
Jelang akhir tengah tahun 2020 aku membaca tulisan dari pak Imanuel dengan tajuk Penulis Harus Tahu Perbedaan Cerita Anak dengan Cerita tentang Anak.
Setelah kubaca, link itu kubagikan kepada mas Rizal. Tujuanku untuk mengoreksi cerita anak yang kubuat dan sudah kukumpulkan dalam satu file. Ada fabel dan parabel.
Sekali lagi, membuat atau menulis cernak dilatarbelakangi oleh rasa iri kepada mbak Lina yang mahir dalam menulis fabel bersambung. Lalu mulailah aku belajar menulis cerita anak. Meski terkadang malah lebih banyak berisi tentang anak ceritanya.
Dari pengalaman menulis cerita anak, pernah pula kutulis tips menulis cernak ala aku. Kupublikasikan di akunku pada blog bersama, Kompasiana.
***
Menyadari keterbatasanku dalam menulis cernak, karena aku bercita-cita menerbitkan buku cernak yang akan kubagikan ke perpustakaan sekolah-sekolah di bawah persyarikatan di lingkup kabupaten tempat tinggalku.
Karenanya, aku meminta bantuan mas Rizal untuk mengoreksi. Meski pada akhirnya file cerita anak tak jadi dikurasi beliau yang terhormat. Ada sedikit mis komunikasi antara aku dan dia. Heheheh.
**
Kembali ke link yang kubagikan kepada mas Rizal, aku menanyakan apakah dia sudah membaca isinya ataukah belum. Lalu aku minta tolong sekalian untuk mengoreksi cernakku.
“Tolong dikoreksi cernakku sekalian ya, mas. Mungkin ada kata or kalimat yg terlalu sulit buat anak-anak. Hehehe.”
“Baru baca. Hahahah.”
Tak lama mas Rizal mengomentari isi tulisan itu.
“Tahun kemarin, Balai Bahasa dan DKJ malah meniadakan pemenang kategori cernak. Padahal, ratusan naskah yang masuk.”
“Kenapa?”
“Ceritanya tentang anak.Tapi pakai bahasa orang dewasa. Cernak Mbak dominan bahasa anak seperti di fabel. Termasuk mbak Ecy dan Mbak Lina.”
Mas Rizal mulai menganalisis tulisan cernakku dan mbak Ecy serta mbak Lina.
” Namun, ada beberapa yang masih pakai bahasa orang dewasa. Hihihi.”
Nah kan, hasil analisis sudah dikemukakan oleh mas Rizal yang sampai saat ini belum menghasilkan cerita anak.
“Ya makanya. Kan menjadi anak itu sulit. Jadi kalau nulis cernak terkadang lupa kalau harusnya berperan sebagai anak-anak.” Ujarku sambil curhat colongan.
“Iya. Gak apa! Hajar aja. Semua bakal gitu. Sering lupa peran saat nulis.”
“Iya. Hajar. Tapi kalau mau dicetak ya harusnya emang sudah berupa cernak.”
Lalu apa komentarnya?
“Aku pernah bilang, kalo aku susah nulis fabel, kan? Nah. Aku susah menghayal jadi anak. Perbedaan Cerita anak dan Cerita tentang Anak. Hanya orang-orang tertentu yang mengerti.”
Branjang, 22 Juli 2022












