SAAT PERCAYA JADI HAL SULIT

Terbaru3 Dilihat

Kepercayaan itu pondasi utama dalam setiap hubungan. Hubungan romantis, persahabatan, maupun profesional. Tetapi ada kondisi seseorang kesulitan untuk percaya kepada orang lain. Ini memang bukan hal mudah.

Mungkin karena pernah disakiti, dibohongi, atau dikhianati sebelumnya. Luka  yang dulu pernah terjadi efeknya masih terbawa sampai saat ini. Setiap kali berhadapan dengan orang baru yang datang, otak otomatis pasang barikade “tembok pengaman”.

Rasa curiga, takut disakiti, atau sulit membuka diri melipuri diri.  “Trust issues” begitulah dinamakannya. Keadaan psikologis seseorang kesulitan mempercayai orang lain. Akibat pengalaman masa lalu membuat seseorang merasa dikhianati, ditolak, atau disakiti.

Trust issues” membuat seseorang cenderung curiga pada niat orang lain,
menghindari hubungan yang terlalu dekat, merasa cemas saat bergantung pada orang lain, bahkan berusaha mengontrol situasi demi menghindari rasa kecewa.

Penyebab munculnya bisa
trauma masa lalu, seperti pengkhianatan, kebohongan, atau kekerasan emosional/fisik.

Juga pola asuh di masa kecil, orang tua yang tidak konsisten  sering mengingkari janji, atau menelantarkan anak dapat membentuk pola ketidakpercayaan di masa dewasa.

Ada juga hubungan yang gagal.  Pengalaman dalam hubungan asmara dikhianati membuat seseorang sulit membuka hati kembali. Serta faktor kepribadian dan mental seperti halnya gangguan kecemasan, PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder) atau  gangguan Stres Pascatrauma.

Gangguan Stres Pascatrauma) yaitu gangguan kesehatan mental,  terjadi setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang sangat menakutkan, menegangkan (traumatis). Ditambah harga diri rendah yang juga bisa memperkuat trust issues.

Akibat Trust Issues beragam.
Dalam hubungan pribadi sulit membangun keintiman dan komunikasi yang sehat. Sedangkan. Dalam pekerjaan tidak mudah bekerja sama atau mempercayakan tanggung jawab kepada orang lain. Terkait diri sendiri muncul perasaan kesepian, cemas, dan mudah stres karena terus menerus merasa harus waspada.

Untuk mengatasi memang perlu upaya untuk menyadari
akar permasalahan. Untuk ini Refleksi diri penting guna memahami dari mana rasa tidak percaya itu berasal atau ada. Jika terkait Luka batin, tentu tidak bisa sembuh instan; proses ini memerlukan kesabaran. Perlu waktu dan ruang untuk penyembuhannya.

Juga penting mengungkapkan perasaan dan ketakutan dengan jujur pada orang yang dipercayai.

Memberi kesempatan baru untuk membuktikan lewat komunikasi yang lebih terbuka disamping pertimbangan terapi profesional. Psikolog dapat membantu mengidentifikasi pola pikir negatif dan melatih kepercayaan diri serta kepercayaan pada orang lain.

Sejatinbya trust issues bukanlah tanda kelemahan. Itu  reaksi alami dari pengalaman hidup yang menyakitkan. Penting disadari,  tidak semua orang atau situasi akan berakhir sama.
.
Keberanian, kesabaran, dan dukungan yang tepat, membuat kepercayaan dapat dipulihkan meski perlahan. Dari situlah hubungan yang sehat mulai terbentuk kembali.

Anda adalah apa yang Anda pikirkan tentang diri Anda.” Cogito Ergo Sum kata René Descartes. Aku berpikir maka aku ada.
(Abraham Raubun. B.S.c, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan