Setelah selesai mengaji, semua jamaah berkumpul mengelilingi Pak Haji Samsuri dan Ibu Hajjah Aminah yang baru saja tiba kembali dari Tanah Suci seminggu lalu untuk yang kedua kali. Rasa penasaran pun muncul.
Pak Karto membuka percakapan:
“Alhamdulillah, selamat pulang dan diterima ibadahnya, Pak Haji, Bu Hajjah. Kami semua penasaran, bagaimana penyelenggaraan haji tahun ini? Apakah ada perubahan atau hal baru yang terasa dibanding tahun-tahun sebelumnya?”
Pak Haji Samsuri tersenyum lebar, lalu mulai bercerita:
“Terima kasih doanya. Alhamdulillah, haji tahun ini berjalan lancar. Dan memang, ada banyak perubahan yang kami rasakan langsung selama di sana, semuanya terasa lebih baik dan teratur.”
Ibu Aisyah segera bertanya:
“Bisa diceritakan satu per satu perubahannya? Kami yang masih menunggu giliran jadi tahu gambaran sebenarnya.”
Pak Haji Samsuri menjelaskan dengan rinci:
“Pertama soal pembagian kuota dan antrean. Tahun ini sistemnya sudah tidak lagi berdasarkan jumlah penduduk di daerah, tapi berdasarkan lamanya mendaftar. Akibatnya, waktu tunggu menjadi lebih adil, rata-rata sekitar 26 tahun saja, tidak ada lagi yang menunggu terlalu lama dibanding daerah lain. Kami juga merasa jumlah jemaah terbagi rapi, tidak terlalu padat berlebihan.”
Ibu Hajjah Aminah menimpali sambil mengangguk:
“Yang paling terasa jelas adalah biaya dan kenyamanannya. Tahun ini biaya yang kami bayarkan lebih ringan, dan fasilitasnya justru lebih baik. Akomodasi di Mekkah dan Madinah jaraknya lebih dekat ke Masjidil Haram, angkutannya tertata, dan air minum tersedia melimpah.”
“Terus soal kondisi di tempat ibadah seperti Arafah dan Mina bagaimana?” tanya Pak Karto lagi.
Pak Haji Samsuri melanjutkan:
“Di sana juga ada perubahan besar. Suhu memang cukup panas, mencapai 40 derajat lebih, tapi pemerintah menyiapkan Skema Murur untuk kami yang sudah lanjut usia atau kurang sehat. Kami bisa naik kendaraan khusus tanpa harus berjalan jauh. Tenaga medis juga ada di setiap pos, klinik buka 24 jam, dan pelayanannya sangat sigap.”
“Kemudian soal panduan dan informasi juga jauh lebih mudah,” tambah Ibu Hajjah Aminah. “Kami diberi akses aplikasi resmi, jadi tidak bingung mencari lokasi atau jadwal. Petugas pembimbing juga lebih banyak dan siap membantu kapan saja.”
Pak Karto menyimpulkan sambil tersenyum:
“Jadi intinya perubahannya ke arah yang lebih baik ya? Lebih adil, biaya lebih terjangkau, dan keselamatan lebih terjaga.”
“Benar sekali,” jawab Pak Haji Samsuri. “Tujuannya agar kami bisa fokus beribadah tanpa banyak terbebani urusan teknis. Semoga perbaikan ini terus berlanjut, dan semoga yang belum berangkat segera dipanggil Allah SWT.”
Semua jamaah pun mengaminkan dengan haru dan rasa syukur.
Ciputat,
23 Juni 2026
Wak Haji Pulang Haji








