KMAB 9 Pindah Lagi

Terbaru536 Dilihat

KMAB 9

Perjalanan  Hidup

Pindah Lagi

Oleh Lusia Wijiatun

Kehidupan orang tua Tami makin hari makin membaik. Pak Paul berusaha mencari rumah sewaan yang agak besar, supaya terasa lebih nyaman. Apalagi adik Tami  tidak lama lagi akan lahir.  Tami sangat menantikan kelahiran adiknya.  Tami merasa senang karena akan mempunyai adik.

Maka Pak Paul mencari rumah sewaan tidak jauh dari tempat mereka yang sekarang. Sore itu mereka pindah ke rumah sewa yang baru, rumahnya agak luas. Disamoing kanan rumah ada sungai kecil aliran irigasi, airnya cukup deras. Di belakang rumah terdapat sungai yang lebih besar.

Tidak lama tinggal di situ adik Tami lahir, adik Tami berjenis kkelamin laki-laki. Dengan kelahiran adik Tami maka ibu tidak berjualan sayur lagi. Yang mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan keluarga  ayah sendiri, dengan membuka jasa pangkas rambut. Terkadang ayah harus mencari kerja tambahan agar kebutuhan keluarga terpenuhi.

Jasa pangkas  rambut ayah rupanya agak sepi, sepuluh hari kemudian ibu mulai berjualan lagi. Sebenarnya kesehatan ibu belumlah pulih. Namun demi memenuhi  kebutuhan keluarga terpaksa ibu melakukannya. Adik   dijaga oleh Tami, kakak Tami tak dapat membantu mengasuh adiknya, karena mereka harus sekolah. Jadi pagi  hari Tami lah yang menjaga adik bayinya.

Sesekali ayah atau ibu pulang untuk melihat keadaan Tami dan adiknya. Kadang-kadang adiknya dibawa ke pasar. Ibu menggendong adik Tami sambila berjualan.

Suatu hari adik Tami mengalami sakit, badannya panas. Saat ibu menyusuinya mulutnya tidak bergerak. Matanya hanya tertutup. Suara tangisnya pun tak terdengar, tiba-tiba ibu menangis memanggil ayah yang saat itu sedang mencuci popok di sungai.

Ayah segera datang menghapiri ibu, sambil bertanya, “ Ada apa bu?” Ibu tak kuasa menjawab, ibu terus menangis. Ayah memegang adik Tami, ternyata adik Tami telah tiada. Ya, Adik Tami telah pulang ke rumah Bapa di Surga.

Ayah menenangkan  dan menghibur ibu agar mengiklaskan kepergian anaknya. Ayah segera melaporkan  kejadian ini kepada pihak pengurus Gereja. Adik Tami segera di bawa  ke Gereja untuk didoakan dan dimakamkan.

Tidak banyak orang yang datang saat kejadian itu, mungkin kelurga Pak Paul adalah keluarga yang baru saja pindah, atau mungkin karena hal lain.

Tiga hari setelah adik Tami meninggal,  Pak Paul  pindah lagi di rumah kontrakan yang dulu ditempati. Untung saja belum ada orang yang menyewanya. Orang yang punya rumahpun memberi izin kepada keluarga Pak Paul.

Cukup lama  mereka tinggal di situ, Ayah semakin tekun dan ulet bekerja, Jasa pangkas rambutnya mulai ramai. Banyak orang yang cukur kepada ayah.  Anak- anak juga senang bila dicukur oleh ayah Tami. Ayah semakin bersemangat melakukan pekerjaannya, Apalagi memang perlu biaya yang banyak untuk mencukupi kebutuhan sekolah.

Kakak Tami bersekolah di sekolah swasta, Sekolah itu yang diinginkan oleh ayah mereka. Karena sudah lama tidah masuk sekolah. Kedua  kakak Tami harus mengulang di kelas yang sama pada waktu di Jawa dulu. Harusnya  sudah naik  di kelas berikutnya. Ya tidak apa-apa yang penting bisa masuk sekolah lagi.

Hari pertama masuk sekolah mereka merasa canggung, lama kelamaan mereka pun terbiasa.Sekolah  tempat kedua kakak Tami belajar, merupakan sekolah swasta yang tergolong mahal.Tapi tidak apa, ayah akan berusaha memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak mereka.

Apalagi Tami juga akan masuk sekolah, ayah harus lebih giat lagi.   Penghasilan  ayah untuk membayar uang sekolah tiap bulannya. Sebagian  lagi ditabung Untuk keperluan makan, menggunakan penghasilan ibu berjualan sayuran.

Ekonomi keluarga mereka semakin membaik, ayah sudah dapat membeli sepeda.  Dengan sepeda itu, ayah dapat berkeliling menawarkan jasa  pangkas rambut yang biasa disebut tukang cukur. Ia berkeliling setelah membantu ibu membuka dasaran jualannya. Menjelang siang ayah menjemput dan membantu ibu kembali. Kemudian  mereka pulang bersam-sama.

Sumber:https://id.carousell.com/p/gazelle-bicycle-sepeda-vintage-onthel-antik-tahun-1970-an-1161603165/

Begitulah kegiatan rutin Pak Paul dan istri setiap harinya. Mereka terlihat  bahagia  dan sngat menikmati hidup mereka dengan penuh syukur. Tiap hari minggu, mereka libur, karena mereka harus beribadah ke Gereja.

Tinggalkan Balasan