Siang tadi aku kedatangan tamu istimewa, kenapa kusebut istimewa?, sabar dong netizen, ini masih soft introduction. Selama masa pandemi covid-19, beragam tantangan yang kami, para guru hadapi dalam kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). You knowlah bagaimana menselaraskan frekwensi dengan ratusan siswa yang tentu saja dengan beragam karakter, latar belakang, status sosial, kultur, dan lainnya. Sebagai guru abad 20, sudah barang tentu kondisi yang dihadapi sejak seperempat abad yang lalu hingga hari ini sangat jauh berbeda. Selain harus membekali diri dengan teknologi, tanpa bisa menawar sedikitpun (naluri sebagai guru ekonomi nih), maka juga harus mempelajari perubahan besar yang telah terjadi terhadap dunia pendidikan. Namun, sudah siapkah dengan kondisi yang terkadang jauh diluar dugaan?
Sesuai jadwal piket selama Penilaian Tengah Semester (PTS), agak bergeser sedikit dari hari rabu ke jum’at dan sabtu, pukul 09.00 WIB aku sudah stand by di sekolah. Sejak pukul 08.00 WIB siswa kelas X MIA mengikuti ujian lintas minat ekonomi via google classroom dengan format google form, semoga netizen tidak bingung dengan istilah-istilah tersebut. Kuayun langkah melongok sejenak ruang kelas X IPS-4, ruangan dimana seharusnya anak-anakku belajar, melintasi musholla yang membeku, sebab sudah jarang digunakan untuk sholat dhuha dan dzuhur serta tilawah kelas. Sepi, sedih, …beruntunglah taman sekolah yang ditata dengan apik oleh Mas Nurdin mampu membantu mengimbangi suasana haru biru.
Tetiba di ruang guru, rekan guru yang juga alumni menyampaikan bahwa ada yang ingin bertemu, seorang bapak, katanya. Seingatku, tidak ada janji dengan siapapun, apalagi Surat Panggilan Orang Tua (SPO), kecuali seorang sahabat lama yang janji akan menelepon. Namun janji itupun tidak begitu kuingat, karena masih menunggu lembar jawaban siswa yang ujian secara manual.
Kembali ke awal, tentang tamu istimewa. Akhirnya jelang pukul 11.00 WIB seseorang mengucapkan salam di depan ruang guru, mencari wali kelas anaknya. Kubiarkan saja dulu beliau bicara dengan Wakasek Kurikulum, karena kebetulan bu Wakasek sedang membenahi lembar jawaban siswa. Tanpa berlama-lama, saya persilahkan beliau duduk, nah tepatnya bertatap muka, tentu jaga jarak dong ya. Aku paling sungkan menatap berlama-lama, hanya sekali dua kali kulayangkan pandangan untuk membaca gesture beliau, dan yes, aku tidak ragu untuk berdamai dengan hati. Karena beliau menyadari bahwa sikapku juga sudah welcome, maka mengalirlah berbagai cerita tentang kondisi beliau, pekerjaan, pengalaman ketika merantau, dan seterusnya.
Jujur, awalnya saya underestimate, sudah siap dengan sikap kurang bersahabat, namun sebaliknya, komunikasi mengalir begitu saja. Agak tertegun juga aku mendengar istilah yang beliau pakai, mulai dari driver, UMR, training. Walaupun beliau mengaku tidak tamat SMA, namun bagiku perbincangan siang tadi sungguh seperti diskusi ringan dengan tamatan Strata 1. Seorang bapak yang pendidikannya sangat minim, mampu berbahasa dengan baik, santun, buatku adalah hal langka, kalah nih yang sarjana tapi selalu mengedepankan keakuan dan keangkuhan. Maka, pantaslah kusebut tamu istimewa. Betapa tidak, seorang bapak, driver, yang tidak tamat SMA, faktanya sangat nyambung diajak bicara.
Pelajaran lain yang kudapat hari ini, sungguh, janganlah menilai orang dari casing, nanti anda bisa salah.
Jadi begini ceritanya. Putri beliau adalah siswa di kelas yang kuasuh, tepatnya kelas ujung, X IPS-4. Sejak awal diberi amanah kelas ujung, aku sudah pasrah, hanya bisa berucap basmalah, sebab biasanya kelas dengan buntut ujung identik dengan kelas paling banyak masalah. Setelah berjalan beberapa minggu, dugaanku keliru, ternyata kelasku justru termasuk kelas paling gampang diatur, meski ada beberapa masalah yang berkaitan dengan PJJ.
Dan putri beliau putus kontak dengan grup wa kelas, hingga tidak dapat mengikuti PJJ dan tentu saja melewatkan informasi penting tentang sekolah. Untuk menjelaskan hal itulah si bapak datang, yang tentu saja kurespon dengan amat sangat bahagia. Yah, bahagia dong ketika orang tua siswa bersedia luangkan waktu, karena anak yang mereka titipkan ke kami para guru, tetaplah harus dibawah bimbingan orang tua juga. Betapa banyak orang tua yang tidak perduli, abai terhadap kondisi anak yang sebenarnya sudah “sekarat”, ujug-ujug menyalahkan guru ketika tiba pada pilihan tersulit.
Tanpa terasa, adzan dzuhur berkumandang dikejauhan. Segera kuakhiri bincang ringan tapi penuh makna dengan beliau, seorang bapak tangguh, superduper daddy, walaupun bekerja sebagai supir, namun wawasannya sangat luas. Satu hal yang masih terngiang dibenakku, apa sih cerita turun temurun yang diwariskan kakak kelas kepada adek-adeknya, hingga aku diberi brand “galak plus garang”. Karena, si bapak, agak sungkan juga beliau menyampaikan, putrinya tidak berani menemuiku di sekolah, bahkan sekadar japri juga tidak punya nyali. Namun aku yakin, setelah bertemu dengan durasi 1 jam lebih, si bapak sudah memahami apa maunya wali kelas putrinya tersebut.
Sebelum pulang beliau berkata, “namanya juga borneng iya kan bu, mana ada borneng yang gak galak”…aku tertawa saja sembari mengiyakan dalam hati. Sebab, jangankan ke orang lain, berhadapan dengan anak kandungku sendiri juga tetap galak. Jika orang berkata benar terhadapku, aku tidak marah, biar saja, yang penting niatku ikhlas mendidik supaya kelak mereka jadi manusia-manusia tangguh yang bisa survive, sebab dunia ini buas. Ibarat kata Mr. Big, oh baby baby it’s a wild world. Teruntuk para borneng sejagat raya, jangan marah ya kalau kalian tidak galak, gitu aja repot. Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul kuat babontuk elok.








