Habis Manis Sepah Dibuang

Habis manis sepah dibuang merupakan peribahasa Melayu yang mengandung makna mendalam tentang perilaku manusia yang memanfaatkan seseorang ketika masih berguna, namun melupakannya setelah kepentingannya selesai. Peribahasa ini berasal dari kebiasaan masyarakat dahulu ketika mengunyah tebu. Selama tebu masih manis, ia dinikmati dengan penuh selera. Namun setelah sari patinya habis, ampas atau sepahnya segera dibuang tanpa dihargai lagi. Gambaran sederhana ini menjadi simbol sifat manusia yang tidak tahu berterima kasih dan hanya menjadikan orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Islam mengajarkan sikap yang sangat berbeda. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 90: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kaum kerabat serta melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” Ayat ini menegaskan bahwa seorang mukmin wajib berlaku adil dan berbuat ihsan kepada siapa pun, bukan hanya ketika membutuhkan mereka, tetapi juga setelah memperoleh manfaat dari hubungan tersebut. Rasa syukur kepada sesama merupakan bagian dari syukur kepada Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda: “Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Hadis ini menjadi pedoman penting bahwa menghargai jasa orang lain merupakan akhlak seorang mukmin. Mengingat kebaikan seseorang, menjaga silaturahmi, serta tidak melupakan jasa mereka merupakan bentuk kemuliaan budi pekerti yang diajarkan Islam.
Dalam kehidupan bermasyarakat, peribahasa ini sering terlihat. Ada orang yang rajin menghubungi sahabat ketika membutuhkan bantuan pekerjaan, pinjaman, atau dukungan. Namun setelah berhasil mencapai tujuan, hubungan itu perlahan diputus. Telepon tidak lagi dijawab, pesan tidak dibalas, bahkan ketika orang yang dahulu membantu mengalami kesulitan, ia berpaling seolah tidak pernah mengenalnya. Sikap seperti ini melukai hati dan merusak kepercayaan yang menjadi fondasi persaudaraan.
Di lingkungan kerja pun demikian. Tidak sedikit pegawai senior yang dimintai tenaga, pikiran, dan pengalamannya selama institusi membutuhkan. Setelah memasuki masa pensiun, jasa-jasa mereka seakan terlupakan. Padahal pengalaman mereka masih sangat berharga sebagai sumber inspirasi bagi generasi penerus. Organisasi yang besar justru ditandai oleh kemampuannya menghormati para pendahulu, merawat hubungan baik, dan memberikan penghargaan kepada setiap insan yang pernah mengabdi.
Dalam kehidupan keluarga dan organisasi sosial, rasa terima kasih harus menjadi budaya. Orang tua yang membesarkan anak dengan penuh kasih sayang tidak layak dilupakan ketika usia mereka senja. Guru yang mendidik murid dengan penuh kesabaran patut dikenang sepanjang hayat. Demikian pula sahabat, tetangga, serta rekan kerja yang pernah hadir ketika kita berada dalam kesulitan. Hubungan yang dibangun atas dasar keikhlasan akan melahirkan keberkahan, sedangkan hubungan yang hanya didasari kepentingan akan cepat berakhir ketika manfaat duniawi telah hilang.
Peribahasa “Habis Manis Sepah Dibuang” mengingatkan kita agar menjadi pribadi yang setia, tahu berterima kasih, dan menjaga amanah hubungan antarmanusia. Kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari keberhasilannya, tetapi juga dari cara ia menghargai orang-orang yang pernah berjalan bersamanya. Sebab, manusia terbaik bukanlah mereka yang pandai memanfaatkan orang lain, melainkan mereka yang selalu mengenang jasa, membalas kebaikan dengan kebaikan, serta tetap menjaga persaudaraan walaupun kepentingan telah usai.
Pantun Penutup
Pohon tebu tumbuh di laman,
Manis rasanya hingga ke ruas.
Jangan lupakan budi dan teman,
Syukur terjaga, hidup pun berkualitas.
- Salam Literasi
13 Juli 2026 - Thamrin Dahlan
“Menulis adalah Jejak Kebaikan, Menghargai Jasa adalah Kemuliaan.”





