
Entah apa yang kupikirkan dulu. Aku yang berteman dengan mas Rizal lewat dunia maya kok bisa menebak kalau dia adalah seorang pejabat. Sampai kini pun aku tak tahu, sebenarnya profesinya apa. Kalau sahabat dunia maya lainnya dengan terang-terangan menyebutkan profesinya masing-masing. Hehehe.
“Aku bukan pejabat, Mbak! Tanyakan aja ke semua orang. Cuma semua pada tahu, aku nggak urus dengan yang namanya jabatan. Aku orang lapangan. Gak ada jabatan.”
Lalu ada chat lain, saat nama mas Rizal kutuliskan pada refleksi naskah buku bersama.
“Mbak, coba hapus namaku di refleksi naskah kita. Aku yang edit, akan kuhapus namaku.”
Memiliki teman yang selalu menutup-nutupi keberadaannya dalam keseharian itu sesuatu yang luar biasa bagiku. Dalam beberapa grup yang kuikuti, entah grup alumni, peserta diklat, POT kelas, maupun penulis, terkadang ada yang selalu menunjukkan capaian luar biasanya di kantor, atau lingkungannya. Hanya beberapa orang yang tetap membumi.
Salahkah jika seseorang itu membumi?
Manusia memiliki kecenderungan ingin dipuji dan terlihat wah di hadapan orang banyak. Itu tak bisa ditolak meski dalam komunitas tertentu, orang yang suka pamer tidak disukai khalayak umum.
Nah jika menghadapi orang yang suka pamer kedudukan dan sebagainya, hanya satu yang bisa dilakukan, diamkan saja. Percuma jika kita berusaha menandingi atau istilah Jawa “ndhuwuri” karena mereka akan terus mempertahankan kelasnya yang tinggi. Akan capek sendiri pastinya.
Lebih baik jika kita lebih fokus pada teman yang membumi atau rendah hati. Merasa dirinya tak memiliki kelebihan, padahal dalam keseharian yang dilakukan menunjukkan hal yang luar biasa. Aku kira orang seperti ini lebih banyak disukai di manapun dan kapanpun.
Berteman dengan mereka yang membumi otomatis akan membuat kita belajar rendah hati juga. Bagaimanapun lingkungan entah rumah, lingkungan kerja, masyarakat akan membawa dampak bagi kepribadian.
Contoh kecil, ketika kecil tak jarang orang tua melarang kita untuk berteman dengan anak yang nakal. Tujuannya agar kita tidak ketularan nakal.
Boleh percaya atau tidak, aura positif dari teman akan memotivasi dan menginspirasi diri untuk bisa baik juga. Bukan berarti sama baik dengan teman karena hal tersebut tak mungkin terjadi.
Paling tidak, teman akan mengingatkan jika ada sesuatu yang ternyata tidak pantas dilakukan. Dan di lain kesempatan kita juga bisa mengingatkan jika ada hal negatif yang perlu dibenahi pada diri teman.
Meniru hal negatif akan lebih mudah bagi seseorang. Bahkan tanpa contoh orang lain pun, tanpa sadar kita bisa berbuat buruk. Nafsulah yang menguasai diri kita.
Akan tetapi meniru hal positif itu tidak mudah sama sekali. Butuh komitmen diri dan dukungan dari luar. Pastinya tidak akan didapatkan dari orang yang sombong atau tinggi hati.
Dukungan akan datang dari mereka yang merasa bukan siapa-siapa tetapi hatinya mulia. Mereka akan membantu kita untuk memfilter pengaruh negatif. Bahkan darinya kita belajar untuk menghargai dan membahagiakan orang sekalipun orang itu mungkin membuat senewen hati.
Manusia bukanlah makhluk yang sempurna tetapi bisa mengurangi aura negatif dengan bantuan teman yang membumi. Bagaimana menurutmu?
*Disadur dari naskah artikel Aura Positif Teman yang Membumi yang saya publikasikan di Kompasiana pada 17 Maret 2020.














