
Sumber gambar : antaranews.com
Selamat pagi sobat,
Kutipan tulisan tentang konsep Trisakti Bung Karno di bawah ini pernah saya sampaikan di akun Facebook saya tujuh tahun yang lalu atau tepatnya pada tanggal 28 Agustus 2014. Saya tidak ingat, tulisan tentang konsep Trisakti Bung Karno ini saya kutip dari sumber mana namun keinginan saya untuk mengangkat pemikiran Bung Karno tersebut di tulisan ini maka kutipan tulisan tentang konsep Trisakti Bung Karno inu, saya nyatakan saja diambil dari sebuah sumber.
Berikut ini kutipan dari konsep Trisakti Bung Karno :
***
Dalam pidatonya menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1964, Bung Karno mengambil judul “Tahun Vivere Pericoloso” sebuah istilah berasal dari Bahasa Italia, yang artinya kira-kira “Hidup dalam suasana penuh bahaya”, pidato ini mengungkapkan tiga paradigma besar yang bisa membangkitkan Indonesia menjadi bangsa yang besar baik secara politik maupun ekonomi.
Tiga paradigma tersebut yang dinamakan TRISAKTI.
Trisakti yang di maksudkan Bung Karno adalah, Pertama, “Berdaulat dalam politik”.
Pemikiran Bung Karno ini bukan lahir dari ruang hampa, Bung Karno telah lama melakukan analisa terhadap kondisi masyarakat Indonesia. Melalui kontemplasi disimpulkan bahwa penderitaan rakyat Indonesia disebabkan sistem menindas dan memeras kolonialisme dan imperialisme yang lahir dari rahim kapitalisme dan feodalisme bangsa sendiri.
Sebagai antithesis kolonialisme dan imperialisme Bung Karno menekankan “Nasionalisme”, nasionalisme yang hidup di taman sarinya internasionalisme, nasionalisme yang ingin mengangkat harkat dan derajat hidup manusia, nasionalisme yang berperikemanusiaan, tidak menginginkan terjadinya I’exploitation de nation par nation (penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lain), maupun I’exploitation de l’homme par I’homme (penindasan manusia terhadap manusia lain). Dengan demikian maka dapatlah dipahami bahwa watak dari Nasionalisme Indonesia bukanlah nasionalisme yang chauvinistik, melainkan nasionalisme yang berperikemanusiaan, nasionalisme yang menginginkan terwujudnya kesejahteraan bersama, atau Sosio-Nasionalisme.
Di atas negara bangsa merdeka itu dibangun demokrasi yang mengabdi kepada kepentingan Rakyat, bukan mengabdi kepada klas borjuasi dan kapitalis. Demokrasi bukanlah sekedar kebebasan, melainkan “tegaknya keberdayaan dan kedaulatan Rakyat”. Rakyatlah yang harus berdaulat, dan kedaulatan itu dipergunakan untuk melahirkan kesejahteraan rakyat, mendatangkan keadilan sosial. Demokrasi yang ingin ditegakkan adalah Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi.
Berdikari di Bidang Ekonomi, sebagai konsep kedua Tri Sakti (demokrasi ekonomi), tidak dapat dipisahkan dengan konsep pertama “Berdaulat di bidang Politik” (Demokrasi Politik). Melalui demokrasi ekonomi Bangsa Indonesia anti terhadap kolonialisme dan imperialism, berarti secara implisit anti terhadap kapitalisme yang melahirkan eksploitasi terhadap manusia (imperialism).
Kapitalisme dalam pandangan Bung Karno adalah sistem pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dengan alat produksi.
Kapitalisme timbul dari cara produksi, yang menjadi sebab nilai lebih tidak jatuh ketangan kaum buruh, melainkan ketangan pengusaha. Kapitalisme meyebabkan akumulasi kapital, konsentrasi kapital, sentralisasi kapital, dan industrieel reserve-armee (barisan penganggur).
Kapitalisme mempunyai arah kepada verelendung (memelaratkan kaum buruh).
Bung Karno dalam Pledoinya “Indonesia Menggugat” dihadapan pemerintah Belanda 18 Agustus 1930 mengatakan, terjadi sekarang ini, fase imperialisme moderen lewat Kapitalisme sudah kita hadapi. Cengkraman kuku-kuku imperialisme dan bujuk rayu kaum imperialis sudah mulai kita rasakan. Sebagian besar dari bangsa ini menikmatinya sebagai upaya untuk menumpuk kekayaan dengan cara menjadi boneka kaum imperialis, dan sebagiannya lagi merasakan ketertindasan. Oleh karena itu, Bung Karno menekankan bahwa bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri dalam mengatur perekonomian demi kesejahteraan rakyat.
Ketiga, berkepribadian dalam kebudayaan. Aspek budaya bagi Bung Karno sama pentingnya dengan aspek lainnya. Bangsa Indonesia harus menghormati budaya warisan nenek moyang dan menghargai nilai – nilai luhur kebudayaan di masyaraskat.
Karakter dan kepribadiaan budaya Nusantara haruslah di jaga dan dilestarikan. Misalnya budaya gotong royong yang melambangkan kolektifitas sebuah komunitas yang guyub dan berbagai karya budaya yang mewarnai dunia seni. Indonesia memiliki kekayaan budaya seperti budaya Jawa yang kaya akan nilai luhur. Misalnya di katakan bahwa masyarakat Jawa sangat menghargai aturan yang formal.
Etika dan aturan yang lahir dari keputusan formal pasti akan dilegitimasi secara kolektif oleh masyarakat. Kandungan budaya seperti ini sangat bagus dalam memperkuat demokrasi karena proses demokratisasi pada beberapa sisi mengandung etika dan nilai – nilai yang formal. Ini membuktikan keyakinan Bung Karno bahwa budaya kita adalah budaya yang luhur dan mendukung kepribadian bangsa Indonesia.
Menurut Bung Karno “Nation Building dan Character Building” harus diteruskan sehebat-hebatnya demi menunjang kedaulatan politik kita.”
***
Yang patut dicermati adalah apakah konsep Trisakti Bung Karno yakni Berdaulat dalam politik, Berdikari di Bidang Ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan sudah diimplementasikan di era sekarang ini ?
Bila dilihat dari realitanya Trisakti Bung Karno belumlah sepenuhnya diterapkan dalam kehidupan politik, ekonomi maupun berkepribadian dalam kebudayaan di era sekarang ini.
Dalam kaitan dengan Berdaulat dalam politik, sebagai salah satu contoh bisa dilihat bahwa masih perlu waktu menjadikan Partai Politik sebagai kekuatan politik yang mampu meningkatkan partisipasi politik rakyat dalam arti masih cukup banyaknya rakyat yang tak paham bahkan tak peduli dengan politik. Salah satu contohnya, sikap apatis rakyat terhadap Pemilihan Umum khususnya Pemilihan Legislatif. Bisa jadi ketidaktahuan dari rakyat atau ketidakpedulian rakyat dari makna adanya Pemilihan Umum. Ketidakpeduluan bisa jadi karena ketidakpercayaan rakyat terhadap Partai Politik yang memajukan kader kadernya sebagai wakil rakyat.
Adanya sikap pesimis rakyat terhadap kerja dari para wakilnya yang duduk di lembaga legislatif menunjukkan bahwa Partai Politik masih harus menata dirinya untuk menjadi sebuah Partai Politik yang melahirkan kader kader terutama yang dipercaya duduk di lembaga legislatif mendapat “trust” atau kepercayaan dari rakyat.
Kemudian dalam kaitan Berdikari di Bidang Ekonomi masih jauh untuk bisa diterapkan di waktu sekarang ini. Salah satu contohnya adalah ketergantungan ekonomi dalam soal import pangan yang masih terus saja terjadi.
Swasembada pangan yang bertujuan untuk mensejahterakan petani masih belum mampu diwujudkan bahkan kerap direcoki dengan masuknya pangan import di saat panen sehinggah berakibat harga pangan hasil panen menjadi anjlok dan petani pun menjadi babak belur.
Dalam kaitan berkepribadian dalam kebudayaan, Bung Karno menginginkan adalah kebudayaan yang merupakan warisan dari para leluhur bangsa Indonesia. Kebudayaan tradisional yang mengandung nilai-nilai, pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, dan adat istiadat.
Kebudayaan tidak melulu soal kesenian, karena kebudayaan bisa berarti sebuah perilaku masyarakat maupun hasil dari kehidupan bermasyarakat.
Dari semua unsur kebudayaan di atas, bermuara pada satu budaya, yaitu gotong-gotong. Ya, kebudayaan khas bangsa Indonesia adalah budaya gotong royong. Gotong-royong telah menjadi budaya bangsa sejak zaman nenek moyang kita.
Budaya gotong rotong inilah yang harus terus menerus ditumbuhkan dalam masyarakat. Di dalam gotong royong tidak boleh ada lagi sekat sekat kelompok, seperti yang sudah terlihat sekarang ini, ada kelompok yang disebut Kadrun dan ada lagi kelompok yang disebut Cebong. Situasi seperti inilah yang bakal meniadakan makna gotong royong yang sebenarnya.
Konsep Trisakti Bung Karno ini hendaknya jangan cuma sekedar dijadikan jargon jargon politik saja dan digunakan untuk menarik simpati rakyat. Namun hendaknya dapat diimplementasikanlah dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Semoga ..
Sobat, saatnya saya undur diri ..
Selamat beraktivitas ..
Salam sehat ..
NH
Depok, 29 Agustus 2021






