Madiun Mengalun

Alun-Alun Madiun itu mengubah nadanya Ruang-ruang terbuka publik telah menutup rongganya Ada lorong tua menunggu senja Wajah ikonik tanpa luka memburu bara Jantung kota sejak ratusan tahun lamanya Menjadi saksi

Pasukan Perawat Tanaman

Pagi itu halaman sekolah masih diselimuti embun. Burung-burung berkicau, sementara daun-daun di taman sekolah bergoyang pelan tertiup angin. Tepat pukul tujuh, Bu Ndari sudah berdiri di depan kelas dengan senyum

Berbagi Takjil

Jalan desa kelok berliku Ramai pejalan kaki Beban berat di kepala dan tangan   Sesekali satu tangan menyeka keringat Sedikit lega namun tetap mengucur Sayup terdengar suara riuh rendah  

Zakat

Jangan bangga atas apa yang kau miliki Hanya harta titipan untuk kau simpan Satu sen kau keluarkan, satu sen pula harus dipertanggungjawabkan   Mana bisa dikatakan itu milik kau Sedangkan

Berbuka Puasa

Bulan penuh rahmat Bulan penuh ampunan Lapar dahaga hanya sementara   Ada yang sibuk susun hidangan penggugah selera Sesekali tengok sesama Mungkin sejak kemarin menahan dahaga   Sibuk berbagi sisihkan

Multikultural

Tak sekadar nusa Ragam budaya pesona hiasi mayapada Suku bangsa, bahasa beraneka warna   Bagiku agamaku Bagimu agamamu Tak terusik bersatu padu   Rekat berbudaya Sadar diri tanpa  konflik Hidup

,

Pemilu

Pemilu… Tak sekadar memilih Namun, membuat pilu   Masa lalu terdengar gaung lagu Kendati pun sebatas kepatuhan Sekejap dan berlalu   Lepas tanpa bekas Kemudian terhempas Menyisakan seonggok luka dalam

,

Cinta

Cinta bak kupu-kupu Terbang tinggi Hinggap di mana saja yang dia ingini   Tak harus dimiliki Cinta itu satu Hanya pada-Mu Ya Tuhanku   Maaf rinduku yang kurang besar untuk-Mu

Bilur Resah

Ia tak berlaga sebab ini bukan apa-apa Juga dalam ingatannya diri bukan siapa-siapa Dalam hening menghadirkan segala rasa Damai…, indah dalam hadirNya   Diri sering lupa Arus waktu telah menggerusnya

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.