Sebuah Potret Petani Padi yang Tangguh di Tengah Kenaikan Harga BBM

Berita, Terbaru, YPTD67 Dilihat

Konon negeri ini adalah bumi agragris yang subur makmur loh jinawi. Namun ironisnya kebutuhan pokok rakyatnya masih tetap mengandalkan impor, termasuk beras.

Sementara lahan sawah dari tahun ke tahun terus berkurang karena adanya kebijakan pemerintah yang berkedok pembangunan infra struktur sehingga lahan sawah mengalami perubahan fungsi menjadi perumahan, jalan tol dan pabrik.

Dari informasi Badan Pusat Statistik disebutkan bahwa pada tahun 2023 saja luas lahan padi sudah berkurang sebesar 256 Ribu Ha dari luas tahun sebelumnya dan dari tahun ke tahun terus menyusut.

Penyusutan luas lahan padi tersebut mengakibatkan panen padi juga berkurang menjadi 30,90 juta ton beras. Tahun sebelumnya produksi beras kita mencapai 32 juta ton sehingga ada penurunan sekitar 1,1 juta ton.

Sedangkan kebutuhan beras nasional kita sudah mencapai angka sebesar 31,5 juta ton per tahun atau konsumsi per kapita per tahun sebesar 94-114 kg.

Hal ini berarti memang dibutuhkan impor beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Semuanya akibat berubahnya peruntukan untuk lahan sawah yang tidak menanam padi lagi.

Potret Petani Padi yang Tangguh 

Sebuah potret petani padi yang tangguh di tengah harga BBM yang naik harus dihadapi dalam realita keseharian mereka di Kampung Cikeueus, Desa Rahayu Kabupaten Bandung.

Mereka baru saja panen padi dan beberapa hari kemudian sudah mulai lagi mengolah tanah sawah mereka untuk musim tanam berikutnya.

Tahapan penting dalam budidaya padi adalah membajak tanah sawah sehabis panen. Pekerjaan ini bisa dikerjakan dengan cara tradisional yaitu bantuan sapi atau kerbau.

Namun juga bisa dengan cara mekanik dengan menggunakan traktor mini. Membajak sawah menggunakan traktor mini adalah proses mekanisasi pertanian untuk menggemburkan tanah dan membalik sisa tanaman.

Memang dengan cara ini jauh lebih efisien dibandingkan cara tradisional, karena memungkinkan petani menggarap lahan lebih cepat, menghemat tenaga dan waktu.

Begitu juga dengan cara mekanisasi mesin pertanian ini, bisa meningkatkan kesuburan tanah dengan mengubur dan mengikis habis gulma sebagai tanaman pengganggu sehingga lahan sudah siap tanam.

Traktor mini adalah mesin pertanian berukuran kompak yang dirancang untuk membantu mengolah tanah, menanam, atau menarik peralatan pertanian lain di lahan yang berukuran sempit dan ini cocok bagi para petani kecil dengan lahan terbatas.

Namun yang menjadi masalah saat ini, tengah dihadapi oleh mereka adalah kenaikan BBM yang terjadi baru-baru ini. Mini traktor yang mereka sewa banyak yang menggunakan bensin.

Dalam beberapa hari terakhir ini bensin jenis pertalite sudah sangat langka di temui di pedesaan yang ada adalah jenis pertamax yang harganya naik. Apalagi mereka juga tidak dibolehkan membeli pertalite menggunakan jerigen. 

Mereka apa boleh buat harus menggunakan jenis bensin pertamax tersebut karena kebutuhan mendesak agar proses peoduksi tidak sampai terlambat dari jadwal rutin mengolah sawah mereka.

Bertani Padi dengan Metode Salibu 

Sebenarnya cara bertani bisa dilakukan dengan berbagai metode. Selain bertani yang lazim saat ini, ada metode lain yaitu metode Salibu singkatan dari Salin Ibu.

Metode ini adalah cara bertani padi tanpa melakukan bajak sawah dan tandur bibit, kemudian tanaman dibiarkan tumbuh lagi sampai musim panen berikutnya tiba.

Beberapa waktu yang lalu ada petani di Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran memanen padi dengan metode Salibu, yaitu cara bertani tanpa tandur. Metode tersebut adalah dengan sekali menanam dan bisa memanen hingga tujuh kali dalam satu tahun.

Sesungguhnya metode Salibu ini bukan metode yang terbaru karena metode tersebut telah ada di Indonesia sejak tahun 1960-an. Hanya saja memang dengan metode ini panen padi dari panen pertama sampai panen berikutnya hasilnya terus berkurang.

Metode ini bisa saja mereka pilih sebagai cara yang lebih ekonomis dibandingkan dengan cara sistim bajak lahan dan tandur bibit baru. Namun mereka harus memastikan perhitungan keuntungan dan kerugian dari metode tersebut.

Kendati demikian para petani saat ini hanya tinggal memilih cara bertani yang mana yang bisa membuat produksi padi mereka menguntungkan bagi pendapatan mereka yang terus berkurang akibat ketidak pastian ekonomi yang melanda negeri kita saat ini. 

Salam Lestari @hensa17.

Tinggalkan Balasan