
Kisah Omjay: Oleh-Oleh Umroh yang Menyimpan Air Mata Kerinduan
Di sebuah rumah sederhana di Wanaraja, Garut, tersimpan benda-benda kecil yang mungkin bagi orang lain hanyalah pajangan biasa. Ada teko berwarna keemasan, gelas-gelas kecil khas Timur Tengah, vas bunga, dan miniatur kendaraan dari Arab Saudi. Semuanya tertata rapi di atas meja dengan alas plastik bening yang sudah mulai kusam dimakan waktu.
Namun bagi Omjay dan istri, benda-benda itu bukan sekadar oleh-oleh.
Di sanalah tersimpan kenangan, doa, perjuangan, dan air mata kerinduan kepada Tanah Suci.
Tahun 2017 menjadi tahun yang tidak pernah dilupakan Omjay. Tahun ketika Allah SWT akhirnya memanggil Omjay dan istri untuk menunaikan ibadah umroh. Sampai hari ini, setiap kali mata memandang teko emas kecil itu, hati OmJay selalu bergetar.
Ada rasa haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Pagi itu di rumah Wanaraja Garut, OmJay berdiri cukup lama di depan meja tempat oleh-oleh itu disimpan. Cahaya matahari masuk perlahan dari jendela rumah. Pantulan sinarnya membuat teko dan gelas-gelas kecil itu tampak berkilau.
Tiba-tiba hati OmJay terasa sesak.
Ingatan OmJay kembali melayang jauh ke tahun 2017…
Saat pertama kali kaki ini menginjak Kota Madinah.
Saat air mata jatuh tanpa bisa ditahan ketika mendengar adzan berkumandang di Masjid Nabawi.
Saat OmJay berdiri mematung di depan Raudhah sambil berdoa untuk keluarga, anak-anak, sahabat, dan semua orang yang dicintai.
Tidak terasa air mata OmJay kembali menetes pagi itu.
Betapa cepat waktu berlalu.
Rasanya baru kemarin OmJay dan istri berjalan bersama di pelataran Masjidil Haram. Baru kemarin melihat Ka’bah untuk pertama kali dengan dada berdebar hebat. Baru kemarin tangan ini menengadah sambil memohon ampunan kepada Allah SWT.
Kini yang tersisa hanyalah kenangan… dan beberapa oleh-oleh sederhana.
Namun justru dari benda-benda sederhana itulah OmJay belajar tentang arti syukur.
OmJay teringat bagaimana perjuangan menabung untuk berangkat umroh waktu itu. Tidak mudah bagi seorang guru untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Ada banyak kebutuhan keluarga yang harus didahulukan. Ada biaya sekolah anak. Ada kebutuhan rumah tangga. Ada tanggung jawab yang tidak sedikit.
Tetapi Allah selalu punya cara.
Sedikit demi sedikit rezeki dikumpulkan. Sedikit demi sedikit doa dipanjatkan. Sampai akhirnya Allah benar-benar membuka jalan.
OmJay masih ingat bagaimana bahagianya istri ketika koper mulai dipersiapkan. Wajahnya bersinar penuh kebahagiaan. Mata beliau berkaca-kaca ketika pertama kali mengenakan pakaian ihram.
Dan hari ini…
Kenangan itu seolah hidup kembali hanya karena melihat sebuah teko kecil dan gelas-gelas mungil dari Arab Saudi.
OmJay kemudian duduk perlahan sambil memandangi miniatur kendaraan kecil di samping meja. Benda itu dibeli hanya karena lucu dan unik. Harganya mungkin tidak seberapa. Tetapi sekarang nilainya terasa sangat mahal.
Karena kenangan tidak pernah bisa dibeli.
Banyak orang mengira kebahagiaan ada pada rumah besar, kendaraan mewah, atau harta melimpah. Padahal kebahagiaan sejati sering kali tersembunyi dalam kenangan sederhana yang penuh cinta dan syukur.
Oleh-oleh itu menjadi saksi bahwa OmJay dan istri pernah menjadi tamu Allah.
Pernah menangis di depan Ka’bah.
Pernah berdoa di Multazam.
Pernah bershalawat di dekat makam Rasulullah SAW.
Dan setiap kali melihat benda-benda itu, hati OmJay selalu berbisik lirih:
“Ya Allah… panggil kami kembali ke rumah-Mu.”
Tidak terasa air mata kembali jatuh.
OmJay sadar, hidup ini sebenarnya hanyalah perjalanan singkat. Semua yang kita miliki akan tertinggal. Rumah akan ditinggalkan. Jabatan akan dilepaskan. Harta tidak akan dibawa mati.
Yang tersisa hanyalah amal dan kenangan baik.
Karena itulah OmJay selalu berusaha menulis setiap hari. Menuliskan pengalaman hidup, rasa syukur, pelajaran kehidupan, dan perjalanan spiritual dalam blog sederhana miliknya.
Sebab OmJay percaya:
“Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam ajaib bernama blog.”
Mungkin suatu hari nanti OmJay sudah tiada.
Namun tulisan-tulisan itu akan tetap hidup.
Anak cucu bisa membacanya.
Sahabat bisa mengenangnya.
Dan siapa tahu, ada orang yang kembali semangat beribadah karena membaca kisah sederhana OmJay.
Di rumah Wanaraja Garut itu, benda-benda kecil dari Arab Saudi akhirnya mengajarkan satu hal penting:
Bahwa kenangan spiritual jauh lebih mahal daripada kemewahan dunia.
Teko emas itu mungkin suatu hari akan kusam.
Gelas-gelas kecil itu mungkin akan retak dimakan usia.
Miniatur kendaraan itu mungkin akan rusak.
Tetapi rasa rindu kepada Tanah Suci tidak akan pernah hilang.
Rindu itu justru semakin tumbuh seiring bertambahnya usia.
OmJay kemudian memandang istrinya yang sedang tersenyum kecil melihat pajangan itu. Dalam diam, OmJay bersyukur dipertemukan dengan pasangan hidup yang selalu setia mendampingi dalam suka dan duka.
Perjalanan umroh tahun 2017 bukan hanya perjalanan menuju Makkah dan Madinah.
Tetapi perjalanan hati.
Perjalanan untuk lebih mengenal Allah.
Perjalanan untuk belajar bahwa hidup ini sangat singkat.
Dan pagi itu di Wanaraja Garut, OmJay kembali sadar…
Kadang Allah menghadirkan rasa haru bukan lewat sesuatu yang besar.
Tetapi lewat benda-benda kecil yang menyimpan kenangan paling dalam.
Mungkin itulah sebabnya air mata mudah jatuh ketika melihat oleh-oleh umroh lama.
Karena sesungguhnya yang dirindukan bukan barangnya.
Tetapi momen ketika hati terasa sangat dekat dengan Allah SWT.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com














