Tanggal 16 Juni 2026 ini atau 1 Muharram 1448 Hijriah. Bagi umat Islam pertanda dimulainya Tahun Baru Islam. Pemerintah menetapkannya sebagai hari libur. Tetapi bagi masyarakat Jawa seperti di Yogyakarta punya makna tersendiri.
Satu Muharram bagi masyarakat Jawa dikenal sebagai 1 Suro. Pada malam 1 Suro ada tradisi ritual Kirab Pusaka dan Tapa Bisu.
Kirab Pusaka adalah tradisi arak-arakan atau pawai benda-benda pusaka dan sakral. Kirab ini bukanlah sekadar arak-arakan biasa, melainkan simbol perenungan diri, introspeksi atas kesalahan masa lalu, dan ungkapan syukur serta doa memohon keselamatan untuk tahun yang baru.
Sedangkan Tapa Bisu atau Mubeng Beteng dengan Lampah Tapa Bisu, merupakan ritual membisu sambil berjalan kaki mengelilingi benteng keraton tanpa alas kaki.Tradisi ini melekat kuat dalam budaya masyarakat Jawa sebagai bentuk introspeksi diri, pengendalian hawa nafsu, dan permohonan keselamatan di tahun yang baru.
Dilakukannya tradisi Mubeng Beteng dengan Lampah Tapa Bisu tercatat dalam sejarahnya diprakarsai oleh Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam, bersamaan dengan penciptaan penanggalan Jawa.
Pada zaman dahulu, ritual ini murni dilakukan oleh para prajurit Keraton yang sedang berpatroli mengamankan lingkungan keraton sambil bermunajat.
Seiring waktu, tugas pengamanan tersebut diambil alih oleh masyarakat dan Abdi Dalem. Ritual inipun berubah menjadi bentuk tirakat sunyi untuk memusatkan batin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Makna mendalam tradisi ini adalah: – Pengendalian Ego. Berjalan tanpa bicara melambangkan upaya manusia mengistirahatkan ego, amarah, dan ambisi yang seringkali tertutupi oleh kebisingan duniawi. Membisu bukan sekadar tidak berbicara secara lahiriah, tetapi juga menenangkan pikiran (batin) agar lebih peka terhadap suara alam dan petunjuk Tuhan. Itu merupakan keheningan jiwa.
Adapun berjalan tanpa alas kaki (nyeker) adalah simbol kesederhanaan dalam wujud kerendahan hati dan kepasrahan manusia kepada Sang Pencipta.
Mubeng Beteng dengan Lampah Tapa Bisu dilakukan peserta dimulai dari kompleks Keraton (seperti Kamandungan Lor di Yogyakarta) lalu menyusuri rute mengelilingi dinding benteng keraton. Sepanjang perjalanan, peserta dilarang keras berbicara, makan, minum, dan harus berjalan tanpa alas kaki.
Perayaan Malam 1 Suro dalam masyarakat Jawa kaya akan simbolisme batin, di mana setiap wilayah mengekspresikannya dengan cara yang unik. Simbol-simbol yang terkait dengan Malam 1 Suro diantaranya:
Bubur Merah Putih (Jenang Sengkolo): Simbol kesucian, kelahiran manusia, dan keseimbangan hidup. Bubur merah melambangkan indung telur (ibu) dan bubur putih melambangkan sperma (ayah), sekaligus pengingat asal-usul manusia dan doa penolak bala.
Jenang Suran (Jenang Panggul): ini kuliner khas tahlilan Suro simbol setiap individu harus memikul beban tanggung jawab hidupnya sendiri di hadapan Tuhan.
Gunungan Kebersamaan & Hasil Bumi: Melambangkan rasa syukur yang melimpah kepada Sang Pencipta serta pengingat agar manusia selalu hidup selaras dengan alam sekitar.
Sesaji dan Dupa/Kemenyan: Bukan untuk menyembah berhala, melainkan simbol penghantaran doa yang harum menuju Tuhan serta bentuk penghormatan spiritual terhadap arwah para leluhur. [,
Air Bunga Setaman: Air bercampur bunga mawar, melati, dan kenanga yang digunakan untuk membasuh diri atau pusaka. Ini adalah simbol pembersihan diri (ruwatan) dari sifat buruk dan dosa di tahun lalu.
Namun tradisi 1 Suro yang dilakukan Kraton Yogya, sedikit berbeda dengan di Surakarta
meskipun kedua keraton pecahan Mataram Islam ini sama-sama menggelar laku prihatin membisu, terdapat perbedaan mencolok pada esensi pengiring dan tata caranya. Di daerah lain pun seperti Ponorogo disebut Grebeg Suro. Keraton Kanoman dan Kasepuhan menggelar acara pembacaan Babad Cirebon dan pencucian benda pusaka. Di Magetan terdapat tradisi Ledug Suro yang diwarnai dengan upacara Andum Berkah Bolu Rahayu (pembagian kue bolu). Di Sukabumi tradisi Ngadulang ditandai dengan perlombaan menabuh bedug.
Malam Satu Sura bukan sekadar pergantian kalender. Merupakan kesempatan untuk menata hati, merenungi perjalanan hidup, dan memperkuat hubungan dengan Tuhan. Suatu bentuk melestarikan kearifan lokal yang sarat akan nilai spiritual, refleksi diri, dan rasa syukur. Itu Nguri-uri budaya atau melestarikan budaya, cara menjaga akar sejarah. Dari tradisi, belajar tentang kesabaran, kedekatan pada Sang Pencipta, dan pengendalian diri.
Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)


