Refleksi Kuliah Subuh

Terbaru9 Dilihat

Kemuliaan Adab dan Cara Mendekatkan Diri kepada Sang Pencipta

❖   ❖   ❖

Suatu pagi pada agenda Kuliah Subuh Gabungan di Majelis Ta’lim Al-I’tishom yang diselenggarakan di Masjid Al-I’tishom, saya tiba agak terlambat. Keterlambatan tersebut memang kerap terjadi karena ada beberapa urusan domestik yang harus saya selesaikan terlebih dahulu di rumah sebelum berangkat.

Tak lama setelah saya duduk di barisan belakang, hadir seorang jemaah lain. Namun, ada pemandangan yang amat luar biasa: beliau langsung disapa ramah dan dipanggil oleh pihak pengurus untuk menempati posisi terdepan, duduk bersanding dengan para kiai dan tokoh masyarakat. Dalam hati, terlintas sebuah pertanyaan intuitif, “Apa yang membedakan saya dengan beliau? Mengapa beliau begitu diistimewakan hingga mendapat kehormatan duduk di garda depan bersama orang-orang mulia?”

Rasa penasaran itu menuntun saya pada sebuah jawaban. Beliau ternyata merupakan salah satu tokoh kunci Dewan Masjid Indonesia (DMI) tingkat kelurahan. Tak heran bila hubungan beliau dengan para penyelenggara Kuliah Subuh Gabungan terjalin sangat erat. Namun lebih dari sekadar jabatan, saya merenungkan perjuangan nyata yang telah beliau dedikasikan. Beliau aktif memajukan masjid-masjid di tingkat kelurahan dengan menjadi jembatan fasilitasi bersama pemerintah daerah agar rumah ibadah mendapatkan bantuan dana operasional maupun pembangunan.

Tidak berhenti di situ, aktivitas beliau penuh dengan syiar dakwah melalui ceramah di berbagai wilayah. Beliau juga konsisten ber-soan—bersilaturahmi dan menimba ilmu—kepada para ulama, orang-orang saleh, serta guru ngaji. Beliau senantiasa mendahulukan adab dan memegang teguh prinsip bahwa menuntut ilmu adalah proses tanpa batas waktu.

Di masyarakat kita, ketika seseorang wafat, kita sering mendengar doa, “Semoga beliau berada di sisi-Nya.” Pertanyaannya, bagaimana kita yang masih hidup ini dapat benar-benar dekat dan berada di sisi Tuhan? Berkaca dari kisah di atas, salah satu langkah nyatanya adalah dengan rajin “soan” kepada Allah SWT.

Bentuk “soan” paling mendasar bagi seorang Muslim tentu adalah menunaikan salat lima waktu. Namun, jika salat fardu dipandang sebagai kewajiban rutin harian, mungkin Allah melihat kita sebatas hamba yang menggugurkan kewajiban. Jika kita ingin lebih dekat, perbanyaklah “soan” melalui salat-salat sunah—baik di waktu duha, rawatib, hingga tahajud di sepertiga malam. Dengan kesungguhan ibadah sebanyak itu, sungguh mustahil jika Allah tidak memanggil kita mendekat, meskipun secara fisik kita berada di barisan paling belakang.

Meski demikian, ada satu catatan penting: sebanyak apa pun ibadah dan “soan” yang kita lakukan, jangan pernah merasa menjadi orang yang paling dekat hingga tumbuh rasa sombong. Tetaplah merendah di hadapan Sang Pencipta, sembari menjaga semangat untuk terus mencari cara dan kesempatan agar bisa menyapa-Nya setiap saat.

N.hd

Tinggalkan Balasan