TERLAMBAT BUKAN BERARTI TERTINGGAL, BUKAN SEMUA YANG CEPAT SAMPAI

Terbaru35 Dilihat

Hidup bukan lomba mencapai garis finish yang sama. Ada yang berhasil di usia muda, ada yang menemukan panggilan hidupnya di usia matang. Apa yang tampak sebagai keterlambatan sering kali hanyalah proses yang belum selesai.

Sering kali seseorang merasa “tertinggal” karena sering membandingkan dirinya dengan orang lain, teman yang sudah lebih dulu sukses, rekan yang kariernya melesat, atau orang-orang yang tampak sudah “sampai” di tujuan.

Lauren Sanchez Bezos seorang
jurnalis, penyiar berita, pilot helikopter berlisensi, dan pengusaha asal Amerika Serikat yang dikenal luas sebagai istri pendiri Amazon, Jeff Bezos, mengatakan: “anda bukan tertinggal, melainkan berada di jalur yang belum dilihat orang lain.

Ucapannya itu mengajak mengubah perspektif: mungkin seseorang bukanlah yang terlambat, melainkan ia sedang menempuh jalan yang berbeda, jalan yang belum banyak dilalui, bahkan belum dipahami oleh orang lain.

Ibarat akar pohon bambu yang menyusup diam di kedalaman tanah dalam waktu cukup lama, perjalanan yang “tidak terlihat” itu justru menjadi fondasi kekuatan di masa depan. Orang lain mungkin tidak meliriknya, tetapi itu tidak berarti tidak berharga. Proses panjang yang tak diperhitungkan sering kali justru paling menentukan.

Ketika seseorang berani memilih jalur yang tidak umum yang bahkan diabaikan orang lain entah dalam karier, pelayanan, atau pilihan hidup, ia sering merasa tertinggal dalam kesendirian . Kutipan ini memberi penguatan: ketertinggalan itu bukan tanda kesalahan, tetapi tanda bahwa kita sedang merintis sesuatu. Bisa jadi itu jalan baru yang memang sering terasa sepi.

Dari mana muncul perasaan tertinggal. Ia sering muncul dari kebiasaan membandingkan-bandingkan. Padahal, fokus pada perjalanan sendiri akan membuat lebih tenang dan konsisten menapaki jalan yang ditempuh. Karenanya kurangi perbandingan, perkuat dan tingkatkan kesadaran diri.

Hayatkanlah bukan semua yang lambat itu tertinggal, dan bukan semua yang cepat itu sampai. Terkadang, yang terpenting bukan seberapa cepat melangkahkan kami berjalan, tetapi apakah berjalan di jalur yang teat, meskipun belum banyak orang yang bisa melihatnya.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

 

Tinggalkan Balasan