Undangan Kecil, Apresiasi yang Berarti

Terbaru4 Dilihat

Undangan Kecil, Apresiasi yang Berarti

Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

pexels-ifenacho-solomon-285180192-14867242

Pagi itu, setelah menunaikan salat Subuh, saya membuka pesan yang masuk. Ada sebuah undangan dari Bapak Tjiptadinata, salah seorang penulis senior Kompasiana yang saya kenal sebagai sosok yang konsisten menulis dan terus berkarya.

Beliau mengundang kami, komunitas penulis Kompasiana, untuk hadir dalam acara spesial launching buku terbarunya.

Saya tersenyum membaca undangan itu. Namun, dalam hati saya masih bertanya-tanya, buku yang mana yang akan diperkenalkan dan beliau ceritakan kepada kami?

Rasa penasaran itu kemudian membawa saya mengintip informasi di grup 83 JUDUL BUKU YPTD. Dari sana saya mengetahui bahwa Bapak Tjiptadinata sedang menulis buku berjudul Bangkit Dari Keterpurukan. Sementara itu, Ibu Roselina, pasangan setia beliau, juga sedang menulis buku berjudul Kilas Balik 76 Tahun Hidupku.

Dua judul yang menurut saya sangat menarik.

Bangkit Dari Keterpurukan seolah mengajak pembacanya melihat bahwa hidup tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika seseorang harus jatuh, menghadapi kesulitan, kemudian mengumpulkan kembali kekuatan untuk bangkit.

Sementara Kilas Balik 76 Tahun Hidupku tentu menyimpan perjalanan panjang seorang perempuan yang telah melewati begitu banyak pengalaman kehidupan. Sebuah perjalanan yang pastinya tidak hanya berisi cerita bahagia, tetapi juga suka duka, perjuangan, pembelajaran, dan kenangan.

Saya pun semakin penasaran, buku mana yang akan menjadi kejutan dalam pertemuan nanti.

Sebuah Undangan yang Menghangatkan Hati

Dalam undangannya, Bapak Tjiptadinata menyampaikan bahwa kami akan berkumpul pada:

Sabtu, 10 Oktober 2026
Pukul 11.00 WIB sampai selesai
RM Sederhana, Jl. Juanda
Ruang VIP

Acara tersebut bukan sekadar launching buku. Beliau juga mengundang beberapa tokoh yang sudah tidak asing lagi bagi komunitas Kompasiana, di antaranya Mas J. Heru Margianto, COO Kompasiana, serta Kang Pepih Nugraha, mantan COO Kompasiana, dan Mas Nurulloh.

Sebelum makan siang bersama, akan diawali dengan ramah tamah dan saling menyapa. Sebuah pertemuan sederhana yang diharapkan dapat berlangsung meriah, hangat, dan meninggalkan kesan.

Bagi saya, undangan tersebut memiliki arti yang lebih dalam.

Saya merasa mendapatkan sebuah apresiasi.

Mengapa?

Karena sesungguhnya saya dan Bapak Tjiptadinata maupun Ibu Roselina tidaklah terlalu sering bertemu. Kami hanya beberapa kali berjumpa dalam kesempatan tertentu. Namun, ternyata hubungan yang dibangun melalui dunia literasi mampu menghadirkan rasa kedekatan yang tidak selalu diukur dari seberapa sering kita bertatap muka.

Dunia menulis memang unik.

Kita bisa mengenal seseorang melalui tulisan-tulisannya. Kita bisa memahami pemikirannya melalui kata-kata yang ia rangkai. Bahkan terkadang, sebuah tulisan mampu membuat kita merasa dekat dengan seseorang yang sebenarnya jarang kita jumpai.

Itulah salah satu keindahan menjadi bagian dari komunitas penulis.

Dari Tulisan Menjadi Persahabatan

Saya selalu percaya bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan buku atau artikel. Menulis juga tentang membangun jejak.

Tulisan dapat mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Tulisan dapat menjadi jembatan silaturahmi. Dan dari silaturahmi itulah, perlahan tumbuh persahabatan.

Bagi saya, undangan dari Bapak Tjiptadinata menjadi pengingat bahwa setiap karya yang kita tulis memiliki nilai, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Mungkin tulisan kita sederhana.

Mungkin pengalaman yang kita ceritakan terasa biasa saja.

Namun, ketika dituliskan dengan ketulusan, pengalaman itu dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

Saya pun merasa bersyukur pernah berada dalam perjalanan literasi yang mempertemukan saya dengan banyak penulis, termasuk Bapak Tjiptadinata dan Ibu Roselina.

Saya belum tahu persis bagaimana bentuk acara launching buku beliau nanti. Saya juga masih penasaran buku mana yang akan beliau perkenalkan secara khusus.

Tetapi satu hal yang sudah saya rasakan sejak menerima undangan pagi itu adalah kehangatan sebuah apresiasi.

Bukan karena sebuah undangan mewah.

Bukan pula karena tempat pertemuannya.

Tetapi karena ada niat untuk berkumpul, saling menyapa, berbagi cerita, menikmati kebersamaan, dan merayakan sebuah karya.

Bagi seorang penulis, mungkin tidak ada hadiah yang lebih indah selain ketika karya kita dihargai dan keberadaan kita masih diingat oleh sesama penulis.

Semoga pertemuan pada 10 Oktober nanti menjadi silaturahmi yang membawa kebahagiaan, mempererat persahabatan, dan tentu saja memberikan energi baru untuk terus menulis.

Karena pada akhirnya, menulis bukan hanya meninggalkan kata-kata di atas kertas. Menulis adalah meninggalkan jejak di hati orang lain.

 

Jonggol, 3 Oktober 2026
Nani Kusmiyati

Dosen, Penulis, motivator

 

Tinggalkan Balasan