KMAC 26. Puisi : Peluru Kata Melucuti
Penulis : Theresia Martini, S.Ag., M.M
Setiap kali kaki menginjakan aspal kenangan pahit yang menyiksa diri, setiap kali luka menganga begitu perih ternikmati.
Walau telah berupaya menanam pengampunan, kelemahan dan ketidakmampuan selalu menyeret diri dalam kepedihan luka dari peluru kata yang kau beri.
Begitu hebatnya peluru kata berbisa darimu Si Tuan Pesta, menyiksa dan meracuni, ternikmati tanpa harus kuminta tuk hadir menemani.
Entah bagaimana aku mengubur semua rasa sakit tak terperih ini, walau diri telah berupaya menepi dan memaklumi.
Hingga kutuliskan satu kepedihan taktertahan dalam rupa pusi, untuk melepas segala kesakitan yang menghantui.
Maafkan aku Tuhan, yang belum dapat menghapus dan melupakan rasa sakit yang begitu dalam.
“Saya Boleh Hidup Dalam Penghinaan,
tapi Saya Tidak Boleh Mati Dalam Kehinaan”
Peluru Kata Melucuti
Seteguk nyeri ternikmati
mengintip di celah sudut hati
terbayang semua gambar diri
tersungkur peluru kata melucuti
Masih terukir jelas jejak kaki
Si Tuan Pesta menyakiti
begitu setia menyetubuhi diri
yang hadir dalam rupa puisi
Remahan gurih caci maki
takpernah ingin menjauh pergi
seakan hadir tuk’ menemani
sebagai beker pengingat diri
Si Tuan Pesta kini tiada lagi
terkubur hangus di jelaga bumi
ditemani kesombongan insani
berkelana bagai tabib suci
Yogyakarta, 08 Maret 2023














