Pernah membaca cerita rakyat Cinderella (Cendrillon) dengan sepatu kaca karya penulis Perancis Charles Perrault tahun 1697? Ternyata ada ribuan versi di seluruh dunia. Konon akar tertuanya berasal dari Mesir Kuno (kisah Rhodopis, abad ke-1 SM) dan Tiongkok kisah Yeh-Shen, tahun 850-an. Isi ceritanya senada. Mengisahkan seorang gadis yang tertindas oleh ibu tiri dan saudara tirinya. Akhir cerita berujung keadilan.
Versi Paling Awal Kisah Rhodopis, dari Mesir. Seorang budak Yunani di Mesir yang sandalnya diambil elang dan dijatuhkan di pangkuan Firaun. Versi Tiongkok kisah Yeh-Shen tentang gadis yang dibantu ikan mas. Tahun 1812 Grimm bersaudara Jacob dan Wilhelm Grimm dari Jerman menulis Aschenputtel .
Seorang anak diperlakukan buruk oleh ibu tiri dan saudara tirinya. Namun tidak membalas dengan kebencian. Ia tetap bekerja, sabar, dan menjaga sikap. Hikmah yang dapat dipetik bukan bahwa seseorang harus pasrah ditindas, melainkan bahwa karakter baik adalah kekuatan jangka panjang. Orang yang jujur, disiplin, dan rendah hati sering membangun kepercayaan yang lebih kuat dibanding mereka yang hanya mengandalkan kekuasaan atau pencitraan.
Cinderella tetap melayani meski harus menahan hinaan. Menjadi Pelayan di rumahnya sendiri hidup dalam lingkungan yang memandangnya rendah. Meski demikian nilai dirinya tidak berubah. Hal ini mengingatkan bahwa keadaan sulit tidak menentukan harga diri seseorang.
Banyak orang diukur dari status ekonomi, jabatan, penampilan, atau jumlah pengikut media sosial. Cerita ini mengingatkan bahwa keadaan sulit tidak menentukan harga diri seseorang.
Peri ibu baptis Cinderella melambangkan dukungan sosial. Kadang seseorang maju karena bukan hanya usaha sendiri. Ada guru, sahabat, mentor, keluarga, atau komunitas yang menolong. Jejaring sosial, komunitas profesional, dan mentor memiliki peran besar dalam perkembangan seseorang.
Karena itu: jangan malu menerima bantuan, dan jangan lupa menjadi penolong bagi orang lain.
Cinderella bukan sekadar kisah tentang sepatu kaca dan pangeran. Di balik cerita sederhana itu, tersimpan refleksi tentang ketabahan, harga diri, harapan, serta perubahan hidup melalui karakter dan kesempatan. Karena itulah kisah ini tetap hidup hingga dunia modern. Tetap relevan karena sebenarnya berbicara tentang harapan manusia: bahwa keadaan sulit bukan akhir cerita, dan bahwa karakter baik, keberanian, serta kesempatan dapat mengubah hidup seseorang.
Kisah-kisah itu dapat diterapkan dalam banyak aspek kehidupan:
Pendidikan: anak diajarkan untuk tetap percaya diri meski berasal dan memiliki keterbatasan. Dalam karier: ketekunan dan reputasi baik dapat mengubah masa depan. Di lingkungan keluarga: jangan membandingkan atau merendahkan anggota keluarga sendiri. Lewat media sosial: jangan menilai hidup orang hanya dari tampilan luar.
Soal kepemimpinan: pemimpin yang baik melihat potensi, bukan hanya status.
Karena perubahan hidup tidak datang lewat “keajaiban” semata, melainkan lewat usaha, pendidikan, relasi yang sehat, dan keberanian mendayagunakan peluang. Namun ada satu hal yang perlu diingat: kebaikan hati tak akan sia-sia, ia tetap kekal abadi.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)


