengar.
Beberapa guru di daerah lain sudah menerima TPG mereka.
“Alhamdulillah, sudah cair,” kata seorang teman di grup percakapan.
Kabar itu tentu membuat hati ikut senang.
Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan yang sulit dijawab.
Mengapa ada yang sudah cair, sementara yang lain masih menunggu?
Apakah sistemnya berbeda?
Apakah prosesnya belum selesai?
Ataukah memang ada sesuatu yang belum diketahui para guru?
Tidak ada yang benar-benar tahu.
Seorang guru hanya bisa menatap layar ponselnya setiap hari, berharap ada perubahan kecil pada angka di rekeningnya.
Namun anehnya, semua kegelisahan itu seakan hilang ketika seorang guru sudah berdiri di depan kelas.
Di sana, ia kembali menjadi sosok yang kuat.
Ia menulis di papan tulis.
Menjelaskan pelajaran dengan sabar.
Mendengarkan cerita murid-muridnya.
Tertawa bersama mereka.
Seolah tidak ada beban apa pun di hatinya.
Murid-murid mungkin tidak pernah tahu bahwa guru mereka sedang menunggu sesuatu yang belum juga datang.
Mereka hanya melihat seorang guru yang selalu hadir setiap pagi.
Yang selalu sabar menjelaskan pelajaran.
Yang selalu percaya bahwa masa depan anak-anak itu sangat berharga.
Mungkin itulah yang membuat profesi guru begitu istimewa.
Mereka tetap mengajar meskipun sedang menunggu.
Mereka tetap tersenyum meskipun hati sedang gelisah.
Mereka tetap menyalakan harapan di hati murid-muridnya, meskipun harapan untuk dirinya sendiri belum juga terjawab.
Menjelang Lebaran tahun ini, banyak guru yang masih menunggu satu kabar sederhana.
Bahwa TPG mereka akhirnya cair.
Bukan sekadar uang yang mereka tunggu.
Tetapi juga kepastian bahwa janji itu benar-benar ada.
Karena bagi seorang guru, janji bukan hanya kata-kata.
Janji adalah kepercayaan.
Dan ketika kepercayaan itu terlambat ditepati, yang terasa bukan hanya penundaan.
Tetapi juga luka kecil yang diam-diam disimpan di dalam hati.
Namun meski begitu, para guru tetap datang ke sekolah setiap hari.
Tetap membuka buku pelajaran.
Tetap menyalakan mimpi di kepala anak-anak negeri ini.
Sambil menunggu dengan sabar.
Sambil berharap dalam diam.
Karena di negeri ini, mungkin hanya guru yang mampu tetap setia mendidik anak bangsa… bahkan ketika haknya sendiri masih tertahan di perjalanan.













