Trik Menghindari Kata Keterangan

Artikel ke 19
Trik Menghindari Kata Keterangan

Masih dalam konteks tips menulis kreatif, ternyata dalam menulis kreatif juga disarankan untuk menghindari kata keterangan. Tujuan menghindari kata keterangan, agar tulisan yang biasa menjadi lebih kreatif.

Memang pada kenyataannya kata keterangan hanya menjelaskan kata sifat, kata kerja dan kata keterangan lainnya. Artinya untuk mengolah frasa dan diksi agar lebih menarik sangat tidak memungkinkan.

Ada beberapa jenis kata keterangan, yakni kata keterangan waktu, tempat, alat, syarat dan sebab. Bisa dibayangkan dengan keterangan tersebut apa yang bisa diolah agar lebih menarik, yang ada malah akan teruntai kata-kata dan kalimat yang standar.

Misalnya, penulis bisa mengubah kata keterangan “Suami Ria sudah bekerja keras” menjadi frasa yang lebih menarik, seperti “Suami Ria bekerja sampai tidak sempat beristirahat sejenak”. Lihat perbandingan antara dua kalimat tersebut, mana yang lebih pas untuk dituliskan.

Memang menulis kreatif tidak sama dengan menulis biasa. Dalam menulis kreatif penulisan kalimat per kalimat harus diperhitungkan secara cermat. Namanya juga menulis kreatif, maka penulis dituntut untuk memaksimalkan imajinasinya dengan frasa dan diksi yang kreatif.

Apakah sulit menulis kreatif? Tidak juga sih, hanya perlu dibiasakan saja. Seperti pepatah mengatakan ‘Alah bisa karena biasa.’ Membiasakannya tentu saja dengan terus menulis, dengan demikian akan terbiasa.

Secara prinsif sebetulnya menghindari kata keterangan itu agar apa yang disampaikan tidak terlalu langsung. Kita butuh melibatkan emosi pembaca dalam membaca apa yang kita tuliskan. Itulah makanya banyak pemakaian frasa dan diksi yang tidak biasa dalam penulisan kreatif.

Saya punya pengalaman yang tidak mengenakkan terkait ini, ada pembaca yang protes terhadap novel yang saya tuliskan. Menurutnya, apa yang saya sampaikan terlalu terburu-buru, dan terlalu jelas apa yang disampaikan, sehingga dia tidak bisa menikmati cerita yang saya tuliskan.

Setelah mempelajari tips menulis kreatif, sedikit banyak saya mulai memahami bahwa, dalam menulis kreatif itu penulis harus mampu melibatkan emosi pembaca. Caranya ya itu tadi, hindari kata keterangan, atau menghindari penjelasan secara langsung dengan kata keterangan.

Memang tidak mudah, harus mempunyai perbendaharaan kata, untuk membuat frasa yang lebih menarik. Itulah pada artikel sebelumnya juga saya membahas soal pengayaan kosakata, karena erat kaitannya dengan penulisan kreatif.

Bagaimana mungkin seorang penyair kalau tidak memiliki kekayaan kosakata, juga seorang penulis Novel sastra, yang harus mampu mengeksplorasi kekayaan kosakata yang dimilikinya, untuk memperindah diksi yang disajikan, sehingga pembaca sangat menikmatinya.

Bukan cuma seorang pelukis atau desainer grafis yang harus sadar terhadap aspek keindahan. Dalam menulis juga aspek keindahan atau estetik sangat diperlukan. Cara memperindah tulisan adalah dengan memilih frasa dan diksi yang tidak biasa. Keindahan kata-kata itu justeru terletak pada pemilihan frasa dan diksinya.

Masing-masing penulis yang menulis kreatif tentunya mempunyai gaya tersendiri dalam menciptakan keindahan dalam tulisannya. Dan hal itulah yang menjadi ‘brandmark’ bagi seorang penulis yang sudah profesional.

Artikel ini sebetulnya lebih diperuntukkan bagi pemula yang ingin menulis kreatif, bukanlah penulis kreatif yang sudah profesional. Ya gak mungkinlah mengajar ikan berenang, yang ada malah saya yang kelelap.

Jadi kalau karya sastra itu sangat enak dibaca, dibandingkan karya tulisan biasa, karena sebagai pembaca kita sangat tercerahkan oleh berbagai metafora kata, dan frasa dengan diksi yang begitu indah, sehingga sebagai pembaca kita seperti terlibat secara emosional. Dan itulah yang membuat karya sastra itu lebih memiliki nilai dibandingkan karya yang biasa saja.

Ajinatha

 

Tinggalkan Balasan

2 komentar