Seringkali hal satu ini terabaikan: emosi yang diumbar. Emosi bersifat bersifat sementara, tetapi keputusan yang lahir darinya dampaknya bisa berkepanjangan.
Kata bijak mengatakan:
“jangan berjanji ketika sedang bahagia, jangan menjawab saat marah, jangan memutuskan saat bersedih”… Emosi itu sementara tetapi konsekuensinya panjang, bertahan lama.u
Saat seseorang terlalu bahagia
Ini rawan janji berlebihan.
Saat seseorang sedang berbunga-bunga hatinya ia cenderung optimistis tanpa batas. Janji mudah terucap melampaui kemampuan nyata. Akibatnya, janji yang dibuat saat “puncak emosi positif” berisiko menjadi beban di kemudian hari. Kebahagiaan bisa membuat seseorang lupa mengukur realitas.
Demikian juga marah itu respons tanpa kendali.
Kemarahan mempersempit perspektif. Kata-kata yang keluar sering bersifat reaktif, bukan reflektif melahirkan tindakan impuldif. Sekali terucap, dampaknya bisa mencederai hubungan yang telah dibangun lama. Diam sejenak dalam marah bukan kelemahan, melainkan bentuk pengendalian diri.
Ketika sedih penuh sendu: keputusan bisa negatif.
Kesedihan sering membuat seseorang melihat dunia secara suram. Keputusan yang diambil dalam kondisi ini cenderung defensif, pesimistis, bahkan menyerah. Padahal, situasi bisa berbeda ketika emosi sudah stabil.
Emosi bisa datang dan pergi, tetapi konsekuensi menetap. Banyak penyesalan dalam hidup berakar pada keputusan sesaat yang diambil ketika emosi memuncak.
Refleksi lebih dalam
Kutipan ini bukan mengajak kita menolak emosi—emosi adalah bagian alami manusia. Namun, ia mengingatkan agar tidak menjadikan emosi sebagai “pengemudi utama” dalam mengambil keputusan penting. Emosi sebaiknya menjadi sinyal, bukan penentu arah.
Penutup
Kebijaksanaan hidup sering kali bukan tentang membuat keputusan hebat, tetapi tentang menunda keputusan sampai emosi mereda. Dalam jeda itulah akal sehat mendapat ruang untuk bekerja, dan kita terhindar dari konsekuensi yang tak perlu.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)




