MENANGKAL LAPAR DENGAN BUAH LONTAR

Terbaru21 Dilihat

Tiga hari melakukan kunjungan ke beberapa desa di wilayah kabupaten Kupang-Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan pengalaman tak terlupakan. Cuaca saat itu panas, sinar matahari serasa mengigit kulit. Memang antara bulan April-Oktober merupakan musim kemarau panjang.

Dalam perjalanan yang cukup menguras tenaga untuk memeriksa kondisi penampung air hujan (rain water collector) yang dibangun untuk menadah air hujan, “kampung tengah” mulai menjerit. Irama keroncongan dalam perut mulai mengalun. Namun tak ada bahan makanan untuk meredakannya. Satu-satunya bahan makanan yang dapat dimanfaatkan adalah buah lontar yang pohonnya banyak tumbuh di wilayah kering itu. Maka sepanjang hari itu buah lontarlah pengisi perut, penangkal lapar.

Pohon lontar atau siwalan orang Jawa Timur menyebutnya, merupakan jenis palma yang tumbuh baik di daerah beriklim kering dan panas, sehingga sering disebut sebagai “pohon kehidupan” bagi masyarakat di daerah tandus. Kata “lontar” bahkan menjadi identik dengan naskah kuno di beberapa daerah.

Di beberapa daerah Indonesia, terutama di Nusa Tenggara, pohon lontar bukan sekadar tanaman, tetapi bagian dari identitas budaya. Kehidupan masyarakat tradisional banyak bergantung pada hasil pohon ini, mulai dari makanan, minuman, hingga bahan bangunan. Karena hampir seluruh bagian pohon dapat dimanfaatkan seperti halnya pohon kelapa. Karenanya, lontar sering dijuluki “pohon seribu guna”.

Pohon Lontar ini kaya manfaat
bisa sebagai sumber minuman, bunga lontar menghasilkan nira yang dapat diminum segar sebagai minuman alami. Nira ini dapat diolah menjadi gula merah, gula semut, atau sirup.
Buah lontar muda memiliki daging buah bening yang bertekstur lembut dan menyegarkan, dapat juga diolah menjadi berbagai makanan tradisional. Daun dan tulang daun dijadikan kerajinan tangan seperti tikar, topi, kipas, tas, dan berbagai anyaman serta dan alat rumah tangga sederhana.

Secara filosofi lontar mengajarkan ketangguhan dan kebermanfaatan. Ia mampu tumbuh di tanah yang kering dan keras, namun tetap memberikan manfaat bagi banyak makhluk di sekitarnya. Oleh karena itu, lontar sering dijadikan simbol ketahanan, kesederhanaan, dan pengabdian bagi kehidupan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan