MENELUSUR JEJAK SEJARAH SEKOLAH

Terbaru26 Dilihat

Berangkat pagi-pagi
Kupakai seragam baru
Kupakai sepatu baru
Kupakai tas yang baru

Pergi ke sekolah
Hati riang gembira
Bertemu teman baru
Bertemu guru yang baru

Lirik lagu “Aku Senang Sekolah” ciptaan Om Sinung ini, mungkin melayangkan kenangan masa kecil ketika mau jadi murid baru masuk sekolah.

Nuansa ceria, riang gembira terpancar dari lirik lagu itu.Memang sekolah seharusnya jadi tempat menyenangkan.

Sekolah sejatinya tempat  penting membentuk karakter dan masa depan seseorang. Pendidikan  di sekolah  tidak hanya melengkapi pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, keterampilan, dan sikap, perilaku sepanjang perjalanan hidup.

Sejarahnya panjang. Berevolusi dari sistem mentoring pribadi di peradaban kuno menjadi sistem pendidikan massal yang terstruktur. Sekolah  berakar dari bahasa Latin skhole (waktu luang) di Yunani Kuno.

Pada zaman Yunani kuno, pendidikan awal difokuskan pada kaum elit atau bangsawan. Ditekankan pada filsafat dan retorika, serta pendidikan pribadi (mentor).

Di Abad ke 17 muncul Sekolah umum pertama  Boston Latin School (1635), Amerika Serikat.  Mengajarkan Calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Pada abad ke 19 di Prusia menjadi sistem sekolah modern untuk membentuk kepatuhan warga negaranya, hingga kini berfungsi mencerdaskan kehidupan bangsa. Sistem ini membawa ciri khas modern: pengelompokan umur, kurikulum standar, bel masuk, dan ujian.

Perkembangan sekolah di Indonesia dimulai pada masa penjajaham Portugis yang mendirikan seminari di Maluku pada tahun 1536, disusul VOC yang mendirikan sekolah untuk penyebaran agama di Ambon Dan Batavia pada tahun 1607. Sekolah masa kolinial didirikan terbatas untuk mencetak tenaga administrasi. Kemudian  pasca kemerdekasn pendidikan menjadi hak warga negara yang difokuskan untuk mencerdaskan bangsa sesuai UUD 1945.

Sekolah terus bertransformasi, dari pendekatan tradisional menuju pembelajaran yang lebih personal dan fleksibel di era modern.  Menjadi pusat pembelajaran aktif dengan teknologi, beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan era Revolusi Industri 4.0, tidak lagi hanya sekadar mendisiplinkan tetapi juga mengembangkan potensi individu.

Dibanding beberapa dekade lalu, kesempatan bersekolah kini jauh lebih terbuka. Di Indonesia perkembangannya menunjukkan kemajuan yang besar dari waktu ke waktu, namun juga tak lepas dari berbagai persoalan yang kompleks. Di satu sisi akses pendidikan semakin luas, teknologi semakin masuk ke ruang kelas, dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan meningkat. Tetapi di sisi lain masih terbentang kesenjangan mutu, persoalan karakter, hingga tantangan ekonomi dan sosial.

Diakui sekolah telah menjangkau banyak daerah, termasuk wilayah terpencil. Program wajib belajar dan bantuan pendidikan membantu lebih banyak anak memperoleh pendidikan formal. Namun ada sisi lain yang sering mencuat membawa perasaan miris  menerpa  nasib  para pendidiknya. Guru menghadapi banyak tantangan administrasi berlebihan, tekanan target kurikulum, perubahan kebijakan yang cepat,
tuntutan teknologi, kesejahteraan yang belum merata. Padahal kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas dan kesejahteraan  guru. Belum lagi beban kurikulum yang nampaknya banyak membenamkan waktu anak-anak dalam genangan tumpukan buku pelajaran memenuhi tas sekolah setiap hari. Pertanyaan sederhananya masih adakah ceria dalam dunia bermain dan belajar di sekolah bagi anak-anak?
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan