Merdeka Tanpa Tapi

    gambar dari pixabay

    Hari ini aku datang lagi ke rumahmu
    Mengetuk perlahan pintu yang tak terkunci

    Kulihat ada cahaya redup di ruang tamu
    Sebuah lentera yang kacanya mulai buram, sendiri di dekat jendela

    Tampak bendera merah putih kecil yang kita beli dari seorang bocah di simpang lima beberapa tahun lalu, masiih kau pajang di atas nakas tua

    Aku berharap kau ada dan bisa menjawab tanyaku tentang satu kata, sebelum senja tenggelam di balik cakrawala

    Kamu menuliskan kata tentang merdeka,  sedang aku masih berimajinasi bagaimana rasa merdeka

    Mereka menulis kata merdeka di penjuru langit, sedang kita
    menikmati aromanya saja sambil menahan sakit

    Sebenarnya,  merdeka itu bagaimana?

    Apakah merdeka itu ketika jemari menari di atas tombol-tombol gawai, sambil bersandar dan santai    

    Atau saat telunjuk bisa menuding ke sana kemari?

    Atau barangkali merdeka itu bebas membuat luka, tak peduli kepada siapa

    Aku menunggumu membuka pintu dan menjawab pertanyaanku

    Bisakah kita merdeka tanpa tapi?

    Tsm,  08 Agustus 2021
    * Puisi ke 20 KMAA

    Konten ini telah tayang di Kompasiana

Tinggalkan Balasan

1 komentar